Saturday, August 26, 2006

Colosseum (16 Agustus 06)


Foto diambil ketika kami akan meninggalkan Colosseum di sore hari. Dinding Colosseum memantulkan warna keemasan, dengan latar langit yang biru, dan segumpal awan putih. Cantik sekali.

Aik agak cemberut karena kesal, terus menerus foto, sampe capek dia.

Spanish Steps (15 Agustus 06)


Tiba di Spanish Steps sudah malam, sehingga semua foto bernada sephia.

Dari Eindhoven ke Roma (15 Agustus 06)




Saturday, August 12, 2006

Agar Liburan Lebih Bermakna






"A traveler without observation is a bird without wings." — Moslih Eddin Saadi



Liburan kali ini berusaha aku maknai dengan lebih
baik. Aku memang doyan travelling karena travelling itu asyik walaupun
ngabisin duit hehe. Karena itu aku ingin mendapatkan banyak manfaat
dari kegiatan ini. Malah aku punya cita-cita membuat buku 'Family
Travel Tale' . Isinya tentang cerita berhikmah dari proses
travelling yang pernah aku lakukan. At least walaupun nggak ada
penerbit yang tertarik untuk publish dan nggak laku di pasaran
Indonesia, tapi buat kenang-kenangan keluargaku lah.




Kami berencana berlibur ke Roma, Venice dan Florence tanggal 15
Agustus nanti. Belakangan ini aku sibuk surving di internet, merangkum
tempat-tempat asyik yang wajib dikunjungi disana, cari hotel,
transportasi dan juga membuat jadwal kegiatan saat disana nanti. Aku
juga bela-belain beli beberapa buku traveling dalam bahasa Inggris dari
toko buku di Amsterdam, salah satunya "Travel Wise With
Children" karya Mary Rodgers Bundren.


Wah buku ini membuat aku semangat buat lari dan senam body language.
Lho koq bisa? Iya soalnya pengalaman waktu liburan ke Austria dan
Jerman tahun lalu, badanku gempor. Kami pergi dua minggu. Dan di akhir
perjalanan aku dan suamiku udah dieem aja males ngomong saking capeknya
hehe. Jadi stamina yang kuat sangat dibutuhkan, supaya saat liburan
betul-betul bisa dinikmati. Dari buku ini, supaya liburan lebih
bermakna bagi anak-anak, intinya orangtua harus mempersiapkan
masak-masak jauh-jauh hari, harus banyak cerita, dan kreatif. Nah mana
bisa itu semua dilakukan kalo badan capek nggak karuan.


Apa saja yang bisa kita persiapkan agar liburan lebih bermakna bagi
anak? Berikut ini daftar yang menurutku cukup realistis untuk aku
lakukan yang sesuai dengan umur anak-anakku. Karena kalau di buku itu,
daftarnya banyak banget dan banyak yang susah dilakukan untuk ukuran
aku yang pemalas hehe.


1. Persiapan :

Membuat kalender hitung mundur dua minggu sebelum berangkat. Jadi dua
minggu sebelum hari H kalender bisa diisi dengan kegiatan-kegiatan
sebagai berikut:

- Bikin buku jurnal liburan, tempeli dengan gambar-gambar tempat yang
akan dikunjungi. Gambar-gambar bisa didapatkan dari majalah-majalah
yang banyak tersedia di kios biro perjalanan atau ngeprint dari
internet.

- Cerita tentang tempat yang akan dikunjungi sebelum tidur. Misalnya,
karena akan pergi ke Italia, aku bercerita pada anak-anak tentang
Colosseum di Roma, Spanish Steps, Trevi Fountain, dan lain-lain. Buku
itu juga menyarankan agar orangtua menceritakan tentang orang-orang
terkenal yang lahir dari negara itu. Contohnya di dekat kota Florence
ada sebuah desa bernama Vinci, disana lah dulu Leonardo da Vinci lahir
dan disana pula berdiri museum Leonardo da Vinci. Tak jauh dari Vinci
ada desa Colodi, tempat Carlo Collodi, pengarang cerita Pinokio
dibesarkan. Disana ada Pinochio Park, yang menggambarkan cerita klasik
pinokio.

- Kalau mau pergi naik pesawat, ceritakan tentang pesawat, prinsip penerbangan dan sebangsanya.

- Anak-anak dilibatkan untuk ikut memikirkan barang-barang yang akan
dibawa dan suruh simulasi packing barang. Ini bisa untuk melatih
kemampuan mengorganisasi buat anak. Waktu aku coba ke anak-anakku, wah
mereka semangat banget, terutama Lala. Sekarang barang-barang mereka
sudah tersimpan rapi dalam koper siap diangkut.

- Buat rencana permainan yang akan dibuat selama di kereta api atau pesawat

- Membuat kreatifan. Kalau ini anak-anakku baru sempat bikin coloseum buatan, soalnya emaknya males.com hehe.

- Kenalin musik/dengerin musik setempat, makanan khas setempat

- Tunjukaan peta, kita mau kemana aja, mapping skils, jelaskan
skala-skala peta yang dipakai, cara pake peta. "Andai kamu bisa
terbang, apa yang akan kamu lakukan,"

- Ikut melibatkan anak-anak dalam tujuan, budget (sederhana), jarak tempuh, dan lain-lain.

- Kenalin tentang cuaca, ajarin pake kompas, misal kota apa yang paling utara, selatan.


2. Permainan selama di jalan, contoh:

- Kalau ketemu Mc Donald nyanyi 'Old Mc Donald had a farm iya iya o". Yang duluan nyanyi dapat sticker.

- Main kuartet, boneka

- Cerita masa kecil orangtua saat travelling

- Cerita berputar, bikin undiannya dulu di rumah. Dalam kertas undian
itu ditulis awal ceritanya aja. Nanti saat di jalan semua dapat giliran
melanjutkan cerita itu. Permainan ini jadi favorit kami, karena
akhirnya suka bikin ngakak, kadang-kadang juga bikin anak-anak mulutnya
nggak mau berhenti ceritaaa terus hehe.

- Tebak-tebakan tentang orang-orang terkenal yang sudah kita ceritakan sebelumnya.

- Permainan 'Sedang apa, sedang apa, sedang apa sekarang..."

- Melihat bentuk-bentuk awan, dan bikin cerita imajinasi dari
penampakan awan itu. Bisa juga dilanjut dengan penjelasan tentang
jenis-jenis awan, stratus, kumulus, sirus, awan gempa dan lain-lain.

- Tebak-tebakan soal transportasi, apa yang paling banyak dipakai
orang, bedanya apa, sekaligus belajar pake stopwach, jarak tempuh, dan
lain-lain.

- Bikin puisi apa aja bergilir, kasih sticker juga sebagai reward. Nanti kalau stickernya udah terkumpul dituker sama souvenir.


3. Saat perjalanan

- Buat Diary Perjalanan, bisa sekalian di buku jurnal.

Anak-anak boleh menulis, menggambar atau menempel sesuatu tentang yang
mereka lihat hari itu. Saat menulis diary (catatan untukku nih
sebetulnya), tuliskan info spesifik seperti warna, detail jarak (berapa
km), perasaan mereka, panas, dingin cuaca, reaksi anak-anak saat
melihat sesuatu, observasi, humor-humor yang keluar, dialog unik, dan
lain-lain.

- Kumpulin postcard sepasang-sepasang, nanti bisa buat dibikin permainan kartu memori.

- Kirim postcard ke rumah dari kota yang kita kunjungi, diisi cerita-cerita mereka.

- Dukung keinginan mereka untuk mengoleksi sesuatu, katanya ini bagus
untuk menumbuhkan kemampuan organisasi dan kreatifitas mereka, juga
untuk melekatkan ingatan mereka tentang travelling yang sudah mereka
lakukan. Malik katanya mau koleksi batu dan kayu. Waktu ke Berlin
beberapa bulan lalu, Aik nemu kayu panjang yang nggak boleh dibuang,
kami menamainya tongkat raja Frederick, karena tongkat itu dia temukan
di istana raja Frederick di Postdam. Kalo lala maunya koleksi kartu
pos.


4. Setelah pulang dari perjalanan


- Organisasikan koleksi-koleksi anak-anak, atau bisa dibuat memori
book, dibuat kreatifan, misal koleksi kerang, kerangnya dibuat kalung.

- Buat," 10 Alasan Utama pergi ke Neptunus," Jadi mereka suruh bikin
iklan, 10 alasan utama pergi ke tempat yang mereka tuju. Kalo ke
Neptunus misal, karena disana ga perlu kulkas. Ya pokoknya model-model
gitu deh.

- Beli peta, tempel di dinding, tempelin sticker tempat-tempat yang pernah dikunjungi.


5. Dan lain-lain tips nya masih banyak lagi, terutama buat anak yang
lebih besar, tapi kira-kira seperti itu. Mudah-mudahan setelah pulang
liburan aku bisa mulai menulis 'family travel tale' ku. Duh Tuhan,
toloong usir jauh-jauh kemalasan dalam diriku biar mimpi nggak
cuma tinggal mimpi.


Libur tlah tiba...libur tlah tiba...Hore! Hore! Hore!












Saturday, July 8, 2006

Parenting Blues (Part II)




"Mama boleh
deh kena parenting blues, tapi Ayah yakin itu nggak akan lama. Kita musti
contoh orangtua anak-anak pendiri Google ini Ma." Suamiku memulai
impiannya. "Duuh Ayah, orang lagi kena parenting blues malah dikasih
cerita soal parenting." Aku manyun.




"Wis
to...pokoknya Mama dengerin aja cerita Ayah, Ayah cuma mau cerita koq. Ini
cerita soal pendiri Google. Mereka itu masih muda Ma, seumuran ayah, namanya
Larry Page dan Sergery Brin. Sejak
kecil, kedua orangtua mereka (keduanya professor) mendidik mereka untuk
jago
berargumen. Mereka juga sama-sama jago matematika. Padahal mereka nggak
saling
kenal lho, mereka cuma tiba-tiba ketemu pas sama-sama ambil Phd. Tapi
typical
didikan orangtuanya sama. Anak-anaknya dibebaskan berpikir dan merdeka
dari dogma. Berargumen tentang apapun merupakan makanan mereka setiap
hari.







“Ayah lihat di
sini ada hal positif yang bisa kita ambil. Seringkali kita sebagai orang tua
merasa yang paling benar. Kita sudah berusaha untuk menghindari itu pun kadang
tanpa terasa kita masih melakukannya. Nah, kalau ingin anak-anak kita nantinya
menjadi independen, bisa mengembangkan potensi di dalam dirinya sendiri, tidak
mudah dibodohi orang, maka mereka harus dibiarkan berkembang tanpa bayangan
orang lain, terutama orang tua. Tugas kita adalah mendorong dan menciptakan
suasana agar mereka bisa bebas menceritakan pikiran dan perasaannya, walaupun
itu mungkin bertentangan sekali dengan tradisi dan agama. Kita ingin tahu,
sebenarnya apa yang ada di dalam diri mereka, bukan sebaliknya, kita memaksakan
pandangan kita kepada mereka.







“Hal prinsip
yang kita ajarkan kepada mereka itu sederhana: “Kenali rasa dan pikiran dalam
dirimu, dan ikuti ilham yang membawa kepada kebaikan. Ambil pilihan dan lakukan
sesuatu karena memang kamu memilihnya, bukan karena ayah bunda atau orang lain
menyuruhmu. Ini Ma yang prinsip. Selanjutnya kita bimbing mereka kepada jalan
yang bisa menemukan ilham kebenaran itu. Misalnya, melalui doa kepada Allah,
sholat, memikirkan ciptaan Allah, memikirkan perasaan orang lain, dan
lain-lain. Mereka kita motivasi untuk menyampaikan hasil-hasil temuan ‘inner
journey
’ (perjalanan ke dalam diri) mereka.”







"Hmm..."
gumamku cuek. Tapi sebetulnya aku mikir juga.







Selama ini
walaupun kami sudah berusaha, sepertinya tetap ada yang salah dari pola
pengasuhan kami. Kami mencoba untuk memberi alasan dari setiap tindakan, tapi
mungkin tanpa sadar kami membuat mereka jadi harus selalu nurut. Atau mungkin
memang begitulah karakter anak-anak kami, especially my daughter yang memang perfeksionis
itu, entahlah. Yang jelas bulan-bulan terakhir ini, kalau mau apa-apa Lala
selalu minta persetujuan dulu,"Boleh? Atau nggak boleh?" Dan akhirnya
adeknya ikut-ikutan. Padahal rasanya aku jarang melarang dia, kalaupun melarang
pasti ada alasan, atau sebetulnya bahasa tubuhku melarang kali ya hehe. My
daughter itu memang pinter kalo soal nangkep-nangkep bahasa tubuh dan sinyal
ketidakberesan.







“Jadi Ma, kalo
bisa nggak ada lagi istilah boleh dan tidak boleh buat anak kita ya. Tapi
mereka lebih baik mengungkapkan maunya dan ngasih alasannya. Mereka nggak harus
nurut apa kata kita. Kedua pemuda pendiri Google itu pokoknya hebat deh, mereka
mandiri sekali. Bahkan ketika pemberi modal mereka meminta harus ada CEO di
perusahaan mereka, mereka menolak dengan sangat. Mereka begitu karena mereka ‘keras kepala’
memegang prinsip. Padahal kan pemberi modal bisa
menarik modalnya kalau mereka nggak nurut. Akhirnya seorang CEO diterima, tapi itu pun setelah melalui proses yang
sangat panjang.”







“Lha ayah gimana
sih, kalo kayak gitu ntar kebablasan dong, kan tetep ada aturan yang musti
diikutin Yah. Tuh kalo Lala milih nggak mau sholat gitu gimana?”







“Iya..iya…
ngajarin aturan itu otomatis Ma, pelan-pelan lah, yang penting sekarang kita
biarkan dulu mereka berani mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Mama sendiri
yang dulu bilang, ngajarin sholat nggak boleh dengan paksaan, jangan dogmatis.
Kalo lagi nggak mau ya biarin dulu, kita yang musti cari cara lain.”







“Semua itu bisa
Yah kalo kondisi lagi normal, tapi seringnya kan enggak. Yang PMS lah, yang
capek lah, yang banyak kerjaan lah.” Aku pesimis.







“Jadi masalahnya bukan
pada anak-anak, tetapi pada diri kita sendiri kan. Positif Ma...positif!

Anak-anak disuruh positif thinking, bundanya gimana, ayo dong…Gimana kalo kita
rubah paradigma kita. Kalau mereka lagi rewel, anggap mereka itu calon presiden
atau calon pemimpin masa depan kayak si Larry dan Sergerry . Lihat tuh…tuh
calon presiden kita lagi mewek hehehe. ” Suamiku malah senyum-senyum memandang
Malik yang mulai rewel.








“Huaaa…pusiing…pusiiing
Yah! Kakehan (kebanyakan) teori! Kumaha Ayah wae lah…paling-paling
nggak tahan lama…” Pikiran negatifku masih
nempel terus di kepalaku.







Dan begitu
lah…aku masih ogah-ogahan soal parenting, tapi ternyata suamiku betul-betul
merealisasikan pikirannya. Setiap kali anak-anakku rewel, dia malah menciumi
mereka habis-habisan, menggelitiki perutnya sampai mereka cekikikan.
Betul-betul menganggap anak-anaknya calon penemu masa depan barangkali hehe.
Hih kalo aku sih mana tahan, capek. Paling-paling aku cuma manyun. Sesudah
mereka bisa tersenyum, suamiku lalu menyelipkan pesan-pesannya pada
mereka,”Lala dan Aik inget ya, Lala dan Aik boleh bilang apa aja, nggak usah
selalu ikut ayah bunda.” Kalau anak-anakku mulai bertanya lagi dengan ‘boleh’?
Suamiku langsung jawab,”Bukan boleh
atau tidak boleh, bilang mau apa, kenapa dan bagaimana?”







Mau nggak mau
aku jadi terpengaruh, sesekali aku ikuti jejak suamiku. Eh ternyata lumayan ngepek!
Pertanyaan boleh dan tidak boleh
lama-lama munculnya tak lagi sering. Waktu kami melihat tempat kemping
dan berniat akan kemping setelah liburan tiba, Lala mengeluh,”Ah..saai…(boring).”
Aku langsung protes,” Lala kan belum coba La.” Eh tiba-tiba Lala berani bilang,
”Bunda, setiap orang kan punya pilihan masing-masing. Lala kan nggak harus sama
dengan Bunda.” Nah lo! Padahal biasanya dia langsung nurut sama Bunda. “Hebat
La, bagus itu Lala berani bilang perasaan Lala,” suamiku langsung memujinya
habis-habisan.




***




Sejak itu aku beranjak bangkit, tapi masih jalan ditempat,
sebatas jadi pengikut setia suamiku. Aku ceritakan sharingnya mbak Me di milis
WRM kepada suamiku. Kalau anaknya lagi susah sholat, mbak Me akan bilang,”That’s
your life. I just want to help you because I love you
.” Mungkin kata-kata
ini bisa jadi mantra ajaib, suamiku pun mencobanya ke Lala. Kadang-kadang
ditambahi kata-kata,” Lala mau kan kita berkumpul lagi di surga nanti?”
Beberapa kali cara ini berhasil. Tapi belakangan dia sering bilang, “Oke Lala sholat karena disuruh sama Ayah dan
Allah, sebetulnya mbak Lala nggak mau.” Wah berarti bertentangan nih dengan niat semula yang hendak
memerdekakan pikiran dan perasaaannya. Pada dasarnya kami ingin membuat dia
sholat tapi dengan kemauannya sendiri, mengerti esensi sholat yaitu cinta kepada
Allah. Bukan karena kewajiban, ditakuti-takuti dengan neraka kalau
meninggalkan, tapi bukan pula dilepas begitu saja. Suamiku masih trial-error
mencari cara yang paling pas.






Tapi suatu kali
tiba-tiba Lala minta ikut sholat dan
menangis dalam sholatnya. Lala menangis karena sayang sama Allah katanya.
Wah suamiku langsung deh ngomporin aku. “Tuh Ma, liat…anaknya pinter gitu lho…Mama
jangan mengeneralisir persoalan Ma. Coba liat sisi positifnya anak kita, belum
tentu ada di anak lain, mereka nggak selamanya jelek kan Ma.







"Banding-bandingin
anak itu neraka dunia, don’t be to hard on yourself, jangan melulu
melihat kekurangan anak-anak, bukan cuma Mama yang suka merasakan blues-blues
itu, ibu-ibu lain juga. Temen-temen Mama tuh yang bilang, bener kan Ma yang
mereka bilang… ”







Ya betul sekali! Sebelumnya semua pesan-pesan itu sekedar
masuk telinga kanan keluar telinga kiri, nggak ada yang nyangkut ke hatiku.
Tapi seiring berjalannya waktu—ketika kepenatan telah pergi—pesan-pesan dari
suamiku, dari sahabat-sahabatku dan dari bacaan-bacaan yang tiba-tiba mampir ke
mataku itu, tiba-tiba muncul lagi dan menggelitiki hatiku. Apalagi saat melihat
Lala yang mendadak mau cuci piring tanpa disuruh, pinter cari solusi buat
adeknya yang nangis, dan dapat nilai A semua saat bagi raport. Aah…rupanya
dunia memang berputar. Tak selamanya tingkah anakku membuat kepalaku pening.
Mereka bukan boneka yang cuma diam. Mereka sedang belajar. Mereka cuma sesekali
berulah, boleh kan? Wong orang dewasa aja kadang-kadang butuh berhenti sejenak
koq. Hari ini mereka menangis, besok mereka tertawa. Hari ini mereka malas
besok mungkin mereka rajin. Barangkali my daughter memang tergolong cuek
dibandingkan anak lain, tapi sesekali dia masih mau koq bantuin orang lain.







Parenting
blues-ku ini rasanya memang belum pulih
benar. Tapi kehadirannya ternyata memberi banyak arti. Aku malah mensyukurinya
kini. Bukankah sesekali manusia memang harus jatuh, supaya dia tahu caranya
berdiri lagi? Sebetulnya apa obatnya ya? Ah ternyata obat itu datang sendiri.
Tak apa menangis, tak apa mengeluh, tak apa sesekali merasa tak berguna,
semua ibu pasti pernah merasakannya.
Keluarkan saja, toh tak akan berlangsung seterusnya. Kata hati yang akan
bicara, ya ternyata itu kuncinya, ikuti kata hati! Doa-doa kita, usaha-usaha
kita menjadi seorang ibu mestinya tak ada yang sia-sia. Pertolongan selalu
datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Sesudah kesulitan tentu ada
kemudahan, itu janji Allah kan. Suami, sahabat, bacaan-bacaan ringan yang tak
sengaja hadir, mereka kadang menjadi peri-peri penolong yang dikirimNya.
Perjuanganku memang masih panjang. Barangkali aku masih harus melewati banyak
parenting blues lainnya. Tapi aku yakin setiap ‘blues-blues’ itu adalah
rangkaian proses yang memang harus aku lewati. Karena didalam proses itu
mestinya terdapat pesan-pesan yang bisa membantuku menjadi orangtua yang sesuai
dengan kehendakNya. Bukankah itu yang selalu kuminta?












Friday, June 23, 2006

Parenting Blues (Part I)


"Yah, aku lagi kena Parenting Blues nih Yah!"
Mendengarnya suamiku langsung mengernyitkan dahi lalu melebarkan
senyumnya. "Sekarang penyakit Mama keren-keren ya, canggih-canggih
banget, modern banget hehehe. Sekarang parenting blues. Rasanya
seminggu yang lalu baru ngeluh kena writing blues deh, sebelumnya lagi
baru kena cooking blues, baking blues. He he he...hebat tenan!" Suamiku
ngeledek.


Lha koq malah ngeledek. Bener lho, tenan, sueer... aku ini kayaknya
lagi kena Syndrom Parenting Blues. Memang sih nama penyakitnya aku
karang-karang sendiri, tapi maksudnya kalau yang ada blues-blues nya
kan asosiasinya ke arah penyakit depresi alias yang negatif-negatif
terhadap sesuatu gitu. Soo..boleh kan aku bikin nama penyakit baru buat
diriku sendiri hehe.


Soalnya aku tuh lagi malees banget berurusan sama yang namanya
pengasuhan. Baca-baca buku parenting bukannya malah bikin semangat
malah bikin aku down. Baca artikel-artikel parenting malees banget.
Yang ada aku malah bacain berita-berita dan gosip artis. Duh parah! Lho
itu mah biasa atuh, nggak pake acara kena parenting blues juga,
emak-emak dimana-mana senengnya pan memang baca gosip hehe.


Iya, tapi selain itu aku juga lagi nggak mood banget mengasuh
anak-anak dengan baik yang sesuai teori-teori gitu. Yaa..mengalir
begitu aja, malah cenderung ignore kalau inget peer ku sama anak-anak
yang bejibun. Kalau lagi kesel akhirnya aku diem aja sama anak-anak.
Lebih baik begitu deh daripada aku marah-marah dan mengeluarkan kata-kata
aneh ke anak-anakku.


Hmm...penyebabnya apa ya? Wah penyebabnya banyak, sibuk bikin kue pesenan mungkin salah satunya hehe. Tapi yang
jelas puncak-puncaknya beberapa hari lalu. Saat itu air mataku sampai
bercucuran. Aku sampai meratap sama Allah,"Ya Allah, susah bangeet sih
jadi orangtua. Padahal sejak anakku lahir, aku tuh udah berusaha banget
ya Allah. Berusahaa banget buat jadi orangtua yang baik. Aku lahap
buku-buku dan majalah parenting. Aku ikutin seminar-seminar terbaru.
Aku coba terapkan semuanya ke anak-anakku, walaupun tentu aja nggak
sempurna, banyak trial error dan mungkin lebih banyak errornya. Tapi
koq kayak gini ya hasilnya. Koq rasanya semua
percuma....hiks...hiks...hiks..." Begitu ratapanku.


Memangnya ada apa sih sampe segitunya? Ya begitu lah, aku sadar
banget koq bahwa anak-anakku itu berbeda, nggak bisa disamain sama
orang lain, unik. Aku juga tahu bahwa my daughter itu banyak berbedanya
sama anak seusianya. Mungkin karena dia gifted dengan disinkroni tea,
atau apa? Ah nggak ngerti, aku juga belum tau pasti. Yang jelas, aku
tahu bahwa dia berbeda. Yaa...kalau dalam kondisi normal sih, aku bisa
banget memahami dia. Tapi nggak mungkin kan aku selalu dalam kondisi
mood. Nah karena aku sedang mengalami parenting blues, lalu dilanjutkan
dengan ulah anakku yang bikin ngilu, akhirnya duoor! Meledaklah tangis
dan ratapan itu.


Ceritanya, waktu itu aku sama kedua anakku dan teman anakku baru
pulang dari belanja. Belanjaanku banyaak banget dan aku harus
membawanya naik ke rumahku yang berada di lantai dua. Tanpa diminta,
temen anakku itu langsung membantuku membawa barang-barang belanjaanku
ke atas dengan riang pula. Sedangkan my daughter? Oh no! Ia hanya
melenggang kangkung saja membawa tas dan jacketnya! Duh Allah...
ngiluuuu... rasanya hatiku! Hancur semua rasanya. Percuma aku selama
ini menerapkan teori-teori pengasuhan yang kubaca, ternyata nggak
ngepek! Hiks. Belum lagi kalau inget kejadian-kejadian lain yang
menunjukkan betapa cueknya my daughter, Oh!


Padahal aku tahu banget, orangtua temen anakku itu tipe yang nggak
neko-neko. Mereka mengasuh anak ya seperti pola pengasuhan orang tua
masa lalu. Pola pengasuhan yang aku dan suamiku berusaha hindari. Tapi
mengapa didikan yang seperti itu malah bisa menghasilkan anak yang tau
menempatkan diri dan punya empati? Sedangkan anakku? Hiks..hiks... Oke!
Kalau begitu, percuma aku ngikutin teori! Yang ada aku cuma capek dan
capeeek...sedangkan hasilnya? niks! Hu...hu...hu...Aku mutung!


Bukan cuma itu yang bikin ngilu. Waktu diajak sholat malam
sebelumnya, my daughter bilang gini sama ayahnya,"Ayah boleh kan aku
bilang keinginanku? Aku nggak suka sholat. Aku nggak mau sholat!"
Huaaa! Geger gonjang-ganjing! Hatiku semakin teriris rasanya. "Ya
Allah...aku capek! Aku berhenti! Aku prustasi! Aku mau sekolah aja ya
Allah! Aku nggak mau pusing sama semua ini ya Allaah! HEELP ME...."
ratapku lagi.


Untungnya, dalam kondisi seperti itu, selalu saja ada yang menarikku
untuk kembali ke dalam diri, mengambil sajadah dan menumpahkan semua
kepadaNya. "Engkau sangat dekat kan Allah, sedekat urat nadiku kan
Allah. Peluk aku, sirami aku dengan kesejukan itu Allah ku. Tolong
aku... Aku tak sanggup mendidik anak-anakku kalau bukan Engkau yang
memampukannya ya Allah. La haula walau quwata illah bilah...Mereka
milikMu ya Allah...Beri aku kekuatan...beri aku kekuatan...." Seperti
debu yang tersapu, perlahan kotoran itu sirna. Tetes-tetes air
mendinginkan hatiku.


Boleh lah aku sedang down dalam urusan parenting, tapi ternyata
Allah mengulurkan bantuaNya dengan caraNya.Keesokan harinya, ketika aku
masih belum ingin menyentuh buku-buku parenting, teori-teori parenting.
Ketika semangatku dalam hal parenting belum bangkit, dengan berapi-api
suamiku menceritakan tentang buku 'Google' yang sedang ia baca.


Suamiku mana sempat baca buku atau artikel parenting. Dia juga
kurang minat, ada banyak buku lain yang lebih menarik untuknya. Selama
ini dia percaya saja padaku dan menerima saja forward-forward artikel
parenting yang aku kirim. Seringnya dia lebih banyak mendengarkan aku
ngoceh soal parenting, dan kemudian mengiyakan atau menambah
masukan-masukan dalam diskusi kami.


Apa yang terjadi? Suamiku tersengat saat membaca buku 'Google'! Apa
hubungannya 'Google' dengan parenting? Jauh memang, tapi banyak hal
baru yang dia dapat dan membuatnya bersemangat menerapkan pola-pola
baru pengasuhan dalam keluargaku. "Aduuh pusing Yah, aku belum mau
diskusi soal parenting. Cerita Google ujung-ujungnya ngomongin rencana
ke anak-anak. Biar ngalir aja lah apa adanya Yah. Toh teman anak kita
itu, dengan pola pengasuhan masa lalu seperti itu, anaknya juga
hasilnya bagus." Keluhku. Suamiku tak bergeming. "Oke Ma biar Ayah yang
mulai terapkan ke anak-anak. Mama santai-santai aja ya," hiburnya.


Apakah yang membuatnya tersengat itu? Tunggu kelanjutannya di
bagian kedua...ceilee...kayak pelem ajah hehe...







Monday, May 22, 2006

Kecemasan Mama

Ini cerpen pertamaku. Kedua sih sebetulnya, tapi cerpen yang pertama
betul-betul nggak masuk hitungan,bikinnya asal banget  dan nggak
masuk kriteria cerpen lah pokoknya hehe.  Jadi anggap saja ini
cerpen pertama :-) Niatku membuat cerpen ini buruk, betul-betul karena
ngiler sama bayarannya yang 100 euro, soalnya lagi nggak punya duit.
Tunggu punya tunggu ini cerpen nggak dimuat juga sama Ranesi. Padahal
katanya batas pemberitahuannya sebulan. Yah hopeless lah aku.Mutung.
Aku jadi merasa nggak bisa nulis fiksi dan merasa niatku yang ternoda
dengan uang itu lah penyebab cerpenku nggak dimuat. Akhirnya aku
betul-betul melupakan cerpenku ini. Asli mutung, melirik pun tak mau
lagi hehe. Sampai akhirnya barusan aku dapat kabar dari Mbak Desy,
cerpenku dimuat!



Alhamdulillah...Makasih ya mbak Des atas pemberitahuannya :-). Tapi
walaupun dimuat bukan berarti cerpen ini bermutu loh, kayaknya cuma
karena Allah nggak mau liat aku mutung kali ya hihi ge-er. Jadi kalau
ada yang mau kasih kritik dan saran, duh mau banget. Biar aku nggak
kapok nulis fiksi lagi. Tapi sebetulnya, kalo dapat 100 euro lagi sih
nggak akan kapok nulis fiksi lah ya, haha dasar! Cewek matre...cewek
matre kelaut ajeh! Eh tapi 100 euro belum dipotong pajak 39 % loh, but
masih lumayan laah buat ngisi dompet yang kosong hehe...



 Ini dia si cerpen yang sempet bikin mutung :-) :



“Eh, kamu harus kasih selamat sama Ben!”kata seorang
perempuan paruh baya  mengagetkanku. Nyonya Elske Holander, perempuan
tetangga sebelah rumahku tiba-tiba datang menghampiri. Aku baru saja
mengambil barang belanjaan dan memarkir sepeda di halaman depan. Ia
muncul bersama anak lelakinya yang berumur tanggung, mungkin sekitar 13
tahun.


“Oh, kamu ulang tahun, selamat ya Ben.” Segera kuulurkan tangan padanya sambil memberikan senyum termanis yang kupunya.

“Ha ha, bukan…bukan ulangtahun,” tawa perempuan Belanda itu renyah.

“Mm…, bukan? Jadi, selamat untuk apa?” aku bingung.

“Psst…tadi malam, dia baru saja jadi lelaki!” bisik perempuan itu di telingaku.




“Maksudnya?” keningku berkerut. Aku memang baru enam bulan tinggal
di negeri tulip ini. Selama itu pula aku mengenal si nyonya Belanda,
nyonya ramah yang pandai berbahasa Inggris. Aku tak mungkin salah
dengar. Jadi lelaki, apa artinya?

“Ayolah, masa kamu tidak mengerti, itu lho…melepaskan keperjakaannya pertama kali. Semalam Ben melakukannya sama pacarnya!” jawab nyonya Elske ringan.




“Oh ya?!” Hampir saja mataku terbelalak. Ssh…Nesya…Nesya…Ini Belanda sayang, batinku mengingatkan.

“Eh…ee…selamat Ben…selamat….”Aku tergeragap. Mudah-mudahan saja si nyonya tak memperhatikan perubahan mimik dan suaraku.

“Untung sewaktu grup delapan di Sekolah Dasar (SD), dia dapat pelajaran
pendidikan seks. Dan saya juga di rumah sering mewanti-wanti dia untuk
pakai kontrasepsi sebelum ‘bermain’. Dia sudah tahu apa akibatnya kalau
tidak pakai kontrasepsi. Bahaya kan, bisa kena penyakit AIDS. Belum
lagi resiko pasangannya hamil. Jadi dia pun semalam pakai ‘sarung’.”




“Ooo…begitu ya Elske,” jawabku lirih, masih tak percaya
dengan apa yang kudengar. Bahwa negara ini adalah penganut seks bebas
dan kumpul-kebo sudah tak aneh, dan sudah lama aku ketahui.
Tapi, anak 13 tahun melakukan hubungan suami-istri pertama kali dengan
pacar, direstui ibunya pula? Anak bau kencur gitu lho! Bahkan si ibu
tampak bangga sehingga aku harus memberikan selamat?! Dan semua ini
menjadi sebuah kewajaran?!  Oh… sungguh, membayangkan pun aku tak
pernah. Apakah aku yang terlalu lugu? Kuper(kurang pergaulan)? Hmm…entahlah,  tiba-tiba saja kepalaku berdenyut-denyut!




***




Kuhempaskan tubuhku  ke sofa empuk di ruang tengah.
Kuhirup nafas sedalam yang kumampu. Ah, Rangga, putra semata wayangku.
Seketika wajah tampan dan senyum simpatiknya melintasi benakku.
Kulahirkan engkau dengan penantian yang panjang Nak.




Lima tahun aku dan ayahmu harus menunggu. Menimangmu,
membelaimu, membesarkanmu, merupakan anugrah terindah bagiku. Hmm…bau
wangi khas bayi dari mulut mungilmu masih tercium rasanya. Ah,
bagaimana mungkin? Seminggu lalu baru saja aku menyiapkan kue-kue
ringan untuk dibagikan kepada teman-temanmu di kelas. Baru saja
teman-temanmu memberikan ucapan selamat ulang tahun bukan? Ulang tahun 
ke-sepuluh. Uh, kenapa waktu seakan berlari. Tak bolehkah aku menikmati
masa indah denganmu sedikit lebih lama?




Tak lama lagi engkau akan sebesar Ben. Tak lama lagi,
hormon kelelakianmu akan bekerja. Bagaimana nanti kalau kau punya
pacar? Apakah engkau akan seperti Ben? Apakah aku, ibumu, harus
merelakan engkau melepaskan keperjakaanmu tanpa nikah di usiamu yang
ke-13?! Bahkan aku pun  harus memberikan petatah-petitih lengkap sebelumnya kepadamu?! Aah… tidaaak! Tidak anakku, aku tak rela!!




Bermukim di negeri ini sama sekali bukan sebuah
pembenaran untuk menghilangkan adat ketimuran. Aku harus berbuat
sesuatu untuk mencegahnya. Aku tak boleh membiarkan engkau terpengaruh
teman-temanmu. Tapi apa? Bagaimana? Menjelaskan tentang mimpi basah 
kepadamu saja aku tak mampu, lidahku kelu. Padahal, tak lama lagi
engkau pasti akan mengalaminya. Oh Tuhan, tolong aku…!! Ugh…memikirkannya dadaku malah sesak, kepalaku semakin berdenyut kuat rasanya.




“KRIIIIING…..!” Dering telepon seketika
menghentikan kecamuk ombak di hatiku.“Aku pulang telat ya sayang. Aku
harus lembur. Pekerjaan betul-betul menumpuk. Nanti biar aku pulang
sekalian jemput Rangga. Dia main di rumah Robert kan?” Suara Mas Pram,
lelaki yang telah belasan tahun menikahiku sedikit mengurangi sesak di
dadaku.




“Iya mas, tapi…”

“Ada apa sayang? Sesuatu mengganggumu?”

“Ya…mm…iya Mas.”

“Aku hapal betul suaramu.  Kamu mau ceritakan sedikit sekarang? Siapa tahu bisa melegakanmu.”

Ah, mas Pram, betapa beruntungnya aku. Belasan tahun biduk rumah tangga
ini berjalan, tapi kau tak pernah berubah, selalu mengerti aku.

 “Mm…sudahlah Mas, nanti mengganggu pekerjaan Mas. Setelah Mas pulang saja.”

***




Ditemani bulan yang menyembul malu-malu, malam itu
kurebahkan kepalaku didada mas Pram. Kupeluk ia erat-erat. Kutumpahkan
segala kegundahanku hari ini padanya.

Mas Pram tahu betul, kepindahannya ke Amsterdam bersama keluarganya
bukan tak membawa resiko. Bekerja di perusahaan minyak asing tentu saja
membuat perekonomian kami semakin meningkat. Memang alasan karir dan
perekonomian lah yang membuat mas Pram tak menyia-nyiakan tawaran
pekerjaan ini. Namun semua tentu membawa akibat.




Bagiku,  mau tak mau aku harus melepaskan pekerjaan
yang kucintai di Indonesia. Di Indonesia dulu, aku tak perlu memikirkan
belanja, mencuci, menyetrika dan beragam pekerjaan rumah lainnya. Mbok
Yam pembantu setia kami, dengan sigap selalu menyelesaikan semua
perkerjaan rumah. Tak mudah menjadi ibu rumah tangga yang berdiam diri
di rumah saja setelah belasan tahun terbiasa bekerja. Berbulan-bulan
aku harus bergulat dengan batinku sendiri agar bisa mencintai kegiatan
baruku, menjadi ibu rumah tangga.




Bagi Rangga? Menjelang usia remajanya, usia pencarian
jati diri, ia harus melewatinya dalam lingkungan yang jauh berbeda
dengan dunianya di Indonesia.  Di negeri ini, alkohol bebas, marijuana 
tak dilarang, kumpul kebo biasa, bahkan perkawinan antar sesama jenis
pun dihalalkan. Dan kini dengan mata kepalaku sendiri, aku bahkan 
memberikan selamat atas hilangnya keperjakaan seorang anak lelaki.




Aduh Mas…Mas…ibu mana yang tak khawatir jadinya Mas?” 

“Kita kuatkan pemahaman agama pada Rangga Ma. Itu kan nasehat  yang
diberikan para ustad di Indonesia sebelum kita pergi kemari.” Mas Pram
mencoba menenangkan aku.

“Di Indonesia lebih mudah Mas, kita bisa pilih sekolah sesuai dengan
keyakinan yang kita punya. Kita bisa panggil Ustad agar Rangga belajar
agama. Suasana keluarga dan tetangga kita pun mendukung norma yang kita
anut.” Aku bangkit melepaskan pelukanku. Kutatap suamiku lekat-lekat.




“Tapi disini Mas? Mas Pram sibuk. Aku? Hmh…aku bahkan
masih kesulitan menghadapi duniaku yang baru disini. Yaa…demi Rangga,
aku akan berusaha untuk selalu menanamkan nilai-nilai itu Mas. Tapi
menurut mbak Via sahabatku, masa remaja adalah masa sulit Mas, masanya
mereka lebih mendengar apa kata teman-temannya. Mbak Via kan guru SMP
Mas, masa sih dia salah. Aku semakin khawatir karena Rangga anak yang
pendiam dan tertutup. Mas tahu sendiri kan, sulit sekali menyuruh
Rangga menceritakan apa saja yang dialaminya bersama teman-temannya di
sekolah. Jawabannya pasti, ‘lupa Ma,’ atau ‘begitu aja Ma kayak
biasanya.’ Nanti kalau dia punya pacar, apa dia mau cerita sama kita
apa saja yang dilakukannya? Kalau enggak gimana? Bingung kan Mas.”
Segala kegalauan meluncur deras dari mulutku.




“Sayang, aku juga mengkhawatirkan Rangga, dan aku ingin
kita bersama-sama berusaha mencari jalan keluarnya. Kalau tanya lagi ke
mbak Via gimana?” Pram menatapku, menunggu jawaban.

“Bisa aja sih Mas, tapi dia tidak biasa berkirim surat elektronik. Dia
jarang bersentuhan dengan komputer, sibuk dengan pekerjaannya di
Indonesia. Tapi aku akan coba menghubunginya lewat telepon.”




“Oh iya, Mama kan baru bergabung dengan kelompok diskusi di dunia maya. Itu lho,
yang Mama bilang anggotanya ibu-ibu Indonesia semua. Katanya mereka
pintar-pintar, dan sebagian dari mereka juga tinggal di luar negeri
kan, malah tersebar di berbagai negara.  Selama ini kan Mama cuma jadi
pengamat, coba deh mulai giat bertanya, gimana Ma?” tanya Pram bersemangat.

***




Beberapa hari berselang, aku mencoba usul suamiku. Aku
membagi pengalamanku dalam kelompok diskusi itu dan meminta saran
mereka. “Tapi yang kamu ceritakan itu orang Belanda kan? Tak heran,
memang budaya mereka begitu koq,” tulis seorang ibu yang tinggal di
Amerika menanggapi. “Aku malah pernah menemukan cerita seperti itu dari
temanku orang Indonesia yang sudah puluhan tahun tinggal di Amerika.
Anak gadisnya sering gonta-ganti pasangan, bahkan jelas-jelas tidur
bersama pacarnya di rumah mereka. Ayah ibunya tak kuasa untuk
menasehati lagi. Mereka malah bilang, daripada main belakang? Daripada
saya tidak tahu apa yang dilakukan anak gadis saya? Lebih baik saya
mengijinkan anak saya tidur dengan pacarnya di rumah, begitu kata
mereka.”




Oh, membacanya hatiku kembali gundah. Haruskah aku
mengorbankan norma agama dan adat ketimuran pada anakku, demi karir
suamiku serta kehidupan perekonomian yang lebih baik? Ternyata begitu
sulit membesarkan anak remaja di luar negeri. “Ah, sama aja kok, nggak di Indonesia, nggak di luar negeri, membesarkan anak remaja jaman sekarang memang nggak
gampang. Buktinya saat ini, berapa banyak gadis-gadis remaja di
Indonesia yang sudah hamil di luar nikah, bahkan menjual diri. Padahal
orangtuanya berkecukupan,” tulis seorang ibu lainnya. “Dimana pun kita
tinggal, semua akhirnya berpulang pada kita orangtuanya kan. Di Amerika
sini banyak sekali orang India. Mereka bisa koq  mendidik anak-anak
mereka sambil tetap memegang teguh adat-istiadat, budaya dan agamanya.
Teman saya menikah bahkan dijodohkan. Padahal mereka dari lahir sampai
dewasa hingga beranak-pinak juga tinggal di Amerika.”




Hmm…betul juga. Asalkan mau berusaha pasti ada
jalan, buktinya orang-orang India itu berhasil.Bagaimana ya caranya
agar anakku bisa tetap memegang norma-norma yang kami anut? “Bangunlah
komunikasi dua arah, jadilah teman buat anak, dan cari lingkungan yang
sama-sama memegang norma-norma tersebut. Kenapa? Supaya saat semangat
kita jatuh, masih ada kawan yang mendorong dan mengingatkan,” pesan
ibu-ibu di dunia maya itu.




Hmm…cara komunikasi dengan anak ternyata sangat penting. Duh,
bisakah aku merubah cara berkomunikasiku dengan Rangga. Dia anak yang
tertutup. Belum lagi, kata mereka aku harus mulai mencicil pendidikan
seks yang benar sejak dini pada anak.

Aku mengingat betul jawaban seorang ibu yang juga seorang psikolog
dalam kelompok diskusi itu, “Lebih baik anak-anak tahu dari orangtuanya
sendiri tentang seks, daripada mengetahui dari sumber lain. Dengan
begitu anak menjadi percaya penuh pada orangtuanya. Kalau mereka
bingung mereka akan bertanya pada orangtua. Alhasil, mereka akan
terbuka dan bercerita apa saja pada kita orangtuanya. Keuntungannya,
kita jadi tahu apa yang mereka pikirkan dan lakukan. Kita juga bisa
memberikan pendidikan seks yang benar, bukan yang malah merusak. Yang
paling utama lagi, kita tetap bisa memasukkan norma-norma yang kita
anut. Tapi jangan dogmatis ya, mereka malah lari nanti,” katanya
panjang lebar.




Uh, mulutku rasanya sudah tak tahan ingin segera
menceritakan hasil diskusi itu pada mas Pram. Tapi, baru minggu depan
dia kembali dari Prancis. Mas Pram…mas Pram…kau
memang suami dan ayah yang hebat. Bagiku nyaris sempurna. Satu hal
cacatmu yang sering menggangguku kini, kau tak lagi punya cukup waktu
untukku! Dulu, sebelum tidur adalah saat istimewa bagi kita. Saatnya
untuk saling bercerita, mengikat makna-makna yang tercecer dari
perjalanan hari-hari kita. Kini, pekerjaan membuatmu jarang berada di
rumah.




Ya, itulah pilihan yang telah kita ambil bukan? Andai
kau tahu Mas, ketika kau tak ada, bebanku semakin menggunung rasanya.
Membesarkan Rangga di negeri ini, dan membuatnya tetap memegang norma,
sungguh tak mudah kan Mas? Namun, hidupku adalah engkau. Aku
mencintaimu Mas, juga Rangga. Aku akan coba melakukan hal terbaik yang
kubisa. Demi Rangga, buah cinta kita…  

***




“Mama, aku boleh ikut acara perpisahan bersama
teman-teman di sekolah kan?” tanya Rangga sambil memasukkan sesuap nasi
ke mulutnya. Deg! Jantungku seketika berdegup lebih cepat.
Opor ayam yang masih tersisa dipiringku tak lagi menggiurkan untuk
kusantap. Apa yang salah dengan pertanyaan Rangga? Hasil tes ujian
sudah diumumkan. Rangga akan meninggalkan sekolah dasar. Ah, hanya
sekedar acara perpisahan anak SD, kenapa tidak boleh? Apa kata
teman-temannya nanti kalau ia tidak datang ke acara perpisahan itu? Ia
butuh pengakuan dari teman-temannya kan? Anak seusia itu kerap
mendapatkan tekanan dari teman-teman sebaya bila tampak nyeleneh.




Ya…ya…kalau ini Indonesia, aku tak akan berubah panik
seperti ini. Dua tahun telah berlalu sejak kegelisahan itu. Kegelisahan
membesarkan Rangga di negeri orang. Dua tahun pula aku mencoba
memperbaiki cara berkomunikasiku dengan Rangga. Memberanikan diri
sedikit demi sedikit membuka tabir tentang apa itu seks. Dan aku pun
berupaya menanamkan nilai-nilai adat ketimuran serta agama yang kuanut.
Perlahan tapi pasti aku bisa berdiskusi dengannya tentang mimpi basah
dan menjelaskan mengapa seorang perempuan bisa hamil. Aku mencari
buku-buku yang bisa menjelaskan soal seks secara sederhana  sesuai
dengan usianya.




Pembicaraan seputar seks ini kian gencar aku lakukan
setelah aku terkaget-kaget melihat Rangga mendapatkan penggemar wanita
pertama kali. Laura, penggemar pertamanya adalah teman satu kelasnya
sendiri. Sepulang sekolah, tiba-tiba saja Rangga mengeluarkan setangkai
bunga mawar merah dari dalam tasnya. Aku pikir Rangga akan
memberikannya padaku sebagai kejutan. Ternyata, ia malah membuangnya ke
tempat sampah.”Kenapa kau buang bunga itu Rangga?” tanyaku waktu itu.
“Laura bilang dia suka sama aku, sambil memberikan bunga ini. Hmh…aku nggak suka sama dia Ma. Lebih baik aku buang saja bunga ini. Aku kan masih kecil, belum mau pacaran.” Jawabnya polos.




Phfuih…mendengar jawaban Rangga,
keterkejutanku berubah menjadi kelegaan. O…O…Jagoanku mulai digemari
wanita rupanya. Hmm…Bangga? Tentu saja. Tapi rasa was-was malah semakin
menggunung. Ini artinya, hormon remaja Rangga dan teman-teman sebayanya
mulai bekerja. Bisa gawat kalau aku tak sering-sering berdiskusi soal
ini dengan Rangga. Sejak itu, aku mulai memberikan wacana, apa yang
boleh dan tidak boleh ia lakukan dengan lawan jenisnya beserta
alasannya. Apalagi setelah ia mendapatkan pelajaran tentang seks di
grup delapan, aku tak lagi kaku berbicara tentang pendidikan seks pada
Rangga. ”Ada saatnya Rangga, ketika kamu dewasa nanti. Ketika  kamu
jatuh cinta dan sudah menikah, ketika hubungan dengan lawan jenis sudah
dihalalkan, semua akan lebih indah dan membahagiakan,” kataku waktu itu.




Kini, Rangga sangat ingin menghadiri acara perpisahan
bersama teman-teman di sekolahnya. Kenapa begitu sulit untuk
mengijinkan? Bukankah nilai-nilai moral dan agama sudah cukup tertanam
dibenak Rangga? Bukankah aku sudah cukup berhasil membina komunikasi
dan berbicara seks dengan Rangga? Semua telah berjalan sesuai
keinginanku dua tahun yang lalu. Apalagi yang aku cemaskan? Inilah saat
ujian sesungguhnya. Aku tak mungkin menjadikan Rangga manusia yang
‘bersih dari kuman’ dan hanya mengurungnya di rumah saja kan? Rangga
juga harus terpapar ‘kuman’. Teori dan pemahamannya selama ini harus
dibenturkan agar ia mampu mengambil sikap. Ketahanan seseorang akan
teruji setelah ia bertempur di medan laga bukan? 




Gimana Ma? Mama koq lama banget mikirnya. Boleh nggak? Robert sudah bertanya terus, memaksaku untuk ikut. Boleh ya Ma?” Rangga merajuk.

Hening. Aku hanya mengelus rambutnya, tak mampu berkata-kata.

“Hmm…pasti mama khawatir ya? Tenang aja Ma, aku tahu koq
Ma apa yang tidak boleh aku lakukan. Aku tidak boleh minum alkohol,
alkohol tidak baik bagi kesehatanku.  Aku tidak boleh mendekati zina.
Aku tidak boleh melakukan hubungan suami istri dengan teman wanitaku
sebelum aku menikah. Aku belum siap, aku ingin sekolah tinggi, aku
belum dewasa. Aku tidak akan bahagia kalau semua kulakukan sekarang.
Bukan begitu Ma?”




“Iya sayang, Mama tahu kamu bisa menjaga diri. Tapi
boleh Mama menunda jawabannya? Kita bicarakan apa yang terbaik buatmu
nanti ya.”

Oh…mas Pram…mas Pram, kenapa lagi-lagi disaat genting seperti ini kau
sedang dinas ke luar negeri. Bicara lewat telepon lagi? Hmh…Semoga saja
Rangga masih sabar menunggu aku menelponmu. Aku tidak akan sepusing ini
kalau saja aku tak tahu apa yang biasa terjadi di acara perpisahan anak
SD di Belanda. Pemerintah Belanda membolehkan seorang anak berhubungan
badan pada usia 12 tahun. Dan di negeri ini, sudah tak aneh bila kondom
disediakan sebagai peralatan standar dalam acara perpisahan anak-anak
SD.




“Mas, aku bingung sekali. Menurut Mas gimana? Apa kita
membolehkan Rangga pergi? Kalau dia terpengaruh teman-temannya gimana?”
segera kuhubungi mas Pram lewat telepon genggamnya.

“Memang ini pilihan yang sulit Nesya. Tapi inilah saatnya ujian itu kan. Bekal selama ini rasanya sudah cukup untuk mengijinkan dia pergi ke acara perpisahan itu.”

“Betulkah begitu Mas? Aku selalu khawatir. Bagaimana kalau dia tergoda
ajakan temannya dan melupakan nilai-nilai yang telah kita berikan.”

“Percayalah padanya Sayang. Rangga anak yang baik. Bicarakan
kecemasan-kecemasan kita padanya. Bicarakan pula tindakan apa yang akan
dia ambil kalau teman-temannya merayunya.”




***




Sambil melingkarkan tangannya di pundakku dan mencium pipiku, Rangga
pamit,“Ma, aku pergi. Mama percaya sama aku ya Ma. Aku akan baik-baik
aja Ma.”

Dag-dig-dug di hatiku masih saja sama. Namun, akhirnya meluncur juga kata-kata itu dari mulutku, “Pergilah Sayang, Mama percaya sama kamu.”

Tuhan, lindungi anakku… Aku rela didera rasa cemas ini, demi sebuah
ujian kehidupan bagi anakku. Inilah ujian sesungguhnya bagi remaja
seusianya. Benturan-benturan seperti inilah yang akan menempanya
menjadi manusia sejati bukan? Ya, bila ia lulus. Tapi bila tidak? Oh,
tanganku mendadak dingin, nadiku pun berdenyut semakin kencang.




(Groningen-Maret 2006)


Dimuat disini : http://www.ranesi.nl/tema/budaya/kumpulan_cerpen_ranesi/kecemasan_mama060522