“Jangan kebanyakan jadi ‘ibu sebagai’!” Kata-kata itu begitu mengusik hati dan tak mau lepas dari ingatanku. “Sudah banyak Ibu lihat contoh, ibu-ibu yang sukses di luaran tapi anak-anaknya nggak beres di dalam. Banyak pula nama-nama Kyai dan ustad-ustadzah, yang nggak perlu lah Ibu sebut namanya, mereka sukses diluaran, tapi keluarganya hancur di dalam,” lanjut Ibu Elly Risman saat memberikan pesan terakhir untuk panitia workshop Salamaa tanggal 3 Juni 2007 lalu.
“‘Ibu sebagai’? Maksudnya?” Pikirku dalam hati. Oh maksudnya itu lho..misalnya ibu Anu yang menjabat sebagai ketua A, sebagai B, sebagai C, sebagai D dan sederet ‘sebagai’ lainnya, alias ibu yang banyak memegang tanggungjawab selain jadi ibu dan istri. “Jadi ibu dan istri saja sudah capek, apalagi kalau harus bekerja, capeknya luar biasa lho! Anak dititip ke pesantren? Diasuh orang lain? Lalu mau anak-anak seperti apa yang dihasilkan? Karena itu ibu selalu menganjurkan keluarga ibu, kalau anak belum 7 tahun, lebih baik dirumah dulu deh. Ibu juga dulu sering ditawari jadi ini jadi itu. Tapi lalu ibu berpikir, apa sih yang kita cari di dunia ini?” Begitu kira-kira ucapan ibu Elly selanjutnya.
Kami, panitia workshop yang sebagian duduk dan sebagian berdiri mengelilingi ibu Elly mendengarkan nasehat beliau dengan seksama. Acara Workshop Salamaa tanggal 1-3 Juni lalu berjalan sukses. Kebanyakan peserta merasa puas, bahkan menyatakan berharap ibu Elly bisa datang lagi ke Belanda. Kami, sebagai panitia tentu juga puas dan senang dengan suksesnya acara ini. Tapi kemudian di perjalanan pulang aku merenung. “Telah sukses jugakah aku membangun keluargaku? Jangan-jangan selama ini aku telah kebanyakan jadi ‘ibu sebagai’. Jangan-jangan tanpa sengaja selama ini aku terlalu sibuk ‘diluar’ dan melupakan tanggungjawabku sebagai ibu. Jangan-jangan selama ini fisik ku di rumah, tapi hatiku tidak bersama anak-anak dan suamiku. Kebanyakan depan kompi, kebanyakan ngenet. Duh ditambah lagi, bukankah selama ini aku sering bilang bahwa aku bukan orang yang bisa ‘duduk manis’ saja di rumah?”
Oh Tuhan! Mengapa tidak Kau buat saja aku menjadi orang yang suka ‘duduk manis’ di rumah? Bukankah semua itu bukan keinginanku? Andai aku bisa merubahnya aku mauu!. Tapi selalu saja aku kesulitan. Memang betul sekali, selama ini aku merasa lebih enjoy melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tak berurusan dengan rumah. Urusan pekerjaan di luar sana bisa aku sikapi dengan profesional, tapi mengasuh anak dan keluarga? Apakah aku sudah bersungguh-sungguh? Padahal ibu Elly selalu berpesan, mengasuh anak itu harus dengan 3 B, Bersungguh-sungguh, Berencana dan Bersengaja! Beliau bahkan selalu membuat goal dan objektif per tiga bulan, per- enam bulan atau per tahun, dalam mengasuh anak-anaknya. Karena urusan pengasuhan anak bukan main-main!
Hmm…bukankah pertumbuhan dan perkembangan anak-anakku kadang berlalu begitu saja ditelan waktu. Bukankah ‘peer-peer’ ku dalam pengasuhan yang masih menggunung kadang kubiarkan lewat begitu saja. Boro-boro bersungguh-sungguh, berencana dan bersengaja, kesibukan demi kesibukan malah kerap melewatkan waktu-waktu emas anakku yang tak akan pernah kembali itu. Duh! Mengalir dan mengalir saja seperti air, terbawa arus yang entah mengarah kemana. Sejujurnya sejak dulu, tarikan-tarikan di luar sana bagiku memang selalu lebih indah daripada pekerjaan menjadi ibu.
Kenapa ya? “Karena pekerjaan pengasuhan melelahkan jiwa,” kata suamiku. “Siapa sih yang suka mendengar rengekan, tangisan dan lain-lain dari anak-anak, capek hati kan. Dan itu nggak pernah aku temui kalau aku mengerjakan thesis. Karena itu aku bisa ngelembur berhari-hari demi thesis. Aku bisa enjoy sekali dengan pekerjaanku,” lanjut suamiku lagi. Ya mungkin suamiku benar, pekerjaan pengasuhan memang melelahkan bukan hanya fisik tapi juga jiwa. Namun aku sungguh penasaran. Kenapa ya? Kenapa aku dan kebanyakan orang pada umumnya lebih suka pada pekerjaan di luar sana dibandingkan mengasuh anak? Apalagi mengasuh dengan 3 B. Ah aku yakin orangtua yang ber 3 B dalam mengasuh anaknya dijaman sekarang ini sungguh langka. Bukankah kita umumnya hanya berkejar-kejaran dengan pekerjaan, jabatan, masa depan, harta dan entah apa?
Anak-anak kita biarkan diasuh oleh media, harta, tetangga, atau siapapun dia. Yang jelas bukan oleh kita. Waktu untuk anak-anak kita? Twenty minutes parents! begitu kata penelitian di USA. Menurut penelitian tersebut kebanyakan orangtua hanya menyediakan waktu dua puluh menit dalam sehari untuk anak-anaknya. Kita memang ada di pagi hari bersama anak kita. Pulang sekolah, makan malam, menjelang tidur, mungkin kita juga ada. Tapii hati kita tidak bersama mereka! Wajah mengkerut, ingatan pekerjaan di kepala, bentak sana bentak sini, dan selalu dengan tergesa berkata,”Ayo cepat, nanti terlambat. Makannya lama amat! Ayo tidur! Ayo sholat! Ayo beresin mainan!” dan pecutan kata-kata lainnya. Dan kalau anak-anak ingin bermain bersama kita,”Mama capek!” Itu yang kerap kita ucapkan bukan?
Oh..oh..oh…aku harus berhenti sejenak! Merenung lagi, mengingat lagi tugas-tugas pengasuhan ini. Mereka amanahku! Akankah kutinggalkan mereka tanpa bekal yang berharga? Tapi mengapa begitu sulit untuk mau ber-3 B? Aku sungguh masih penasaran. Kenapa? Kenapa pekerjaan di luar sana selalu berwarna lebih indah?
“Karena orangtua kita tidak pernah mempersiapkan kita menjadi ibu dan ayah!” Itu jawabnya! Ibu Elly menjawab pertanyaanku itu saat aku bersamanya seminggu. “Dari dulu, kita tidak pernah disiapkan untuk menjadi orangtua. Akademik..akademik dan akademik, itu saja yang selalu jadi tujuan. Jadi insinyur, dokter, pengacara..dan lain-lain pekerjaan bergengsi lainnya. Itu lah yang dimau kebanyakan orangtua kita dulu. Apakah pernah kita belajar bagaimana menjadi ibu? Apakah pernah ditanamkan dalam diri-diri kita bahwa suatu saat nanti kita harus menjadi ibu dan ayah? Apakah pernah kita diberi bekal untuk menjadi ibu dan ayah? Tidak bukan? Padahal menjadi orangtua itu tidak mudah. Padahal keterlibatan seorang ayah dalam pengasuhan sangat penting. Padahal ayah dan ibu harus menjadi partnership dalam pengasuhan. Apakah kita tahu semua itu? Saya dengan Neno (Neno Warisman-red) bahkan berjanji, bahwa kami akan berusaha semampu kami hingga mati untuk membuat anak-anak laki-laki generasi kini, agar mereka siap menjadi seorang ayah!” Begitu kira-kira penuturan ibu Elly dalam obrolan-obrolan kami selanjutnya.
Ya! Itulah jawaban yang aku cari. Pantas saja aku tak pernah tergerak untuk bersungguh-sungguh, berencana dan bersengaja membangun keluargaku, mengasuh anak-anakku, karena orientasiku dulu memang hanya jadi dokter..ambil spesialis..karir dan karir. Begitu juga dengan suamiku. Belakangan kurubah niatku menjadi ibu, tapi itu pun karena kondisi. Itupun disambi jadi penulis, jadi tukang kue, dan jadi jadi lainnya. Tetap saja prioritas menjadi ibu ini kemudian tenggelam.
Hmm…lalu apakah artinya aku tak boleh bekerja dan beraktivitas di luar sana? Oh tidak, bukan begitu maksudnya. “Silahkan saja, tapi kalau sudah siap mengambil tanggungjawab lain, bagaimanapun, anak tetap amanah kita. Pengasuhan anak tetap jadi prioritas dan artinya kita tidak boleh mengeluh capek! Siapa suruh punya anak?” begitu kira-kira pesan bu Elly lagi. Di sela-sela obrolannya dengan suamiku, bu Elly malah bilang,” Di rumah saya, haram hukumnya bilang capek! Karena anak saya sudah besar-besar, sekarang, ada anak saudara yang saya asuh. Tanpa ganti baju sepulang kerja, saya bahkan mendahulukan mereka. Ngobrol dengan mereka, atau menemani mereka bikin Pe-er.” Bayangkan, bukan anak sendiri saja betul-betul diasuh dengan 3 B oleh bu Elly. Sedangkan aku? Hmm…
Jadi untuk orangtua yang bekerja, bagaimana tipsnya agar anak tetap dalam ‘kendali’ kita? “Quality time yang benar bukan menyediakan 20 menit sehari untuk anak, tapi terpotong-potong. Kalaupun memilih bekerja, minimal sekali, sediakan dua puluh menit sehari tapi full betul-betul untuk anak. Itu lah yang disebut quality time,” kata bu Elly memberikan tipsnya. “Pulang kerja, muka jangan kenceng. Lakukan sesuatu bukan ‘bersama-sama’ tapi ‘bersama’ anak (jangan melakukan yang lain). Nggak bisa kita bilang,”Mama capek!” saat anak sedang membutuhkan kita. Ketika bersama anak, kosongkan pikiran, buang semua timbunan pekerjaan yang masih menggelayut di kepala, dan lakukan sesuatu dengan anak dengan sepenuh hati.”
Tapii… Tidak boleh mengeluh capek? Wadaw! Bagaimana mungkin? Huhuhu padahal sekalipun aku dirumah tapi pekerjaan rumah dan pekerjaan lain-lain itu lah yang membuatku capek. Si capek yang selalu bikin gara-gara, sehingga aku melewatkan saja momen-momen berharga dalam hidup anakku. Si capek yang kerap membuat amarahku tak tertahan dan kesabaranku hilang. Tapi kalau dipikir lagi, iya ya, setiap pilihan mengandung resiko bukan? Kalau mau mengambil tanggungjawab lain (bukan hanya sebagai ibu dan istri), tentu harus siap dengan akibatnya dong ya? Jadi, memang sudah sewajarnya kalau kita tak boleh mengeluh capek bukan? “Geser paradigma!” kuingat lagi pesan bu Elly. Ya barangkali itu kuncinya agar kita tak lagi mengeluh capek.
Ngeles? Mau lari dari tanggungjawab? Boleh-boleh saja, karena hidup adalah pilihan. Tapi bukankah setiap pilihan harus dipertanggungjawabkan? Sekarang tinggal pilih, mau generasi yang lebih baik, tetap jalan ditempat atau berlari mundur kebelakang?”Apa nggak malu, paspor negara kita selalu dipandang sebelah mata oleh negara lain? Ya karena Cuma sebegini lah kualitas manusia-manusia Indonesia yang ada sekarang!” Ucapan Bu Elly itu kerap kudengar untuk menyentil kami. Namun yang terpenting lagi, ketika nanti Allah bertanya,”amanahKu, telah kau asuh seperti apa amanahKu?” Mampukah aku dengan lancar menjawabnya? Ataukah mulutku hanya bisa terbata-bata, kelu bahkan terkunci kaku? Kalau menjadi ibu dan istri saja sesungguhnya aku belum mampu, lalu sanggupkah aku menjadi ‘ibu sebagai’ lainnya? Argh… rasanya harus kutata ulang lagi hidupku kini!
Pertemuan dengan ibu Elly sungguh seperti sebuah paket spesial dari Tuhan untukku. Ketika aku sedang asik dengan kegiatan baruku dan terlena, lagi-lagi Allah mengirimkan utusannya untuk mengingatkan aku, menegurku dan meluruskan kembali jalan pengasuhanku. Terimakasih ibu, pesan-pesan dan semangat yang kau bawa dalam cerita-ceritamu sungguh membuatku haru. Terimakasih Tuhan, untuk kiriman paket spesial itu. Gerakkan kaki, tangan, hati dan pikiranku, agar tak lagi melalaikan amanahMu.
Wednesday, June 20, 2007
Monday, April 30, 2007
Demi Lego, jadi Still Stand
"Ik, besok pas Koningen Dag mau jadi still stand ga biar uang tabungan aik nambah? Nanti aik bisa cepet beli lego yang aik mau itu," tanyaku ke Aik malam tadi. "Iya Bun aik mau!" Kata Aik semangat. Still stand itu jadi patung yang berdiri ga bergerak seperti di pusat-pusat kota di Eropa itu loh. Biasanya orang-orang yang jadi still stand itu pake kostum aneh-aneh, trus diem ga bergerak berjam-jam. Penonton pun akan melirik, menatap,foto-foto dan ngasih uang biasanya. Aik memang sudah lama punya satu inceran lego mobil pengangkut sampah (kalo ga salah). Sejak koleksi lego bob nya udah ada semua, Aik kalo ke toko mainan sibuk pilih lego yang mau dia beli.Dan pilihannya jatuh pada lego mobil pengangkut sampah seharga 26 euro.
Naa berhubung aku dan suamiku dah sepakat mereka harus beli sendiri mainan yang mereka mau dengan uang saku masing-masing, jadi lah aik harus bersabar ngumpulin 26 euro. Sejak beberapa bulan lalu, Aik dan lala memang kami kasih uang saku. Berdasarkan hasil diskusi di milis WRM, kata para ahlinya ngasih uang saku ke anak itu banyak manfaatnya. Salah satunya supaya anak anak bisa belajar memanage uang, belajar bertanggungjawab, belajar memilih, belajar sabar, dan satu lagi yang kami terapkan supaya mereka belajar bayar zakat juga.
Beberapa minggu lalu uang Aik sudah hampir mencapai 20 euro. Tapi pas pergi ke toko buku Aik naksir buku magnet Thomas en Train. Akhirnya uangnya berkurang lagi deh. "Aik sabar Bun," katanya meyakinkan aku. Waktu itu aku beritahu bahwa kalau Aik pilih beli buku konsekuensinya beli legonya jadi tertunda lagi. Tapi ternyata Aik betul-betul mau sabar.
Kebetulan tiap tanggal 30 April negeri Belanda merayakan hari ratu alias Koningen Dag. Di hari ini semua orang boleh berjualan apa saja di pusat kota. Biasanya barang yang dijual adalah barang bekas. Karena kami malas mengorek-ngorek barang bekas di gudang, akhirnya suamiku memilih berjualan minuman kaleng dan botol. Tadinya suamiku udah males berangkat, tapi Lala keukeuh mau pergi. Lala juga ingin tabungannya bertambah dari hasil menjual minuman. Jadi sehari sebelumnya, lala, malik dan suamiku sudah sibuk berbelanja berkaleng-kaleng dan beberapa botol minuman. Malamnya Lala dan ayahnya juga sibuk mengisi air ke plastik dan memasukannya ke freezer. "Biar minuman kita tetep dingin, lumayan kan nilai tambah dibanding pedagang yang lain," kata suamiku. Pokoknya sebelum hari H kami sudah mempersiapkan barang dagangan kami. Lala juga aku tawari untuk jadi still stand. Karena Lala juga ingin beli perlengkapan boneka winx dari uang sakunya. Tapi Lala jaim, ditawarin jadi still stand beberapa kali keukeuh ga mau. Lala cukup berharap dari jualan minuman aja.
Dan besoknya, bangun tidur...Taraaa! Setelah bangun dan cuci muka, ternyata aik langsung pake baju citah! "Lho Aik jadi, mau jadi still stand citah?" tanyaku ragu. Aik mengangguk kuat. Waah beneran serius nih anak hehe. "Nanti mukanya di corat-coret pake apa dong Yah?" Aku sama sekali nggak persiapan beli alat melukis wajah karena kupikir Aik nggak serius mau jadi still stand. "Udah pake yang ada aja, lipstik Ma..lipstik...," kata suamiku. Haa lipstik hehe, ya udah deh gimana nanti aja, paling-paling Aik juga nanti ga mau, pikirku tetep ga yakin. Tapi walaupun ga yakin, kami tetap siapkan bangku, alas dan wadah buat nampung uang.
Alhamdulillah sesampainya disana kami masih kebagian tempat. Padahal kami dateng agak siang, sekitar jam 10 pagi. Orang-orang udah numplek kaya di gasibu hehe. Setelah memajang jualan minuman kami, suamiku pun bertanya ke Aik,"Mau jadi still stand ga ik?" Aik masih mengangguk juga. Suamiku pun menyiapkan peralatan yang sudah kami bawa dari rumah. Corat-coret wajahnya gimana? Lipstik! Mau pake apa lagi kalau bukan lipstik. Akhirnya beneran wajah Aik di doreng-doreng pakai lipstik sama suamiku hehe. Dan ajaibnya tuh anak mauu ajah! Ya sudah, Aik pun langsung naik ke singgasananya. Awalnya wajahnya selalu menunduk, senyumnya pun antara mau nangis dan malu-malu hehe. Tapi ternyata orang-orang mulai memperhatikan Aik. Satu persatu mulai ngasih duit. "Aik ndak mau!" Katanya hampir turun dari dingklik kecil tempatnya beraksi. "Ik, katanya mau beli lego. Ayo Ik liat tuh, Aik udah dikasih uang sama orang-orang," kataku menyemangati. Melihat orang-orang mulai memberinya uang dan berkumpul melihat aksinya, lama-lama Aik makin pede. Yang tadinya tangannya melungker ke belakang, sekarang mulai ke depan sambil ambil posisi mencakar. "Ik bilang dank u well (thanks) Ik sama yang kasih uang." Kataku mengingatkan."Udah!"jawabnya singkat. "Ik diem ik, diem jangan gerak-gerak," kata ayahnya mengingatkan. Aik pun jadi patung sejenak dengan posisi citah, walopun hanya dalam hitungan detik hehe.
Tapi herannya walaupun begitu, reaksi penonton ajaib bener. Mereka pasti menoleh dan tersenyum melihat Aik yang lagi beraksi. Malah ada yang ngeshoot segala, kayanya sih kameramen TV ciee geer nih bundanya hehe. Trus ada juga yang niat banget mau foto Aik, nongkrongin AIk pake kamera besar gitu. Ada nenek-nenek yang senyuum aja liat Aik sambil ngoceh nggak jelas ngomong apa. Ada juga anak-anak yang bengoong aja ga beranjak ngliatin aik."Kijk cheetah..!" kata mama anak itu ke anaknya. Diperhatiin anak bule bengong itu, Aik main gaya. Kedua tangan AIk maju ke depan dengan posisi mencakar. Suara Aik pun terdengar menggeram,"Ggrhmm...!" Dan Aik memamerkan taringnya yang nggak tajem hehe. Wah pokoknya seru deh ngeliat reaksi orang-orang ke Aik. "Eksploitasi children nih hehe," kata temen-temen sesama orang Indonesia. Hihi..lah kan ini demi lego, ga masuk katagori eksploitasi lah ya hehe emaknya ngeles mode on :-).
Wuih! Ternyata duit yang didapet Aik lumayan jek! Nggak sampe satu jam Aik berdiri udah dapet 10 euro! Ngalahin pendapatanku yang 7 euro/jam kalo jadi overblijv juf nih hehe. Tapi karena kuatir Aik bener-bener tereksploitasi hehe, trus nggak lama setelah dia capek langsung aku suruh minum dan aku belikan Aik satu wadah patat (kentang goreng). "Waah aik dapet uang banyak ya Ik, tapi masih kurang Ik buat beli lego, nanti jadi still stand sekali lagi ya." Aik mengangguk.
Setelah makan patat rupanya Aik capek dan ngantuk. Aku menyuruh Aik bobo di atas tikar. Tapi ternyata AIk nggak bisa bobo. "Ik, mau jadi still stand lagi ga, uang aik belum cukup buat beli lego," kataku. "Masih berapa lagi Bun?" tanyanya." Lima euro lagi Ik," jawabku. Dan ternyata Aik mau lagi!
Jreng..jreng..aik pun beraksi lagi setelah pindah posisi ke tempat yang lebih adem. Duuh kesiannya ya anakku demi sekotak lego, kulit sampe gosong-gosong begitu, tega nian yak emaknya hehe. Tapi demi ngajarin anak mau susah, ditega-tegain aja deh ya. Dan reaksi penonton kali ini ga jauh beda sama sebelumnya. Malah uang yang didapet aik cepet banget nambahnya, karena orang-orang yang dateng pun makin banyak. Kali ini nggak sampe setengah jam Aik dapet hampir 13 euro! Waah hebat..Aik dah bisa beli lego ni kalo ditambah uang tabungan aik sebelulmnya.
"Wah kita bisa dapet 100 euro nih Ma seharian kalo Aik mau jadi still stand terus hehe," kata suamiku. Hehe iya kalo bener-bener eksploitasi anak begitu dah caranya hehe. "Ik, mau jadi still stand lagi ga, biar Aik bisa beli mainan lain yang aik suka?" tanyaku setelah Aik berhenti. Naa ternyata anak-anak memang kaga matre kaya emak bapaknya hihi. Dengan sangat yakin aik menjawab,"Nggak!" Ditanya bolak-balik dan dibujuk bolak-balik juga tetep aja jawabannya enggak! Begitulah anak-anak...polos..lugu dan nggak neko-neko. Pokoknya setelah uangnya cukup buat beli lego ya sudah. Hmm...pelajaran berharga buat yang dewasa nih :-)
Akhirnya jam tiga sore, setelah pembeli menipis kami pun pulang. Hitung punya hitung, keuntungan jualan minuman 12,5 euro, padahal itu hampir seharian. Waah kalah jauh dengan hasil still standnya aik yang ga sampe dua jam dapat 23 euro hehe. Alhamdulillah...semoga selain uang tabungan bertambah, hari ini anak-anak juga bisa belajar jualan dan belajar berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Karena hidup itu kelak tak mudah Jendral! Bukan begitu? :-)
Sunday, April 1, 2007
Buat yang di Belanda "WORKSHOP Kiat Berkomunikasi Sehat" Bersama ibu Elly Risman
| Start: | Jun 1, '07 10:00a |
| End: | Jun 3, '07 |
Temukan jawabannya dalam :
WORKSHOP KOMUNIKASI SEHAT
Menjadi Orang tua yang Pede Bicara Seks dan Mampu Membantu Anak Taat Beribadah dengan Menyenangkan
Bersama Ibu Elly Risman Musa Psi.
1-3 Juni 2007, Wijkcentrum "De Hofstee" Delft
Info lebih lanjut sila klik: http://workshopsalamaa.wordpress. com
Pendaftaran online dapat dilakukan dengan mengirim form pendaftaran yang kami attach/copy pada email ini ke workshop_salamaa200 7@yahoo.com dan biaya workshop dapat dikirim ke
ABN AMRO 517550997
T.N.V. ET Meidiati
Delft
Biaya Workshop
€ 50 (Lima Puluh Euro)/peserta
Biaya Penitipan Anak (Optional)
€ 1 (Satu Euro)/anak/hari, penitipan tanpa makan atau
€2,5 (Dua Setengah Euro)/anak/hari, penitipan dengan makan
Keterangan lebih lanjut hub. Jesty 03654-99761 & 0645-492 980, Agnes 0649 315 763, Dessy 0610 740 106
Form Pendaftaran:
Lembar isian ini digunakan untuk pendaftaran peserta, yang harus diserahkan ke panitia selambatnya tanggal 25 Mei 2007 melalui email: workshop_salamaa2007@yahoo.com atau ke panitia langsung.
Nama : __________________________________ Usia: ___________
Nama Suami : _____________________________ Usia ___________
Nama Anak : ____,____,_____,______,____ Usia __,____,___,___,__
Alamat : __________________________________________________
Kode Pos: _____________ Kota : ______________________________
Email : _________________
Telepon : __________________
Khusus Anak-anak
□ Dititip dengan makan □ Dititip tanpa makan
□ Alergi Makanan & lainnya: _________________________________
Saturday, March 31, 2007
WORKSHOP "Kiat Berkomunikasi Sehat" Bersama ibu Elly Risman (Di Belanda)
Mudahkah menjadi orangtua? Koq Nggak Pede
ya saat Bicara Seks dengan anak? Rasanya lidah kelu dan kaku, bagaimana nih? Kenapa bingung ya membuat anak senang
beribadah? Bagaimana sebetulnya kiat berkomunikasi yang sehat itu?
Kenapa orangtua harus pede bicara seks dengan anak, apa pentingnya?
Mengapa pula pembelajaran dan pengasuhan keimanan perlu dilakukan dengan menyenangkan?
Temukan jawabannya dalam :
WORKSHOP KIAT BERKOMUNIKASI secara SEHAT dengan ANAK
Menjadi Orang tua yang
Pede Bicara Seks dan Mampu Membantu Anak Taat Beribadah dengan Menyenangkan
Pede Bicara Seks dan Mampu Membantu Anak Taat Beribadah dengan Menyenangkan
Bersama Ibu Elly Risman Musa Psi.
1-3 Juni 2007, Wijkcentrum "De Hofstee" Delft
1-3 Juni 2007, Wijkcentrum "De Hofstee" Delft
Pendaftaran online dapat dilakukan dengan mengirim form
pendaftaran seperti dibawah ini ke alamat email:
workshop_salamaa2007@yahoo.com
dan
biaya workshop dapat dikirim ke
ABN AMRO
517550997
T.N.V. ET Meidiati
Delft
Biaya Workshop
:
€ 50 (Lima Puluh Euro)/peserta
Biaya Penitipan Anak (Optional)
:
€ 1 (Satu Euro)/anak/hari, penitipan tanpa makan atau
€2,5 (Dua Setengah Euro)/anak/hari, penitipan dengan makan
Keterangan lebih lanjut hub:
Jesty 03654-99761
& 0645-492 980, Agnes 0649 315 763, Dessy 0610 740 106
Form Pendaftaran:
Lembar isian ini digunakan untuk
pendaftaran peserta, yang harus diserahkan ke panitia selambatnya tanggal 25
Mei 2007 melalui email: workshop_salamaa2007@yahoo.com
atau ke panitia langsung.
Nama :
__________________________________ Usia: ___________
Nama Suami :
_____________________________ Usia
___________
Nama Anak : ____,____,_____,______,____
Usia __,____,___,___,__
Alamat
: __________________________________________________
Kode Pos: _____________ Kota :
______________________________
Email : _________________
Telepon : __________________
Khusus Anak-anak
□ Dititip dengan makan □ Dititip tanpa makan
□
Alergi Makanan & lainnya:
_________________________________
Monday, March 19, 2007
Semangkuk Indomie pada Pukul Satu Pagi
Duduklah saja Sayang, katamu dini hari tadi
Kubuatkan hadiah spesial di hari jadimu ini
Bukankah tadi perut hanya kita isi dengan roti
Dan kau pun beraksi persis seperti koki
Cemplung sana cemplung sini
Potong sana potong sini
Dan tarraaa! Hadiah untukku pun tersaji!
Semangkuk Indomie pada pukul satu pagi
Sungguh, ini kado yang paling membuatku geli!
Tapi bukan hanya geli, aku juga happy
Meja makan kita sesesak tumpukan jerami
Mangkuk-mangkuk kita tak kebagian posisi
Tapi kau tak pernah mengambil hati
Ah Cinta, kau ini selalu membuatku bertanya lagi
Terbuat dari apa sesungguhnya hatimu ini?
Belum lagi bila kulirik tumpukan lain di ruang dapur
Ugh, rasanya ingin kugembok saja pintu dapur itu seumur-umur
Belakangan ini dapurku kerap ngebul
Pamali nolak rejeki, begitu kan kata orang
Padahal deadline pekerjaan mengejar-ngejar
Padahal amanah lain baru saja kuemban
Dan anak-anakku, mereka pun butuh belaian
Duh Tuhan, aku memang senang
Tapi ritme hidupku lagi-lagi seperti komedi putar
Kau ingat kan masa-masa sulit itu
Dalam hitungan hari baru saja ia berlalu
Isak ku kembali kau dengar
Amarah pun kembali ku umbar
Anak-anakku, entah apa kabar
Istri macam apa aku ini, kau butuh istri baru barangkali
Begitu ucapku, lantaran PMS, depresi, feeling guilty, dan entah apa lagi
Kau seperti dejavu bukan?
Aku lihat lelahmu yang hampir meremukkan sendi-sendimu
Aku lihat kesalmu yang dengan penuh juang kau perangi
Aku dengar degup jantungmu ketika tahun terakhir studi membayangimu
Aku dengar desah nafasmu ketika timbunan deadline seolah akan menerkammu
Tapi mengapa, ketika dejavu itu bukan lagi dejavu
ketika ia nyata membentang di depan matamu
Kau masih saja bisa memberikan bahumu untukku
Kau masih saja bisa meniadakan dirimu
Kau masih saja bisa menjelma peri penolongku
Ah Cinta, terbuat dari apa sesungguhnya hatimu?
Hiks…maafkan aku Cinta, tanganku hanya dua,
dan aku selalu kalah melawan pembagian waktu
Tapi kau sangat tahu kan Cinta,
Aku bisa gila kalau hidupku hanya kuisi dengan termangu saja
Dan kau juga tahu kan Cinta,
Ide-ide yang menari di kepalaku lebih membuat hidupku berseri
lebih menarik ketimbang tarian piring dan bumbu dapur warna-warni
Maafkan aku, aku bukan istri sholehah ya Cinta?
Dan jawabmu seringkali membuatku tergugu
Memasak, menyetrika dan mencuci itu bukan kewajiban istri
Semua itu bisa kita bagi, ucapmu
Ah Cinta, itu katamu, tapi apa kata dunia, kesahku
Mengapa tak kau didik saja aku menjadi istri sholehah itu Cinta?
Aku tak ingin mendidik, aku hanya ingin menggali potensimu, jawabmu
Tapi Cinta, lihat akibatnya, komedi putar itu bergerak kencang lagi
Ripple, itu namanya, sungguh wajar untuk sebuah perubahan, jawabmu lagi
Ah Cinta… aku hanya bisa termangu dan kembali tergugu
Andai kau tahu betapa sempurna engkau mengajari aku
Dengan caramu, dengan kasihmu, dengan ucapmu, dengan hatimu
Hadiah itu, semangkuk indomie pada pukul satu pagi itu
Menjadi begitu bermakna, tak tergantikan dengan emas permata
Semangkuk indomie pada pukul satu pagi
Kado yang membuatku geli, tapi juga membuatku menangis lagi
Terimakasihku tak kan pernah cukup Cinta…
Buat Cintaku seorang…
Groningen
19 Maret 2007
Saat musim semi bersalju
Tuesday, March 6, 2007
Kaartje Beterschap (Kartu ucapan cepat sembuh) dari Lala
Tulisannya: Beterscap (cepet sembuh) dan gigi sakit yang lagi bilang 'au' :-)
Kartu Ucapan dari lala, waktu bunda habis cabut gigi M3 minggu lalu (27 februari 2007). Pas dicabut sih ga sakit, tapi setelah obat anestesi habis, haduuh sakitnya rek, sampe meriang 2 hari. Diminumin obat ga ngaruh blas kayaknya. Gara-gara ngeliat bunda tepar, jadi lah kreativitas lala tersalurkan hehehe.
Saturday, March 3, 2007
Stadtmusikanten Bremen
Haduuh aik koq merem, menghayati peran sekaleee hehe
"Mau lihat apa sih di Bremen?" Kalau kami bilang mau ke Bremen kebanyakan orang mesti mengeluarkan pertanyaan seperti itu. Hmm liat apa ya, kami juga bingung, mau liat patung binatang pemusik Bremen itu kah? Atau mau liat Rathaus nya yang katanya masuk daftar Unesco World Heritage atau ke Universum Science Center yang memang worth to see buat anak-anak? Pas browsing-browsing tentang Bremen memang nama-nama itu jadi highlight. Tapi sebenernya alasan utama liburan ke Bremen kali ini adalah karena murah hehe, maklum lagi bokek tapi di rumah suntuk.
Groningen-Bremen ternyata deket banget (lebih deket lagi ke Oldenburg cuma 1,5 jam). Kalau ke Bremen kaya dari Bandung mau ke Jakarta deh 2,5-3 jam saja naik bis. Groningen adalah kota paling Utara di Belanda, jadi pergi ke kedua kota di Jerman ini malah lebih deket daripada ke Amsterdam dan sekitarnya. Harga ticket bus nya pun hampir sama. Ya sud akhirnya untuk mengisi voorjaarvakantie (liburan musim semi) tanggal 2 sampai 3 maret 2007 kemaren, pergilah kami ke Bremen.
Sayangnya sejak kami disana sampai pulang cuaca bener-bener ga mendukung, hujan terus. Tapi alhamdulillah nya anak-anakku baik-baik aja ga rewel. Mereka malah seneng banget ngeliat patung binatang itu. Sebelumnya di rumah aku memang beberapa kali cerita tentang 'Pemusik kota Bremen' itu. Cerita itu termasuk fairy tale terkenal di dunia kan, dan ternyata mereka suka banget.
Subscribe to:
Posts (Atom)