Awalnya aku bimbang. Betulkah aku akan mencari biaya tambahan? Kenapa tidak? Anak-anakku sudah cukup besar. Toh kerja part time disini tak membutuhkan waktu seharian. Aku bisa pilih jam kerja saat anakku sekolah atau setelah suamiku pulang. Dua atau 3 jam saja sehari kan lumayan. Aku pun masih bisa menulis dikala luang. Uang yang kudapat tak seberapa memang, tapi ketimbang sama sekali tak ada tambahan, ya jelas lumayan. Apalagi setahun belakangan aku mendapatkan visa yang memperbolehkan aku bekerja. Berapa banyak TKI ilegal yang datang kemari untuk mencari pekerjaan? Aku sungguh beruntung bukan?
Dalam kepalaku, pertanyaan selanjutnya seperti gasing berputar. Kerja apa? Ijasahku dulu, disini sama sekali tak laku. Paling-paling schoonmaken (tukang bersih-bersih), jadi oppas (jaga anak orang) atau kerja kasar lainnya. "Ah, apapunlah, yang penting ada tambahan," pikirku. Akhirnya aku pun mencoba melamar, jadi opas, jadi schoonmaken, jadi koki, geen problem, aku jadi rajin cari kerjaan.
Kadang aku gamang. Betulkah memilih untuk kerja part time ini sesuai dengan maunya Tuhan? Aku paling takut berjalan diluar 'ijin' Tuhan. Aku lakukan doa-doa panjang agar Allah menentukan jalan. Hingga masanya tiba. Pekerjaan itu dihadirkan di depan mata, begitu mudahnya. Pagi hari aku melamar, sorenya aku langsung diminta datang. Aku memang mengiyakan, tapi jangan heran kalau hatiku sempat kembali goyang. "Apa yang kucari? Uang? Berapa banyak sih yang kudapatkan? Bekerja capek-capek berbulan-bulan lalu habis dibawa pulang? Wadaw, rugi amat! Jungkir balik aku bekerja pun biaya sekolah di luar negeri masih saja tak kan mampu kukejar. Toh tanpa bekerja sebenarnya aku dan keluargaku masih bisa makan, juga masih bisa sedikit jalan-jalan. Lalu buat apa? Tukang bersih-bersih lulusan fakultas kedokteran? Haa? Apa nggak malu?Kemana larinya itu si makhluk yang bernama harga diri?"
Pertanyaan-pertanyaan itu bagaikan tupai berlompat-lompatan. Hmm..harga diri? 'Makhluk' itu memang seperti singa pongah, yang tak pernah mau kompromi dan tak mau kalah. Ingatanku kembali pada masa-masa sulitku, saat aku harus meninggalkan profesiku untuk sementara waktu. Terlalu banyak pelajaran yang sudah kulewatkan. Mengapa ia, sang 'makhluk', harus kembali datang? Apa kata Tuhan kalau aku masih saja tak bisa belajar?
"Go beyond that! Kalau tidak, semua tentu tak ringan," suamiku bilang. Kalau memang ini dari Tuhan, pasti ada pelajaran lain yang hendak Ia sampaikan. Aku lalu terdiam. Kemana kita akan pulang? Apa sesungguhnya maunya Tuhan? Apa sejatinya yang harus kita bawa dikala 'panggilan Tuhan' datang? Profesi? Titel? dokter SpAK? Jabatan? Bukan?! Pertanyaan-pertanyaan klise memang. Tapi semua itu berkelebat dalam ingatan. Tuhan, tolong bukakan hati dan pikiran, agar semua menjadi lapang.
Kemudian, Tuhan seperti mengirimkan SMS panjang. "Kadang intelektual perlu sejenak ditaklukkan. Karena ia, sering tak tahu aturan. Atas nama intelektual manusia kerap jadi arogan. Atas nama intelektual manusia kerap melupakan tugas utama dari Tuhan. Lupa? Bahwa sejatinya manusia lahir kedunia bukan untuk mengejar harta, tahta, atau dokter SpAK. Lupa? Bahwa sesungguhnya misi utama manusia turun ke bumi adalah untuk mengenal jati dirinya, mengenal Tuhannya. Bagaimana bisa kenal Tuhan, kalau arogansi masih merajai hati dan pikiran? Bagaimana bisa tunduk pada Tuhan, kalau ego masih saja diberi 'makan'! Padahal bersama kepahitan kadang Tuhan lebih mudah untuk dikenal. Dalam kerasnya kehidupan, kadang Tuhan seperti merengkuh dalam buaian. Bekerja lah untuk mengenal Tuhan maka segala beban akan menjadi seperti kapas terbang, ringan!"
Dan seperti daun-daun musim gugur yang sukacita beterbangan, sore itu aku melangkah dengan riang. Aku memasuki sebuah rumah sakit besar, rumah sakit impian bagi para calon dokter-dokter tenar. Impianku tiba-tiba melayang. Andai aku berada disini, dengan jas putih kebesaran, tentu aku akan melambung ke awan. Ah pikiran, jangan kau kelabui aku. Aku tahu lagi-lagi kau hanya menyuruhku berangan-angan agar aku tak bisa mengenal Tuhan bukan? Pstt...dengar, namaku dipanggil. Aku ditempatkan di poliklinik anak-anak! Hmm...bukankah tempat ini yang dulu kuidamkan? Mengapa semua serba kebetulan?
"Apa nggak ada orang lain lagi?" tanya seorang perempuan Belanda menyipitkan matanya. "Ya, cari saja yang lain dalam daftar itu." Stephanie, mandor cantik berdandan seronok bak Birtney Spears, yang berdiri di sebelahku menyodorkan kertas miliknya. Hmm...rupanya perempuan Belanda itu tak ingin bekerja bersamaku. "Karena kerudungku? karena badanku kecil, tak bisa diandalkan?" batinku. Ah sudahlah...mengapa langkah riangku ke tempat ini harus terhenti hanya gara-gara omongan perempuan itu. Merasa dilecehkan? Terlupa lagi bahwa Tuhan kadang lebih mudah dikenali dalam kepahitan? Ingat! Semua akan ringan kalau si ego tak diberi 'makan'. Aku bekerja bukan untuk si mevrouw (nyonya). Aku bekerja untuk Tuhan!
Langkahku kembali riang. Aku mendorong gerobak besar berisi alat-alat kebersihan, plastik sampah dan beberapa ember lengkap dengan lap masing-masing. Aku mencoba mengingat-ingat pesan si 'Birthney'. Lap merah untuk toilet, lap biru untuk wastafel dan lap hijau untuk meja, kursi serta peralatan kantor. "Jangan lupa, kalau ada tumpahan kopi kamu harus mengepelnya dengan kain yang basah. Kamu juga harus membuang semua kotak sampah dan mengganti plastiknya dengan yang baru. Gagang telepon, meja, kursi jangan lupa dilap ya. Begitu juga dengan toilet. Bersihkan tutup atasnya, juga bagian bawah." Dengan sepatu hak tingginya, si 'Birthney' berkeliling menjelaskan ini itu padaku.
Aku mulai menggosok wastafel, melap cermin, meja, kursi, gagang telepon, membuang sampah, menyapu lantai, mengganti tissue yang habis dari satu ruang ke ruang lain, termasuk ruang toilet. Setengah jam kemudian Stephanie mengontrol."Agnes, kamu harus lebih cepat, masih banyak ruangan yang harus kamu bersihkan!" Glek! Aku melirik jam tanganku. Sedikit panik, karena waktuku hanya tersisa satu jam, sementara belasan ruangan belum aku bersihkan, termasuk ruang tunggu pasien yang luasnya bukan alang kepalang.
Sebetulnya aku hanya harus membersihkan tempat yang sudah bersih. Harus sekinclong apa cermin itu sehingga aku harus menggosoknya lagi? Tapi semua itu tugasku. Tapi waktu pun memburuku. Ini performence pertamaku. Apa jadinya kalau pekerjaanku tak selesai. Lalu aku segera berlari, gosok sana-gosok sini, buang sampah ini, buang sampah itu. Aku berpikir cepat.Tempat-tempat yang sudah sangat bersih tak kusentuh lagi. Keringatku bercucuran. Tanganku mendadak pegal-pegal. Hingga akhirnya jam menunjukkan pukul delapan malam. Phfuih...akhirnya!
Cukup melelahkan. Tapi aku bersepeda pulang dengan riang. Rasanya hatiku melayang, ringan. Rumah sakit tempatku bekerja itu memang tak akan membawaku menjadi dokter terkenal. Bagaimana mungkin wong aku cuma bekerja di bagian kebersihan. Tapi ditempat itulah aku merasa semakin mengenal Tuhan. Saat ego kutundukkan, saat kepongahan intelektual tak kubiarkan merajalela dalam diriku, tiba-tiba saja aku bisa bekerja dengan cekatan tanpa beban. Bukankah segala yang membuat hati tentram berasal dari Tuhan? Bukankah hatiku semakin bisa merasakan rahimnya Allah, Arrahman-nya Allah, maha Kuatnya Allah, dan sifat-sifat Allah lainnya? Munculnya rasa-rasa yang tak terkatakan ini, tak terbilang dengan uang. Sungguh, pelajaran emas ini, tak akan kudapatkan di fakultas kedokteran paling bergengsi sekalipun. Kini aku paham, fase baru dalam hidupku ini rupanya membawaku pada satu pesan: kadang arogansi intelektual memang perlu ditaklukkan agar kita bisa semakin mengenal Tuhan!