Miniaturk
Dalam perjalanan liburan yang berhari-hari, aku biasanya selalu berusaha menyusun itinerary sedemikian rupa sehingga at least ada satu hari khusus harinya anak-anak. Walaupun ga ada park yang menarik model disneyland atau legoland, untungnya di Istanbul ada miniaturk. Meski pada akhirnya mereka menetapkan berenang di Pamukkale dan Antalya sebagai kegiatan yang paling asyik. Tapi miniaturk yang menempati urutan ke-4 buat Lala, juga tetap asyik buat mereka. Mungkin karena mereka udah biasa diajak jalan kali ya, jadi kemanapun alhamdulillah ga pernah rewel kecuali lapar dan ngantuk.
Miniaturk seperti madurodamnya Belanda. Di taman luas ini terhampar puluhan bangunan-bangunan mini yang terkenal di hampir seluruh area Turki. Untuk kota istanbul diwakili oleh Blue mosque, Hagia Sophia, Topkapi Palace, galata Tower dan bosphorus bridge tentu saja. Dari kota-kota lain ada Terventin di Pamukkale, ‘kota batu’ di Cappadoccia, Mesjid-mesjid dari berbagai kota yang aku ga hapal. Dan gara-gara melihat tempat-tempat asyik lainnya di miniaturk ini Aik jadi pengen ke Turki lagi (padahal separuh perjalanan juga belum hehe). Ada gunung Nemrut yang katanya disana ada gua tempat nabi Ibrahim, ada gua yang dijadikan rumah-rumah unik di kota apa ya lupa deh. Pokoknya ternyata Turki menawarkan banyak tempat-tempat indah yang ga bisa cuma dalam sekali dikunjungi euy.
Egyptian Bazaar (Spice Market)
Setelah hampir seharian mengelilingi miniaturk, kami memutuskan untuk menikmati suasana di Egyptian Bazaar yang letaknya di seberang pelabuhan Eminonu. Tadinya mau ke Grand Bazar tapi takut ga keburu karena malamnya kami harus naik bus malam ke Cappadoccia. Jadi kami putuskan ke Grand Bazaarnya hari terakhir aja.
Pasar ini dibuat pada abad ke-17 atas permintaan salah seorang istri Sultan. Egyptian Bazaar ini adalah pasar yang khasnya menjual bumbu rempah-rempah dari Timur Tengah, kayanya segala macem rempah ada deh, aku ga hapal namanya. Pasar ini lebih kecil dari grand bazaar, tapi pasar ini unik karena banyak menjual rempah-rempah bumbu khas Turki dan Timur Tengah. Bau wangi menyebar kemana-mana waktu kami memasuki pasar ini. Yang jelas selain ada banyak rempah-rempah, di pasar ini juga banyak dijual lokum (Turkish delight), kudapan khas Turki yang rasanya seperti moci. Enak deh, di dalamnya ada berbagai rasa, ada kacang, coklat, kelapa, strawberry, macem-macem deh. Selain lokum banyak juga orang jual kerudung, pashmina, souvenir (walaupun ga banyak), apple tea khas turki dan tea setnya yang unik, dan ternyata di bagian belakang banyak pedagang menjual alat-alat rumah tangga seperti loyang, panci dan lain-lain gitu. Duh jadi inget pasar-pasar tradisional yang di Bandung. Di pasar ini juga banyak dijual permen-permen, manisan-manisan buah, dan kacang-kacangan model kacang arab. Dan makin kedalem pasar ternyata harganya makin murah! Untung aku ga kecolongan, hampir aja beli lokum seharga 14 YTL per setengah kilo di depan pasar, padahal di dalam harganya cuma separuhnya.
Eminonu
Karena hari terakhir kami masih akan balik lagi ke Istanbul jadi aku menahan diri untuk belanja di Spice market, soalnya berat kalo dibawa kemana-mana, padahal udah laper mata liat harga dalam YTL yang hampir separuhnya Euro.
Eminonu merupakan tempat transit di Istanbul. Kalau mau nyebrang ke Asia naik boat ya lewat pelabuhan ini. Kalau mau ikut bosphorus tour juga bisa dari pelabuhan ini. Naik bis ke tempat-tempat di Istanbul, naik taksi, naik tram juga bisa dari sini. Pemandangan di sekitar Eminonu cukup asyik untuk dinikmati. Pesan yang aku baca dari reviewer para pelancong yang sudah pernah ke Istanbul, katanya jangan lupa makan ‘Balik Ekmek’ di Eminonu. Haa apa pula tuh? Hii namanya aneh ya mengingatkan pada sesuatu yang saru-saru haha. Bahasa Turki emang ajaib banget, ga ngerti blas, ga ada mirip-miripnya sama bahasa yang aku bisa. Ternyata Balik Ekmek tuh, roti yang di dalemnya dikasih ikan panggang, bawang bombay dan sayuran. Rasanya lumayan enak dibanding roti khas Belanda yang pake haring itu (yang aku ga tega makannya hiks). Harganya pun cukup murah, antara 3-4 YTL saja, alias 1,5 euro atau 2 Euro. Cara menjualnya pun lucu, orangnya masak di atas kapal yang dicat mencolok kaya kapal raja. Jadi mereka masak ikan sambil digoyang-goyang ombak. Lalu pembeli ngantri, bayar dan makan di kursi-kursi jongkok yang disediakan disekitarnya. Penjualnya juga pake baju ala Turki. Tapi ada juga penjual yang hanya memakai gerobak saja.
Selain banyak orang jual Balik Ekmek, di sekitar Eminonu juga banyak orang jualan kerang dalam asongan kaya penjual rokok, makannya pake jeruk nipis. Aku ga sempet coba, ga tega juga ya takut diare hehe. Penjual kebab dorongan, roti bulet dan jagung dorongan juga ada. Di bawah Galata Bridge sebelahnya Eminonu banyak restorant yang katanya menjual seafood dan Balik Ekmek ini. Tapi ternyata seafoodnya tidak seperti yang aku bayangkan di pantai pangandaran hiks, duuh masakan Indonesia memang tiada duanya deh.
Info-info:
Orang Turkey kayanya aga-aga usil kaya orang Indo hehe. Kami sering diliatin. Bukannya geer, tapi emang bener-bener ngeliatin gitu. Waktu di Miniaturk, serombongan ABG sama guru ngajinya ngerubung aku. Ngeliatiiin aja, terus lama-lama ngajak kenalan, tanya nama, dari mana asal. Ibu-ibu yang lagi nungguin anaknya juga sama ngeliatin mulu, pokoknya kalo berada di tempat yang banyak orang lokal, pasti sering diliatin deh, berasa artis pokoknya xixixi.