Saturday, August 9, 2008
Day 12-13, Istanbul: Grand Bazaar,Bosphorus Tour dan Kembali Pulang
Grand Bazaar
Siapa yang tak kenal Grand Bazaar di Istanbul? Pasar tradisional yang umurnya sudah berabad-abad ini merupakan salah satu 'covered market' tertua dan terbesar di dunia. Dibangun tahun 1461, Grand Bazaar kini bisa menyedot 250.000 hingga 400.000 pengunjung tiap harinya. Gimana enggak, ada 58 jalan-jalan antar lapak dan 1200 toko! Dijamin seharian baru kelar deh ngelilingin ini pasar.
Uniknya, di pasar ini di setiap blok nya ada mesjid kecil. Mesjid ini terletak di lantai dua, kalo waktu sholat tiba, muadzin akan naik ke mimbar mungil yang menonjol ke arah toko-toko, lalu dia akan adzan. Wah pokoknya berasa di padang pasir deh hehe. Apalagi barang-barang yang dijual disini juga segala macem barang ala Timur Tengah ada. Tentu aja, yang paling banyak ya barang khas Turki, evil eye dibuat berbagai bentuk, mulai dari kalung, gelang, souvenir sampe pajangan rumah.
Kalo ke pasar ini jangan lupa beli Turkish delight, lokum. Enak deh rasanya kaya moci. Dan jangan lupa juga beli apple tea khas Turki. Wuah pokoknya buat yang demen belanja, laper mataaaa!
Hipodrome dan German Fountain
German Fountain hiasan kubahnya baguus banget, paduan kaligrafi warna emas dan biru. Germain Fountain ini merupakan gazebo atau pavilion dan fountainnya dipake untuk wudhu. Bangunan ini dibuat waktu raja German Wilhelm II mau berkunjung ke Turki. Jadi dibuatnya di jerman, satu per satu diangkut ke Turki.
Dari Grand Bazaar kami mampir sejenak ke Hipodrome dan obelix di sebelahnya Blue Mosque. Hipodrome ini dulunya merupakan centernya Istanbul waktu jaman kekuasaan Byzantium dan Constantinople.
Bosphorus Tour
Sebetulnya kami udah males ikut tour ini, karena udah hari terakhir di Turki rasanya udah capek banget. Tapi anak-anak semangat banget. Waktu dari Istanbul mau ke Cappadoccia karena lupa ngunjungin Hipodrome, Aik bilang gini,"Bunda, Aik mau ke Turki lagi, kita belum ke Hipodrome." Yaelah Naak, masih juga hari ketiga di Turki udah pengen balik lagi ke Turki hehe. Ya wes lah daripada nanti ditagih lagi sama Malik akhirnya kami putuskan pergi. Sambil istirahat juga seh, soalnya pesawat kami berangkat shubuh dan kami berencana nginep di airport, jadi ya ngabisin waktu di Istanbul sekalian deh.
Untuk ikut tour ini, kita bisa naik dari pelabuhan Eminonu. Berhubung seberangnya pelabuhan Eminonu ini adalah Yeni Camii, alias mesjid baru yang di sebelahnya terdapat Spice market, jadilah aku mampir dulu di Spice market. Spice market terkenal dengan isinya yang penuh jualah rempah-rempah khas Turki meskipun souvenir dan makanan juga ada.
Yang menjadi highlight di perjalanan Bosphorus tour adalah kami bisa melihat daratan Asia, karena jembatan Bosphorus ini jembatan yang menghubungkan dataran Eropa dan Asia. Kami melewati banyak bangunan-bangunan cantik termasuk istananya raja Turki setelah pindah dari Topkapi Palace, namanya Dolmabahce palace. Kami juga melihat city wall europe-asia, sambil ga jelas juga sih karena udah kecapean.
Setelah ikut Bosphorus tour, kami cobain dinner di deket Eminonu, ternyata mahal dan tidak enak seafoodnya hiks padahal udah ngebayangin seafood ala pangandaran.
Lalu kami cabut ke airport dan mengambil barang-barang yang sudah disimpen di locker airport, berkemas-kemas dan siap-siap tidur. Airport Attaturk tengah malam ternyata ramee banget. Untung anak-anak bisa tidur sambil beralaskan apa aja yang diambilnya dari koper. Pagi harinya sampailah kami di Duesserdorlf lalu kami pun berkereta pulang ke Groningen.
Turki negara yang indah, dan banyak tempat indah lainnya yang belum aku kunjungi, suatu saat yaaa mudah-mudahan ada kesempatan lagi...
Day 11, Pamukkale
Pamukkale artinya 'cotton castle'. Di foto-foto dalam website pas aku hunting tempat tujuan, tempat ini kayanya indaaaah banget. Tapi ternyata tempatnya ga seindah dalam foto, rada-rada kuciwa soalnya jalan untuk ke tempat ini penuh perjuangan bener Jam 17.30 kami naik bus dari Antalya ke Denizli dulu. Sampe Denizli jam 9 malem, harus nunggu bus Denizli-Pamukkale selama 1 jam. Jam 10 malam mini bus yang umpel-umpelan itu baru berangkat. Busnya butuut banget, berasa di negara antah berantah deh pokoknya karena masuk pelosok-pelosok kota kecil gitu. Setelah sampe di Pamukkale, mau ke hotel bingung, katanya cuma 200 m, tapi tanya orang katanya jauh. Untung ga lama ada mobil khusus dari hotel Venus jemput kami, alhamdulillah ga perlu jalan, karena udah jam 11 malem teler bo!
Tapi ya lumayanlah anak-anak seneng. Hotel Venus yang kami tempati asik meski murah. Pantesan tempat ini jadi hotel recomended no 1 kalo liat review di website-website.
Besok paginya baru kami pergi ke tempat atraksi. Di Pamukkale ini ada air panas dan travertines (a terrestrial sedimentary rock, formed by the precipitation of carbonate minerals from geothermally heated hot-springs, terjemahin sendiri deh artinya puyeng kalo udah urusan sama geologi xixixi).
Untuk menuju tempat ini kami harus jalan cukup jauh dari hotel 2 kilo apa 3 kilo ada kali, dan lagi-lagi problemnya adalah, panaaas! Meski ga sepanas di Konyaalti beach tapi ya panas. Jadi daripada terpanggang matahari, siang-siang kami malah istirahat sejenak di sebuah cafe, lamaa bener istirahatnya padahal pesen makannya cuma dikit hehe.
Yang unik, ada makanan khas daerah Pamukkale, namanya Gozleme, sepertinya bahannya sama kaya bikin kulit martabak, tapi ditambahin daun bawang. Dan bikinnya dengan tangan kosong dong, yang kebersihannya hmm wallahualam bissawab.
Setelah jam dua an barulah kami naik ke traventines. Anak-anak seneng banget berendem disana, berikut ayahnya. Oiya celananya malik yang dijemur hilang, aik sempet nangis karena kehilangan celananya. Tapi anak-anak ya seneng aja karena puas berenang. Hasilnya kulit anak-anakku makin gosong song! Eh lucunya, di tempat ini kami ketemu sama pemilik hotel pas di Antalya, anak-anaknya lucu-lucu montok-montok.
Day 10, Antalya: Konyaalti Beach
Pantai ini indah sih, tapi panasnyaaa ampuun, 45 derajat C! Jadi aku mendadak kehilangan jiwa narsis deh disini, lebih banyak baeud hehe. Rasanya udah ga nikmat lagi dalam cuaca sepanas itu, terutama perjalanan dari hotel menuju pantai.
Oya, untuk pergi ke pantai ini harus naik tram dulu dari city center old town, tapi setelah itu ya jalan lagi, jauuuh! Pokoknya berjalan jauh di tempat sepanas itu penderitaan deh. Maklum lah budget traveler, pengiritan jadinya kami ga pake taksi-taksian yang ber AC.
Untungnya pas di pantai rada seger karena ada angin. Tapi pas mau ke kota lagi haduuuh...mana naik pulak jalannya, wadaw ! Anak-anak sepanjang jalan juga rewel, untungnya setelah nyemplung di pantai sih seneng aja dan gosooong!
Kalau mau berjemur dan bersantai di tempat ini, udah ada kapling-kapling khusus, makin jauh makin murah bayarnya. Pokoknya inilah tempat yang palling membuatku menderita selama di Turki hehe.
Day 9, Antalya: Old Town dan Antalya Harbour
Old Town Antalya kota yang cantik. Tapi kalo summer, panasnya maaak, ampuun!
Saking panasnya, di deket Hadrian gates saat itu banyak orang-orangtua kongkow-kongkow cari kesejukan.
Sebetulnya banyak tempat menarik di kota pinggir Antalya. Roman, Byzantine, Seljuk dan Ottoman- architecture serta cultures banyak dijumpai di kota ini. Tapi kami betul-betul ingin menikmati kota old town nya aja. Anak-anak lebih seneng berenang di hotel. Hotelnya meski murah tapi ada kolam renang mungil.
Yang bisa dinikmati di old town Antalya (Kaleici: historical centre di Antalya) sambil jalan kaki:
- Kesik Minare alias broken minaret.
- Hadrian Gates, dibangun pada abad ke 2 M, dijaman Romawi, untuk menghormati raja Hadrian.
- Pasar Antalya
- Clock Tower
- Yilvi minaret, simbol kota Antalya yang letaknya di pusat kota.
Jadi jalurnya dari Hadrian gates, jalan lewat pasar, nanti keluar ujungnya ada patung Atalos II, dari situ keliatan semua deh Yivli Minaret dan clock Tower, karena pusat old Town Antalya ada disitu.
Yang jauh lebih cantik menurutku adalah old harbournya. Pantes kalau old harbour ini sempet dapet award katanya. Perpaduan antara pelabuhan yang bentuknya melengkung, kapal-kapal dan gunung-gunung di kejauhan membuat Antalya old harbour jadi tempat yang menyedot turis.Ada paket-paket perjalanan naik kapal ke tempat-tempat asik di sekitar pantai Antalya, banyak juga resto-resto menjual seafood, tapi mahal bo! Ya pasti lah sebab, tempatnya memang cantik. Pokoknya old town Antalya ini termasuk recomended destination bagi yang suka pantai.
DI tempat ini kami bertemu beberapa orang Turki yang tinggal di Belanda. Ada yang nyetir sendiri 3 hari sama keluarga, ada juga yang naik pesawat. Mereka tentu aja bisa bahasa Belanda dan mengajak Malik dan Lala ngobrol bahasa Belanda.
Day 7 and 8, Konya
Konya adalah kota yang kabarnya paling agamis di Turki. Tak salah memang, karena ketika aku menginjakkan di kota ini, jumlah orang yang berkerudung sungguh banyak, yang sholat di mesjid juga banyak.Kota ini menurutku agak gersang, apalagi di stasiunnya. Tapi setelah berada di pusat kota, dimana mesjid Sultan Semi berada, barulah terasa agak rimbun karena ada taman besar dan banyak pohon. Dan yang rada ajaib di kota ini, hotelnya murah banget! Tapi kalau di bulan Desember hotel-hotel sering penuh dan harga naik karena selalu ada acara memperingati kelahiran atau kematian Rumi ya lupa deh. Jadi semua pengagumnya dari seluruh dunia biasanya datang berkunjung.
Mevlana Museum
Di kota inilah makam Jalaludin Rumi berada, tepatnya di bawah kubah hijau dalam Mevlana museum. Mevlana museum ini menjadi atraksi paling menarik di Turki. Kebanyakan pengunjung datang ke Konya selain ingin melihat tarian Rumi yang terkenal (Whirling dervhishes) juga ingin mengetahui sejarah Rumi dan berziarah ke makamnya. Semua orang mengadahkan tangan berdoa ketika tiba di depan makam Rumi. Sebelum masuk area makam, semua orang harus pake 'kaos kaki' plastik warna biru, jadi ga boleh pake sepatu. Bule-bule dan turis yang ga berkerudung pun mendadak harus beli kerudung diluar karena untuk masuk ke dalam museum ini harus pake baju sopan. Di dalam museum ga boleh foto, tapi yang jelas sejak masuk sampe keluar ruangan, iringan suasana musik yang shahdu dipadu cahaya remang artistik membuat pengunjung larut dalam suasana.
Selain ke Mevlana museum kami juga istirahat sejenak di mesjid Sultan Selim, yang letaknya persis di sebelah Mevlana museum. Sore-sore pas baru aja datang, kami juga menyempatkan diri untuk pergi ke Alaadin mosque di Alaettin Hill, mesjid ini dulunya dibangun saat Sultan Seljuk era, usianya sudah lebih dari 1000 tahun. Di mesjid ini dulu Rumi juga suka sholat.
Jalan sedikit di sekitar Alaadin Mosque ini ada Ince Minare madrese, yang dulunya merupakan sekolah agama di abad 13, tapi sekarang sudah berubah jadi museum batu dan wooden inscriptions. Lucunya di tempat ini karena sudah tutup, kami cuma foto-foto di depannya, lalu satpam ngeliat kami. Akhirnya kami diajak ngobrol dan disuguhin teh. Salah seorang dari mereka bilang,"Cariin aku jodoh orang Indonesia dong," katanya hihi. Dia serius ngasih nama dan alamat email.
Day 6, Cappadoccia Tour
Goreme Open Air Museum, Pasabag Valley, Drevent Valley, Avanos, Kaymaykali underground city, Pigeon valley, Uchisar, Urgup
Menjelajahi Cappadocia yang indah tidak mungkin kita lakukan dengan jalan kaki. Medannya yang berliku dan saling berjauhan mau ga mau mengharuskan kita ikut tour. Kalau kita bisa sewa mobil sendiri lebih asyik sebetulnya, karena biaya tour lumayan mahal juga.Tapi karena tidak ada pilihan lain, jadi kali ini kami ikut tour yang ternyata private, padahal tau gitu ikut yang rame-rame aja. Tapi sayang tour yang sudah kami booked udah ga bisa di cancel. Ya ga pa pa juga sih sekali-kali ngerasain seperti orang kaya yang selalu ikut tour private J. Enaknya, tour yang kami pilih ini udah bisa mengunjungi hampir semua tempat ‘highlight’ di Cappadocia. Walaupun agak terburu-buru, tapi setelah dijelaskan oleh guide kami, suamiku masih sempat menjelaskan ulang ke anak-anak.
Goreme Open Air Museum (GOAM)
Tour guide kami bernama Faiza. Dia seorang gadis Turki asal Nevsehir. Umurnya kira-kira 28 tahun. Bahasa Inggrisnya sebetulnya kurang bagus untuk ukuran seorang tour guide. Tapi ya gimana lagi, dia yang nongol menjemput di hotel kami, masak mau disuruh pergi hehe. Dia datang bersama seorang supir tua bernama Mehmet. Di Turkey nama Mehmet pasaran buanget. Kami dijemput dengan mobil model kijang gitu, tapi lebih nyaman dan keren. Duh noraknya daku, setelah bertahun-tahun naek sepeda terus kemana-mana gitu loh. Wah pokoknya berasa jadi orang kaya deh xixixi.
Kami langsung dibawa ke GOAM yang letaknya tak jauh dari desa Goreme. GOAM ini daerahnya berbukit-bukit batu. Di beberapa tempat terdapat banyak ‘fairy chimney’ yang di dalamnya ada gereja-gereja peninggalan jaman Byzantium. Katanya gereja ini dibuat oleh para pendeta di abad 10 hingga 12. Jangan bayangkan gereja yang megah dan mewah. Gerejanya ya berada di dalam gua yang sempit itu. Hanya ada altar kecil ditengah, beberapa kuburan dan lukisan-lukisan para santa di dinding dinding gua. Khas yang bisa diliat di GOAM ini memang lukisan-lukisan di dinding gua gereja. Nama gerejanya dibuat oleh orang setempat. Ada Apple church, santa barbara church, snake Church, Sanders Church dan lain-lain. Mereka mengajarkan ajaran Kristen dulu lewat gambar-gambar di dinding karena pada saat itu orang belum bisa baca tulis. Di salah satu gereja ada lukisan Jesus waktu masih muda. Lalu di gereja yang lain ada lukisan seorang pendeta berpayudara besar tapi berjenggot. Rupanya dulu ia adalah pendeta perempuan yang ingin menjadi laki-laki. Gambarnya unik-unik deh. Aku jadi melihat orang jaman dulu yang tampaknya lebih dekat dengan Tuhan, ga seperti orang di jaman sekarang yang makin lama makin sekuler.
Pasabag Valley alias Monk Valley
Setelah melanjutkan perjalanan lagi, kami berhenti di sebuah lembah. Lembah ini punya keunikan tersendiri karena ujung-ujung batu berbentuk chimney itu seperti berkepala. Di dalamnya terdapat banyak lubang-lubang. Rupanya batu berlubang ini dulu dijadikan para Monk untuk tempat bermeditasi. Mereka bisa bermeditasi disana selama 1-2 bulan. Karena itu lah lembah ini disebut Monk Valley
Drevent Valley
Lembah ini disebut juga Imajinary Valley. Selama perjalanan ke lembah ini Faiza bercerita tentang proses terjadinya keunikan daerah Cappadocia. Cappadocia artinya ‘the land of beautiful horses’. Dulu, jutaan tahun yang lalu ada sekira 3- 6 buah gunung berapi di area ini, yang kemudian meletus dan mengeluarkan material yang membentuk batu-batuan. Akibat banjir dan erosi, batu-batuan itu terkikis, tapi hanya sampai bagian ‘leher’ nya saja. Karena itu lah formasi batu-batuannya seperti membentuk kepala.
Ada cerita versi lain yang menjelaskan kenapa daerah Cappadocia formasi nya menjadi seperti susunan cerobong asap. Tapi ini hanya mitos belaka. Katanya orang jaman duluuu sekali, yang pertama kali datang ke Cappadocia masih percaya sama peri-peri. Dan mereka percaya bahwa dulu peri-peri tinggal di dalam tanah. Batu-batuan berbentuk cerobong asap itu adalah cerobong-cerobong asap rumah para peri. Hmm…ga masuk akal banget kan. Yaa namanya juga mitos J.
Kembali ke Drevent Valley, di lembah ini banyak sekali formasi batu-batuan yang bentuknya lucu-lucu dan aneh. Kita bisa melihatnya sebagai bentuk apapun sesuai imajinasi kita. Itu lah sebabnya lembah ini disebut juga Imajinary Valley. Yang paling terkenal di lembah ini adalah batu berbentuk Onta, dan memang bentuknya persis banget Onta. Lala dan Malik aku minta untuk berimajinasi melihat batu-batuan itu. Lala menemukan batu berbentuk kepala lumba-lumba, kangguru dan marmut. Sedangkan Malik melihat huruf H dan kepala hiu. Pokoknya bebaskan pikiran sebebas-bebasnya dan kita akan melihat bentuk batu beraneka rupa sesuai imajinasi kita.
Sarikaya Cave Resto Uranos
Tak terasa, siang sudah menjelang. Perut tentu saja keroncongan. Kami ga menyangka kalau kami bakal dibawa ke restoran yang super unik. Mobil membawa kami ke sebuah daerah bernama Uranos. Dari kejauhan kami melihat sebuah bukit. Memang bukit itu terkesan garing dan biasa-biasa saja. Tapi uniknya di bawah bukit ada bangunan seperti pintu besar yang di depannya ada sepasang patung burung elang. Di dinding sebelah atas tertera tulisan,”Sarikaya Cave Restaurant’. Wow, restaurant dalam gua rupanya? Batinku. Lalu Faiza mengajak kami masuk. Dan ternyata..eng..ing..eng, benar saja, restorant ini memang berada di dalam gua si bukit itu! Tapi tentu saja sudah didekorasi sedemikian rupa sehingga menjadi nyaman dan enak dipandang.
Di dalam ruang utama sudah banyak turis yang rupanya makan disana juga. Kayanya semua turis yang ikut tour dibawa makan ke tempat ini deh. Makanannya lumayan enak. Pottery kebabnya paling enak diantara pottery kebab di tempat lain yang pernah kumakan. Dan baklava nya dong, duuuh… the best baklava in my life deh, ceilee J. Rasa baklava nya ga terlalu manis, ga giung, tapi gurih manis, waah pokoknya toop banget!
Baru pertama kali ini aku makan kumplit ada appetizer, makanan utama dan dessert. Berasa orang kaya bener hehe. Appetizernya dua macam sup, sup lentil yang dikasih daging asap dan sup bayam. Menu utama disini memang pottery kebab, tapi aku pilih ikan. Sayangnya ikannya bener-bener ga dibumbuin apa-apa Cuma dipanggang doang. Tinggal kita sendiri yang kasih bumbu jeruk nipis dan garam, waah nyesel tau gitu pesen pottery kebab deh. Dessertnya ya si baklava yang uenak tenan itu dan buah-buahan.
Asyiknya lagi, di tengah-tengah ruangan ada pemusik yang memainkan musik khas Turki. Pemusik ini jadi kerubungan anak-anak dan tentu aja jadi objek foto juga.
Avanos
Saat mobil berjalan menuju Avanos, pemandangan sedikit berubah. Di pinggir-pinggir jalan berbukit ini aku melihat kebun kentang, melon, anggur dan buah apricot tentu saja. Buah bulat berwarna kuning itu memang banyak tersebar dimana-mana di Cappadoccia. Malik senang mengambil apricot yang berjatuhan di tanah dan mencicipinya. Ternyata rasanya manis!
Tak lama, mobil kami telah parkir di depan sebuah rumah. Rumah ini mengingatkan aku pada rumah- rumah di Indonesia. Rumah besar dan tua dengan halaman yang luas. Seorang pria paruh baya menyambut kami.”Ibrahim,” katanya mengulurkan tangan pada suamiku. Ibrahim rupanya adalah salah satu pemilik pottery maker ini. Perusahaan keluarga milik Ibrahim telah berjalan puluhan tahun. Kami memasuki sebuah ruang workshop. Seorang lelaki berkacamata menyambut kami. Ibrahim yang bahasa Inggrisnya cukup bagus, langsung memintanya untuk mempraktekan cara membuat keramik.
Pria itu mengambil segumpal tanah liat yang kemudian dicelupkannya ke dalam air. Diremas-remasnya si tanah liat lalu ia meletakkan tanah lempung itu diatas sebuah alat putar. Alat putar bekerja bila ia menggesek-gesek kakinya ke kaki alat. “Misi Aik ketemu!” sahut Aik. Misi Aik kali ini memang mencari mesin pembuat pottery. Lala dan Malik terpukau melihat bagaimana segumpal tanah liat berubah menjadi sebuah botol keramik dengan pinggang di tengahnya. Pria yang sudah bekerja selama 17 tahun bersama Ibrahim itu memegang-megang bagian atas botol dengan telunjuknya. Dan taraa! Ujung atas botol keramik berubah menjadi seperti bunga. Botol keramik ini harus dikeringkan selama 2 minggu sebelum kemudian diproses lebih lanjut.
Kami kemudian dibawa masuk ke showroom milik Ibrahim. Wow! Aku tak menyangka, rumah yang dari depan tampak biasa-biasa ini, ternyata memiliki show room begitu luas. Piring-piring keramik beragam jenis bergantungan di dinding, mulai dari yang murah hingga yang paling mahal. Di tengah-tengah ruangan, segala jenis keramik mulai dari kaligrafi, gambar bunga, lukisan manusia terpajang di atas meja. Malah di sebelah pojok ruangan ada keramik gentong raksasa setinggi pinggangku.
Lalu kami bertemu lagi dengan seorang lelaki berkacamata yang sedang mengukir sebuah piring besar. Rupanya setelah tanah liat menjadi sebuah piring, proses selanjutnya adalah menghias keramik tersebut. Untuk melukis di piring sang pelukis harus membuat polanya terlebih dulu. Setelah pola jadi, baru lah ia bisa melukisnya dengan berbagai warna. Dan ternyata ia tak boleh melakukan kesalahan, karena salah sedikit saja si piring akan cacat. Karena itu proses melukis di atas keramik harus dilakukan dengan hati-hati sekali. Tak heran kalau akhirnya piring besar ini baru selesai dikerjakan setelah 2 bulan! Hmm..kebayang betapa harus telatennya sang pelukis.
Sambil melihat keramik-keramik pajangan, Ibrahim menjelaskan tentang arti lambang bunga tulip yang menjadi simbol negara Turki. Rupanya saat jaman Ottoman, orang-orang kerap mengekspresikan cinta lewat bunga tulip. Mereka pun menggambarkan bunga tulip dalam lukisan-lukisan sebagai lambang cinta. Tulip merupakan lambang cinta bagi mereka. Itu lah sebabnya lantas negara Turki mengambilnya sebagai simbol negara.
Kaymaykali Underground city
Kami keluar dari rumah Ibrahim pukul empat sore. Tour kami akan berlanjut ke Kaymaykali Underground city. Kota di bawah tanah ini letaknya agak jauh dari Avanos, hampir satu jam perjalanan. Aku dan anak-anak malah sempat tertidur karena lelah. Tak terasa, tiba-tiba kami sudah sampai di pelataran parkir Kaymaykali. Setelah pelataran parkir, kami disambut oleh jejeran toko-toko souvenir. Faiza terburu-buru mengajak kami masuk karena khawatir kota bawah tanah ini akan segera tutup. Ketika memasuki gerbang Kaymaykali, kami seperti hendak memasuki sebuah gua. Hawa luar yang panas mendadak menjadi sejuk bahkan lama-lama malah dingin menggigit.
Pigeon Valley
Di daerah ini, penampakan formasi batuannya lucu, seperti cerobong asap, tapi dipuncak-puncaknya berbentuk jamur dan disitu jaman dulu para pigeon’ membuat sarangnya. Makanya disebut Pigeon Valley.
Uchisar
Disini ada ‘the three beauty’, formasi batuan yang berjejer 3.
Urgup
Desa di sebelahnya Goreme, tapi menurutku lebih unik Goreme. Di sini juga banyak cave hotel, tapi desa ini ga se-cozy Goreme.
Subscribe to:
Posts (Atom)