Tuesday, August 12, 2008

Day 5, Oslo-Bergen: Karl Johans Gate dan Geilo




Day 5: Senin, 4 Agustus 2008

Oslo, Karl Johans gate
Buat aku, tempat ini mungkin bisa dibilang tempat yang paling asik di Oslo, karena ada pedestrian street kesukaanku tentu :-). Apalagi cuaca hari itu tak sepanas sewaktu hari pertama kami ke Oslo. Pedestrian streetnya memanjang, dari arah central stasiun hingga ke Royal Palace. Di antaranya berdiri parlement building, Nathional theatre, University building dan Oslo Cathedral. Di tengah-tengah jalan panjang itu juga ada taman dengan air mancur, café terbuka serta boulevard.

Di samping kiri kanan Karl Johans gate dipenuhi oleh restorant, shopping area, dan café. Karena perut sudah keroncongan, kami sempat makan di sebuah resto Peppi Pizza yang banyak bertebaran di Norway. Still stand juga ada disana lho. Sayangnya kami tidak punya cukup coin NOK. Dan sebelnya, setelah Lala memberikan uang coin pada salah satu still stand yang tubuhnya dicat warna emas, badan si Still stand hanya bergerak menunduk separuh, ga sampai tegak. Sepertinya gara-gara uang yang diberikan oleh Lala hanya sedikit. Hiyaa matre deh si Still stand! Oya di Oslo juga banyak pengemis berkerudung gituh. Dari wajahnya sepertinya mereka orang Rusia, tapi ga tau juga denk. Duh pengemis kenapa dimana-mana suka kerudungan seh .

Oslo-Geilo Camping Park

Dalam rencana awal, kami akan bermalam di Oslo sebelum melanjutkan perjalanan ke Bergen. Tapi rencana kami berubah. Berhubung jarak Oslo-Bergen cukup jauh (sekira 8 jam perjalanan dengan mobil) esoknya perjalanan harus dimulai pukul 4 pagi supaya sampai di Bergen tidak terlalu malam. Tapi ini sungguh sebuah rencana yang sulit dijalankan mengingat badan yang sudah lelah. Akhirnya kami memutuskan melanjutkan perjalanan saja, ga jadi nginep di Oslo. Kami Cuma berharap semoga masih bisa mendapatkan camping park on the spot.

Perjalanan dari Oslo-Bergen cukup membuat mabuk kepayang alias jalannya sempit dan berliku-liku banget. Malik sampe muntah bahkan. Pemandangan sepanjang jalan mulai tak biasa. Indah, persis seperti lagu yang dinyanyikan Uyung,”Sungguh indah kampung halamanku, di kaki gunung yang biru.” J. Kadang-kadang kami melihat hamparan ladang gandum berwarna kecoklatan, kadang hamparan hijau dengan danau bening di dekatnya beserta pemandangan gunung-gunung dan rumah-rumah kayu cantik berwarna merah dan kuning. Oh indahnya…Puncak Jakarta lewat deh. Para fotografer ga berhenti jeprat-jepret. Pak sopir juga sempat berhenti beberapa kali. Malah sempet masuk ke pekarangan orang yang rumahnya di tepi danau. Suara gonggongan anjing langsung terdengar, disangka kami rampok kali hehe. Tapi rupanya si pemilik rumah baek koq. Dia ngajak kami ngobrol, malah kami boleh berenang di danaunya kalau mau katanya. Walaah.

Di tempat yang indah dimana biasanya mobil berhenti sejenak, selain mengagumi alam, tentu kami sekaligus foto-foto dong. Gaya ngapung di tempat sepi begini tak lupa juga kami lakukan, mumpung ga ada orang jeh. Pokoknya setelah pulang, kami sepertinya sudah layak mendapat diploma karena telah ahli dalam foto berbagai gaya ngapung J

Setelah hari gelap, alhamdulillah kami dapat tempat menginap. Daerahnya lumayan asyik. Nama tempat camping kami, Geilo camping park. Tapi alamaak disini dingiin! Ga heran karena daerah Geilo memang terletak di pegunungan, ketinggiannya sekira 800 m dari laut. Di Geilo ini banyak tempat peristirahatan yang katanya sudah ada sejak 100 tahun lalu. Rupanya Geilo memang merupakan ski resort. Malahan Geilo disebut-sebut berada di area ‘winter wonderland’. Di tempat ini lah terdapat salah satu ski lift yang tertinggi di dunia, dengan ketinggian 3887 kaki.

Area camping park kami terletak di pinggir danau dengan pemandangan hijau dan gunung-gunung di sekitarnya, bagus deh. Sesampainya di kamar, langsung deh kami masak makan malam dengan menu kornet goreng, telor goreng plus tempe tahu tumis. Wah ternyata makanan kaleng pun enak banget, meski ga sehat tentu aja. Ya tapi sekali-kali boleh lah yaw. Oya, kamar mandi di tempat camping ini terpisah. Kalau mau mandi air hangat, kami harus bayar pake coin Kron. Wah bener-bener deh di Norway, apa-apa mahal!


Day 4, Stockholm: Skansen Open Air Museum dan Museum di sekitarnya




Day 4: Minggu, 3 Agustus 2008

Skansen Open Air Museum

Walaupun harus bayar per orang dewasa sekira 10 euro dan anak-anak separuh harga, tapi ga rugi deh pergi ke tempat ini. Mungkin bisa dibilang belum ke Stockholm kalo belum ke Skansen. Museum di udara terbuka ini menawarkan keunikan tersendiri yang bisa membuat kita serasa benar-benar berada di abad ke-18 atau 19. Apalagi di sepanjang jalan tampak beberapa perempuan berbaju Sweden lalu lalang dengan membawa keranjang di tangan. Rasanya kita benar-benar diajak untuk kembali ke masa lalu. Skansen adalah open air museum pertama di dunia yang dibangun pada tahun 1891 oleh Arthur Harzelius. Rumah tempat ia lahir pun bisa kita liat di museum ini. Pergi ke tempat ini ga bisa sebentar, minimal harus setengah harian mengingat areanya yang sangat luas.

Disini kita bisa melihat kehidupan orang Sweden jaman dulu yang memperlihatkan juga bagaimana mereka dulu bekerja. Skansen menjadi semakin menarik karena perpaduan unsur masa lalu dan masa sekarang. Setelah membayar ticket dan masuk ke dalamnya, kita akan menemui eskalator tinggi sekali yang menembus bukit. Setelah keluar dari eskalator, tempat-tempat menarik telah menanti kita. Intinya, tempat ini terdiri dari berbagai jenis taman, rumah-rumah bersejarah berikut cara bekerjanya, centrum desa masa lalu, peternakan, dan kebun binatang dengan normadic animalnya. Tentu saja di dalamnya juga tersedia restaurant beserta toko-toko makanan khas sweden masa lalu.Di jam-jam tertentu malah ada folk dance dan musik khas Sweden.

Berikut ini beberapa atraksi yang ada di dalam skansen open air museum yang sempat kami lewati:

- Ada sekira 150 model rumah jaman dulu yang betul-betul asli dan memang dikumpulkan oleh tuan Arthur. Kalau tidak salah hanya dua buah rumah yang tidak asli.
- Ada rumah yang digunakan sebagai pabrik pembuatan gelas. Kami sempat menonton bagaimana cara mereka membuat gelas sehingga menjadi lucu-lucu bentuknya, malah ada yang berbentuk moose dan jamur segala. Tapi hmh…si peraga meuni jutek pisan, berikut lamaa bener sampe penonton kecewa dan bosen dan akhirnya kami pun satu persatu meninggalkannya.
- Ada pabrik mesin, yang didalamnya segala rupa mesin jadul ada, berikut mesin tik jadul banget juga ada. Oya diluar pabrik mesin ini ada sepeda jadul banget.
- Ada apothek yang menyediakan ramuan obat, salah satunya obat yang bau banget, yang katanya berasal dari setan?. Di seberang apothek ini ada café yang menjual cake. French Cake coklatnya enak!
- Saat perempuan-perempuan berbaju Swedia lalu lalang, langsung deh kami berebutan minta difoto bareng, norak ya J.
- Ada kereta api mini yang keliling skansen, tapi harus bayar lagi. Funicular juga ada, tapi harus bayar lagi juga.
- Aku paling suka berada di centrum desanya, duuh betul-betul serasa berada di masa lalu. Di centrum itu ada batu monumen di tengahnya. Lalu di pinggir jalannya ada warung penjual makanan, permen-permen khas Sweden. Warungnya unik dengan atap rumput. Penjualnya juga pake baju khas Sweden. Dan tentu aja, ada gereja disana, yang sebelahnya ada kuburan. Di depan gereja itu ada lahan buat naro jerami. Dan di dekat monumen batu ada juga restaurant yang modelnya juga khas warung sweden masa lalu. Kalo ga inget waktu, betah deh berlama-lama disini.
- Anak-anak seneng banget berada di kebun binatang. Aik apalagi, seneng banget pas ada di kandang pus. Kandangnya lucu, ada banyak banget dot warna-warni dihias lucu. Malah ada sumur dot segala. Tapi dot nya bauuu. Sepertinya itu dot bekas kucing-kucing.
- Di kandang kambing anak-anak bisa kasih makan kambing pake daun-daun yang ada rantingnya. Amira malah kambingnya dinaekin segala. Sedangkan Aik takut-takut saat ngelus kambing
- Ada normadic animal juga disini, moose dan reindeer adalah binatang yang paling spesial. Selain itu ada beruang dan patung beruang menghadap ke atas, anjing laut dan aquarium juga ada. Sayangnya kami harus bayar lagi kalau mau masuk.
- Dari kebun binatang, kami memasuki area peternakan. Di salah satu rumahnya yang remang-remang ada perempuan Sweden menunggui ‘warung kejunya’. Dia menjelaskan bagaimana proses keju dibuat. Naa di belakang rumah keju itu ada lahan miring yang ujungnya terbuat dari kayu, enak banget buat tempat loncat. Langsung deh kami bergaya loncat disana. Anak-anak hebat berani loncat semua. Tapi ibu-ibu ga ada yang berani, Cuma aku doang hehe. Ternyata difoto dengan gaya lompat itu asik walaupun rada sakit. Tapi aku serasa kembali ke masa anak-anak lagi. Dan saat itu kami puas ketawa-ketawa, menyegarkan hari deh pokoknya.
- Sami camp, unik banget tempat ini. Tempat ini seperti tenda segitiga tapi terbuat dari kayu. Ada nenek-nenek berkepang dan berbaju Sweden di dalamnya yang menjelaskan tentang tempat campingnya orang Sami kalo summer ini. Di dalam tenda ini ada kulit binatang tebel yang dijadikan alas seperti karpet dan ada tempat tidur bayi berbentuk sepatu dari kulit, unik banget.
- Ada rumah tempat lahirnya Arthur, penemu Skansen. Di dalamnya ada ruang tamu, ruang kerja, kamar dan dapur juga. Dapurnya bener-bener jadul banget!
- Ada rumah di atas panggung yang didalamnya kami mendapat penjelasan tentang cara membuat kain/karung dari jerami.
- Ada taman bermain lucu banget dengan 3 ekor domba yang dari jauh bener-bener mirip domba. Kruil-kruil lucu banget bulunya. Disana juga ada jamur-jamur raksasa buat main. Wah orang dewasa aja betah main di tempat ini.
- Rombongan sempet terpisah gara-gara aku dan teman-teman keasikan foto sama patung beruang hehe. Untung akhirnya kami bisa ketemuan lagi di Rose garden.

Begitulah kira-kira gambaran tentang Skansen Open Air Museum. Setelah itu kami sempat ke area Djurjangen lainnya. Sebuah komplek museum dipinggir sungai. Tempatnya indah banget. Ada café di pinggir sungai dekat jembatan yang cafenya didekorasi oleh bunga-bunga merah. Ada kapal-kapal parkir di tepi sungai. Wah cantik banget pokoknya. Karena waktu terbatas kami Cuma foto-foto sejenak disana. Ternyata di tempat itu ada Nordic museum, Vasaat museum alias viking museum (yang didalamnya ada kapal viking besar banget), lalu ada juga Junibanken, tempat kalau mau ikut tour cerita anak-anak terkenal ‘Pipi si Kaus Kaki panjang’. Sayang tempat itu sudah tutup karena ketika kami tiba disana sudah jam 6 sore. Alhasil kami cuma foto-foto aja, padahal penasaran juga sebetulnya. Duuh Stockholm memang ga cukup dijelajah dalam 1,5 hari!

Monday, August 11, 2008

Day 3, Stockholm: Gamla Stan (old town)




Day 3: Sabtu, 2 Agustus 2008

Stockholm

Hari ini peserta lebih seger dan lebih bersemangat, tapi juga berangkat agak siang jadinya. Padahal perjalanan dari Karlstad ke Stockholm masih 4 jam lagi. Kami sampe di Stockholm sekitar jam 2 siang dan kami udah kelaperan. Sewaktu mulai memasuki kota Stockholm, aku memperhatikan dinding-dinding tebing batu yang ada di tepi-tepi jalan. Ternyata tebing-tebing batu itu ga dibiarkan begitu aja, tapi dibuat dengan corak tertentu sehingga enak dipandang mata. Dan makin mendekati old town, ternyata Stockholm makin cantik! Apartemen disusun unik dengan tembok warna kuning dan atap berbentuk kubah hitam, banyak juga bangunan dengan dominasi warna merah dengan atap-atap berbentuk unik. Bangunan-bangunan tua nan megah berdiri hampir di setiap sudut kota. Dan yang membuat Stockholm tampak semakin indah adalah karena dimana-mana banyak air! Stockholm memang terdiri dari beberapa kepulauan. Kapal-kapal yang berlabuh di tepi bangunan-bangunan tua, jembatan panjang yang mengitari kota, café-café cantik di pinggir perairan, wah semua membuat Stockholm begitu indah dipandang mata.

Sayangnya, begitu mobil kami parkir di area Gamla Stan (area pedestrian street yang jalannya cukup panjang dan asik), hujan turun cukup deras. Sampai-sampai sambil belanja souvenir kami terpaksa beli payung dan beli sepatu untuk Lala dan Malik yang sepatunya mendadak mangap karena basah. Ga heran kalau kota ini sering mendung dan hujan, karena matahari bersinar di kota ini hanya 2,5 bulan saja dalam setahun. Bahkan ketika winter, cuaca terang hanya 6 jam saja dalam sehari. Wiii biar kotanya cantik tapi kalau cuaca gelap melulu begini mikir-mikir juga kalau ditawarin tinggal disini J.

Area belanja di daerah ini luaas banget, kenyang deh kalau mau belanja. HnM katanya berpusat disini, karena itu toko baju ini banyak bertebaran disini. Dan yang bikin betah berada di Stockholm adalah, restoran Asianya! Yup! Banyak banget resto Asia bertebaran dimana-mana! Hwaa ngiri abiz deh. Di Belanda aja ga sebanyak disini. Berikut harganya murah pulak! Pendatang dari negara lain memang banyak di kota ini. Lalu kami mendadak seperti orang yang ga pernah makan sebulan setelah masuk ke sebuah Thai buffee (namanya Pong restaurant, recommended banget dah). Dengan harga yang ga terlalu mahal untuk ukuran buffee, berikut dalam menunya ga ada babi sama sekali, wuaah berpesta pora lah kami. Mana rasanya enak bangeet, cocok sekali di lidah kami yang penggemar makanan Asia. Buah-buahan tersaji lengkap, bahkan rambutan pun ada. Anak-anak laper mata ngambil rambutan satu piring, dan habis lho! Buah melon, leci, semangka, kumplit deh kaya di kondangan. Salad juga tersedia, ada salad sayuran, salad cumi dan salad ayam. Menu makanannya, wow, bener-bener kaya di hajatan. Ada nasi putih, nasi goreng, kwetiaw yang enak banget, ada sambel goreng udang, cumi tumis, ayam sate, capcay, daging bumbu kari, lumpia, macem-macem deh. Duuh jadi laper pokoknya kalo inget menunya J.

Gamla Stan

Aku suka berada di tempat ini. Walaupun hujan kadang deras kadang rintik turun, tapi aku tetap semangat dong menjelajahi tempat unik ini. Gamla stan berada di salah satu pulau kecil di pusatnya Stockholm. Berada di tempat ini seperti menjelajahi maze kota abad pertengahan. Kota tua Stockholm ini memang mulai ada sejak abad ke-13. Tapi bangunan-bangunan megahnya didirikan pada abad ke 17 dan 18. Katanya gaya bangunan-bangunan di Stockholm banyak terpengaruh dari bangunan di Jerman Utara. Banyak café, restaurant, bar dan tentu saja souvenir shop dengan atribut yang lucu-lucu disini.

Hampir setiap sudut Gamla Stan menarik untuk difoto karena cantiknya. Sayang cuaca kurang mendukung, jadi hasil foto-foto ga terlalu bagus. Kami juga sempat masuk ke jalan tersempit di Stockholm. Namanya ‘Marten Trotzig Grand’ yang lebarnya hanya 90 cm. Ada tangga curam ke atas menuju gang lain. Walaupun tampak agak kusam, tapi jalan ini memang unik. Di Gamla Stan juga ada catedral yang terkenal, tapi kami ga sempat kesana. Lalu ada juga Royal palace. Sebetulnya setiap jam 12 siang ada upacara pergantian penjaga yang cukup asyik untuk ditonton di halaman royal palace ini, tapi waktu kami di Stockholm sungguh singkat, jadi ya ga sempat liat. Saat kami melewati Royal Palace kebetulan sedang ada pergantian satpam. Satpam berbaju tentara berbaris rapi dengan senjata di tangan sambil hormat dan jalan serempak. Anak-anak melongo melihatnya. Lucunya, mereka langsung mempraktekkan apa yang mereka lihat. Rafdi sang komandan, memimpin anak buahnya Lala, Amira dan Malik, berbaris dan berkeliling jalan sambil berbekal payung ditangan. Payung itu dikepitkan di lengan persis seperti senjata, lucu banget ngeliatnya.”Dai-ly..A-gent…Dai-ly…A-gent,” kompak suara mereka menggema di sepanjang jalan. Turis-turis lain tersenyam senyum melihatnya. Malah ada yang langsung menjepretkan kamera melihat kelakuan anak-anak itu. Kelakuan mereka memang lucu sih, setiap orang yang lihat pasti minimal akan melebarkan senyum. Walaupun lama-lama suara keras mereka tentu saja mengganggu orang lain.

Stortorget, square di Gamla Stan

Sayang kami ga bisa berlama-lama di tempat ini karena hujan dan waktu yang mepet. Padahal tempat ini asyik banget menurutku. Dan ternyata stortorget katanya merupakan ‘jantungnya kota’. Ada bangunan cantik didominasi warna merah berdiri anggun disana. Ternyata bangunan itu adalah Borshuset (Stock exchange building) yang didalamnya ada museum noble. Ada pula batu ditengah-tengah square yang merupakan batu pengingat atas tragedi ‘"the Stockholm bloody bath". Tragedi sewaktu lebih dari 100 orang di eksekusi di tempat ini.

Yaa… waktu pun habis. Rasanya belum puas mengitari kota cantik ini. Tapi mobil kami harus segera melaju ke hotel Solna, yang letaknya aduhai ajaib sehingga sempet membuat kami nyasar-nyasar. Di hotel yang berbentuk bungalow ini ternyata ada dapurnya. Horee..bisa masak! Ga lama, langsung deh tersaji menu makan malam tahu goreng dan sayur lodeh. Hmm..yummy!

Day 2, Oslo: Aker Brygge Wharf dan Vigeland Park




Day 2: Jumat, 1 Agustus 2008

Jam 2 pagi kami sampe di Larvik-Norway. Kami ga mungkin mau lanjut jalan ke Oslo, kagok karena udah malem, tapi mau nginep di hotel tentu aja kagok juga. Akhirnya menggelandang lah kami tidur di jalan somewhere outthere. Para wanita dan anak-anak tidur di mobil, alhasil, tidur ga lelap dan pas bangun badan pegel-pegelnya minta ampun. Sedangkan bapak-bapak tidur pake sleeping bag di jalan (yup! asli di atas jalan bo!) Untung aja ga hujan. Kata mereka tidur pake sleeping bag di atas jalan tuh enak dan pules, cuma bau pesing, halaaah mana tahaan.


Setelah cuci-cuci muka di tempat istirahat itu, berikut sarapan roti dan gosok gigi, anak-anak maen sebentar di tempat bermainnya. Aku dan nisa malah sempet pipis jongkok di semak-semak berhubung WC nya jorok. Duh ternyata di luar negeri begini, diriku ngalamin juga pipis di semak-semak, serasa di rumah mbah di kampung pedalaman Jawa sono dah. Sebab saat itu tukang bersih-bersih WC nya belum dateng, makanya jorok, dan pas dateng, ternyata doi cantik bener! Kalo di Indo mesti dah maen film deh :-). Lalu setelah semua beres, kami pun cabut ke Oslo.

Oslo

Pertama kali melihat kota Oslo, penonton langsung kecewa…”Yaa..gariing,” begitu kira-kira komentar penonton. Rasanya dari beberapa kota Skandinavia yang kami kunjungi, kota Oslo memang yang paling biasa (untuk ukuran ibu kota), tidak seindah yang aku bayangkan sebelumnya. Selain karena hari itu cuaca juga panas bangeet dan kami juga dalam keadaan kurang tidur, jadi kurang semangat menikmati kota itu barangkali. Tapi sebagai ibu kota Norway, yang kota-kota lainnya menawarkan pemandangan nan cantik, Oslo memang garing. Walaupun di Karl’s Johans Gate, pedestrian streetnya lumayan menarik juga sih. Mungkin karena ga banyak bangunan-bangunan tua yang biasanya bikin kota jadi cantik ya. Kota Oslo rasanya lebih banyak campuran antara bangunan modern dan bangunan tua. Tapi bagi yang suka museum, Oslo mungkin akan menampilkan inner beauty nya karena di kota ini banyak sekali museum, seperti Viking Museum, Norsk Folk Museum, Oslo City Museum dan juga museum noble.

Tujuan utama kami sebetulnya ke Aker brygge wharf, alias pelabuhan yang katanya jadi ‘Oslo’s number one meeting place’ dan salah satu atraksi utama di Oslo. Tapi kami sempat nyasar-nyasar, karena mobil kami banyak melewati terowongan dan si Tomtom salah kasih petunjuk. Jadilah akhirnya kami berfoto-foto sejenak di pelabuhan kecil yang namanya entah apa.

Aker Brygge wharf

Siang hari kami tiba di Aker Brygge Wharf. Seperti biasa, mobil kami harus keliling-keliling dulu cari tempat parkir. Dan ternyata bayar parkirnya per jam bikin melongo, 7 euro per jam! Aje gilee di Amsterdam aja Cuma 3 euro/jam. Wah Norway memang negara mahal! Setelah kebutuhan ibu-ibu belanja souvenir (yang juga muahal ihiks) dan perut juga sudah diisi, kami mulai menikmati kota. Ga heran kalau aker Brygge disebut sebagai tempat meeting point, karena selain pelabuhan, disini juga ada shopping mall besar, café, restaurant, dan beberapa museum. City hall dan museum noble juga ada di sekitar area ini. Di dalam city hall ada ruangan luas yang dindingnya dipenuhi dengan lukisan. Disitu lah rupanya setiap tanggal 5 Desember nobel perdamaian diberikan. Anak-anak malah asyik membaca buku kisah Troll. Lala bahkan ga mau pergi dari tempat itu sebelum menamatkan buku kisah Troll, legenda makhluk aneh dari Norwey. Si pemilik toko sampe mengingatkan supaya bukunya ga ditaro di bawah.

Di Aker brygge wharf ini ada pelabuhan tempat kapal-kapal yang menawarkan tour boat berlabuh. Di ujung sebelah kiri kalau kita memandang dari arah city hall, kita bisa melihat Akershus Castle, yang dibangun pada abad ke-12 oleh King Haakon Magnusson sebagai benteng pertahanan Oslo. Di akershus ini sebetulnya ada museum perang, dan juga gereja. Tapi karena panas dan lelah kami hanya masuk sebentar saja ke castle ini. Pemandangan dari atas Akershus ke pelabuhan lumayan indah. Anak-anak juga sempat bermain-main dibawah pohon yang rindang. Saat sedang berteduh di bawah pohon kami melihat sepasang pengantin yang baru menikah dan seorang penjaga dengan pakaian unik khas tentara Oslo. Ya begitulah hasil sight seeing Oslo setengah hari ini. Kesimpulannya Oslo tidak seindah yang dibayangkan deh.

Vigeland Sculpture Park

Walaupun dari website-website tentang Oslo yang kubaca katanya Vigeland Park ini merupakan ‘highlight’ yang tidak boleh terlewat, tapi kami sempat membatalkan acara ke tempat ini. Sebab setelah liat di websitenya, weleh isinya patung nudis semua! Tetapi berhubung penasaran, ya sudah lah mampir sebentaar aja, ga sampe satu jam. Untungnya di depan taman ada taman bermain anak-anak yang lumayan besar. Jadi aman deh, anak-anak ga perlu ikut melihat taman ini.

Taman ini dibuat oleh Gustav Vigeland. Konsepnya jadi tahun 1907, tapi baru mulai dibikin tahun 1924. Kalau melihat dari sisi sebuah karya, mengapa tempat ini jadi highligt mungkin karena idenya memang unik. Taman ini seluruhnya berisi patung nudis dengan berbagai tema. Ada ibu sedang menggendong anaknya, ada kakek-kakek, bapak menggendong banyak bayi sampe ke kaki-kakinya, ada patung orang pegangan tangan dibuat berbentuk lingkaran yang katanya menunjukkan ying dan yang, ada patung anak dengan muka marah kaya monster, ganjil deh. Tapi rupanya patung anak yang disebut ‘The little hot-head’ ini terkenal lho. Dan katanya lagi yang terkenal banget di tempat ini adalah ‘monolith’, tumpukan patung manusia yang menjulang hingga sekira 14 meter.

Setelah dengan kilat jalan ke atas dan melihat-lihat kami segera balik ke mobil. Hmm lumayan lah udah ga penasaran lagi. Rupanya ide kreatifitas manusia memang aneh-aneh ya. Lalu kami langsung cabut ke hotel Ibis di Karstad, kota diantara Oslo dan Stockholm dengan perjalanan sekira 3,5 jam dari Oslo. Sampe hotel langsung deh ibu-ibu masak Kimchi pake timun, sambil takut ketahuan sama pihak hotel. Untung Everything is under controle. Duuh si kimchi seger bangeet, enaak! Setelah itu tidurlah kami dengan pulas, tidur balas dendam!

Sunday, August 10, 2008

Perjalanan Membelah Skandinavia (31 July - 8 Agustus 2008), Day 1




Liburan summer kali ini betul-betul full buat aku. Baru pulang dari Turki, istirahat rasanya belum kenyang, malah diarynya aja belum selesai semua ditulis, lah tau-tau udah pergi lagi. Hmm gimana ya, tawaran E-travel untuk membelah Skandinavia menarik banget euy, sayang kalau dilewatkan. Pulang-pulang dari Norway baru istirahat dua hari, tau-tau anak-anak besok dah masuk sekolah, bener-bener hari berlalu tanpa terasa rasanya. Dan perjalanan membelah Skandinavia ini seruu! Malah pake ada acara menggelandang tidur di somewhere outthere segala lho. Dan ternyata Norway memang indah bangeet! Ga nyesel deh. Biar kata duit cekak abis-abisan yang penting heppiii hihihi.

Kamis, 31 July 2008
Day 1: Groningen-Aalborg-Hirtshal

Groningen-Aalborg:

Kami berangkat dari Groningen jam 6 pagi. Dengan dress code warna pinky, peserta jadi tambah manis-manis deh (Pede mode on). Perjalanan ke Aalborg, Denmark, sekitar 8 jam. Suasana di mobil selama perjalanan dari pergi sampe pulang lucu juga. Kadang dalam mobil sepi karena peserta pada tidur, hanya terdengar suara irama ngak ngik ngok bergantian dari arah belakang (maap-maap aku ga sebut nama lho xixixi). Kadang anak-anak merengek kelaperan, yang tua juga sama :-). Tapi kadang semua hepi sambil main tebak-tebakan. Kadang suasana heboh (apalagi kalau perut udah kenyang) karena anak-anak ribut sendiri sementara ibu-ibu pun bergosip sendiri, dan bapak-bapak yang duduk di depan juga ga mau ketinggalan, asik ngomongin politik.

Di awal perjalanan, cerita hantu penampakan permintaan Rafdi masih sering kedengaran. Tapi lama-lama para pendongeng kehabisan stok :-). Cerita pun berganti ke cerita lucu-lucuan. Yang paling diminati anak-anak sampe diminta berkali-kali adalah cerita ‘Mbok Bariyah’ ala pak Eko. Berkali-kali diceritain masih aja anak-anak pada ketawa, heran deh hehe. Kadang di dalam mobil ada juga suara-suara nyanyian terdengar, yang kalau suaranya mendadak fals pasti jadi bahan ketawaan :-). Lagu yang menjadi hits di awal perjalanan adalah lagu ‘Ketahuan’ yang dipopulerkan oleh Uyung,”O..O..kamu ketahuan, pacaran lagi dengan dirinya…” Wah semua peserta dan anak-anak pun sampe hapal tuh bagian reff itu hehe. Dan di akhir perjalanan, lagu ‘pocong’ yang bikin anak-anak ketawa kegelian mendadak populer setelah berkali-kali dinyanyikan oleh pak Eko dengan gayanya yang kocak. “Cong pocong pocong pocong, makannya kue pancong.” Nah lho sampe rumah anak-anak masih ketawa dan hapal kalo nyanyiin lagu itu hehe. Seru kaan :-).

Di tengah perjalanan ke Aalborg, kami sempat makan siang di salah satu pom bensin yang ada tempat istirahatnya. Duh asik banget, botram, membuka perbekalan. Menunya pun masih fresh, daging suwir, telor kentang, teri balado dan timun. Hmm yummiii! Orang-orang di sekitar kami sampe pada ngeliatan, “orang kampung dari manakah ini?” gitu kali ya pikir mereka hehe. EGP deh yang penting makan nikmaat!

Aalborg

Kami menjelajahi kota ini tak lama. Hanya sekira 2 hingga 3 jam saja. Disini kami mengunjungi centrumnya tentu saja. Kami sempat beli es krim. Dan dari toko es krim ini lah hutang piutang diantara peserta yang membingungkan berawal. Karena kemudian kami mengunjungi 3 negara berbeda dengan mata uang berbeda, sementara kadang toko atau restaurant tidak menerima maestro card. Maka sering terjadi pinjam meminjam uang. Akibatnya, pusiing deh itung-itungannya hehe.

Kota Aalborg menurutku biasa-biasa aja, lebih cantik Groningen malah. Kami sempat melewati bangunan Jens Bang Stenhus yang letaknya bersebrangan dengan tourist info. Bangunan ini dulunya rumah orang kaya, Jens Bang yang dibangun di abad ke-17. Lalu kami pergi ke arah pelabuhan. Disana ada air mancur dengan anak-anak tangga yang lucu. Setelah kongkow-kongkow sejenak menikmati pemandangan, dan anak-anak sempat main air sejenak, kami balik ke mobil sambil melewati Helligåndsklostret (Monestary of the Holy Ghost). Tempat ini merupakan gereja , dibangun tahun 1431 dan masih digunakan hingga sekarang.

Karena masih ada waktu, kami mampir juga ke kuburan Viking, nenek moyangnya orang Norway yang terletak di daerah Noerresundby, pinggiran kota Aalborg. Awalnya suasana agak mencekam karena pengunjung hanya kami dan beberapa orang saja. Tapi ternyata menarik juga membaca cerita tentang kuburan tersebut. Yang awalnya kami enggan berfoto di tempat itu, laah ujung-ujungnya teuteuup narsis dimana pun kapanpun hehe. Ada sekira 682 makam yang ditemukan ditempat itu pada tahun 1952. Kebanyakan yang dikubur disana adalah para tentara Viking. Malah ada yang dikubur bersama anjingnya. Kuburannya lucu, satu kuburan dikelilingi batu-batu melingkar. Katanya malah ada beberapa mayat yang sudah dikremasi lalu dikubur juga.

Hirtshal dan Naik Ferry Denmark-Norway

Kami sampe pelabuhan Hirtshal sejak jam 8 malem, padahal kapal berangkat masih dua jam kemudian. Tapi antrian mobil memang sudah banyak. Di belakang kami ada sebuah mobil yang juga berasal dari belanda. Dalam mobil itu ada sepasang suami istri dan anjing mereka yang berwarna hitam. Anak-anak asyik maen bola, lalu digonggongin sama anjing. Mereka juga sibuk mencari kepik yang banyak menclok di batu-batu dekat pantai. Setelah sempat makan malam di mobil, sambil menunggu kapal, emak-emak makan kuaci, sampe kulitnya bertebaran kemana-mana. Pas mau sunset, kami juga sibuk foto-foto, berlomba-lomba mendapatkan foto burung.

Kapal brangkat jam 10. Kapalnya keren banget kaya kapal pesiar. Ada supermarket, ada restorant, ada café, ada tempat mainan anak-anak, tempat internetan, dan ada kursi-kursi nyaman di dalamnya. Di luar ruang kapal disediakan kursi-kursi bagus untuk memandang lautan. Pokoknya jauh deh kalau dibandingkan dengan kapal Ferry di Indo. Dan kapal ini bersih bangeet, ga ada bau-bau ga enak (ups ada denk bau kaki orang yang tidur hehe), berikut di beberapa tempat lantainya di alasi karpet tebal, nyaman banget deh. Hii norak ya dakuw, abis pegimane ye, memang baru pertama kali ini sih aku melihat kapal ferry nya orang bule.

Setelah sempat icip-icip chesee cake di cafenya, dan jalan keliling-keliling kapal, kami pun mencoba untuk mencari posisi tidur,dan tidur dengan berbagai posisi. Anak-anak? Sibuk berpetualang, heboh lari-larian dan blas ga tidur sampe kapal mendarat di Larvik jam dua pagi. Hmm..energi mereka emang luar biasa!