Wednesday, May 3, 2006

"Mengajarkan Jiwa Wirausaha, Bikin Matre?"






“Wah
ternyata Ibu Stephen King suka membeli karya-karya King kecil dengan sejumlah
uang! Bagus nih, pasti ibunya ingin King punya jiwa enterpreneur
(wirausaha).” Suamiku menceritakan secuil hasil bacaannya dari buku ‘Stephen
King on Writing'. Ah ya, cocok dengan kata-kata Aa Gym yang aku baca dari sebuah
artikel di koran Pikiran Rakyat (3 April 2005). "Didiklah anak-anak agar
memiliki jiwa wirausaha. Kalau perlu, gaji lah mereka untuk mengerjakan suatu
pekerjaan. Orangtua juga perlu terus membangun kemampuan berhemat anak serta
kemampuan untuk tidak meremehkan jerih payah orang lain. Kalau anak-anak sudah
tahu kepahitan cari uang, maka mereka akan menjadi pejuang yang tangguh dalam
hidup ini."







“Ah
anak-anak kecil diajarin cari uang, ntar matre lo!” Begitu kata seorang
kawan. Tapi di koran itu juga dikatakan bahwa tanggungjawab, kreativitas dan
mampu mengambil keputusan adalah sifat yang akan muncul pada anak jika jiwa
wirausaha ditumbuhkan sejak dini. Sifat tersebut juga merupakan modal bagi
keberhasilan hidup anak saat ia dewasa. Hmm…iya juga ya. Matre atau tidak
tergantung cara hidup orangtuanya kan. Aku lihat, di sekolah Lala juga ada
program membangun jiwa wirausaha murid-muridnya. Setahun sekali kerap diadakan
'Hari Buku' disana. Biasanya pada hari itu anak-anak diminta untuk menjual
buku-buku bekas. Harganya betul-betul murah, mulai dari 10 cent Euro hingga 1 Euro. Lalu apa yang bisa kulakukan untuk
anak-anakku ya?







Ah
ya, Koningen Dag (hari Ratu)! Mengapa tidak berjualan pada hari ini
saja? Asyiknya, pada hari Ratu ini ada acara VrijeMarkt alias pasar
bebas. Jadi masyarakat boleh bebas berjualan apa saja barang-barang bekas
dengan harga miring tanpa harus membayar pajak. Setiap hari Ratu yang jatuh pada tanggal 30 April,
atau 29 April (jika tanggal 30 April jatuh pada hari Minggu) negeri Belanda
pasti dipenuhi warna orange. Rakyat berpesta memenuhi jalan dengan
pernak-pernik baju, topi, bahkan mencat wajah, rambut dan tubuhnya dengan
orange.







Sewaktu
ratu Juliana masih hidup dan berkuasa dulu, tanggal itu selalu diperingati
untuk merayakan hari ulangtahunnya. Nah, setelah ratu Juliana meninggal dan
digantikan oleh ratu Beatrix, ratu Beatrix meminta supaya hari Ratu tetap jatuh pada tanggal 30 April saja.
Sebab, ulangtahun ratu Beatrix tanggal 31 Januari, dan pada tanggal itu katanya
pamali kalau diadakan pesta. Entah apa alasannya, masih dingin kali ye
hehe.







Tapi
sayangnya di Groningen kota tempatku tinggal, makanan tidak boleh dijual bebas.
Padahal di Amsterdam, makanan homemade pun boleh dijual. Kenapa ya?
Katanya sih khawatir dengan kebersihan dan keamanan. Tapi temanku yang lain
mengatakan di Groningen juga boleh menjual makanan. Entahlah beritanya simpang siur. Padahal aku sudah
bertekad mau berjualan siomay dan rempeyek.”Jadi apa enggak sih jualannya,
boleh apa enggak sih? Mau belanja nih…” Aku bingung. Lalu temanku
bertanya langsung pada gemeente, eh ternyata di jawab,” Tidak boleh!” Hu
hu hu padahal aku sudah bersemangat baja. Eh, tapi tiba-tiba datang lagi
laporan dari temanku. “Cuek aja jualan, wong setiap tahun temennya temenku itu
jualan makanan dan asyik asyik aja koq nggak pernah ada yang negur.”







Duh,
daripada tak yakin akhirnya sehari sebelum hari H aku betul-betul mewanti-wanti
suamiku,” Telepon gementee ya Yah, jangan lupa!” Dan hasilnya: Dilarang
berjualan Homemade Food! Sama sekali tidak boleh! Waks…gimana nih,
padahal semangat sudah menggelora. “Ah udah nekat aja, kalo diusir ya udah
makanannya bawa pulang lagi dimakan sendiri,” kata temanku lagi. Oke deh kalau
gitu demi melatih anak-anak berjualan, dan demi sesuap Euro hehe, apapun yang
terjadi positif jualan!







Hup!
Jam 6.30 pagi suamiku langsung siap-siap berangkat. Kalau kesiangan, bisa-bisa
jualan batal karena tak kebagian tempat untuk jualan. Walaupun mataku masih
ingin terpejam dan badan masih pegal-pegal, tapi aku pun harus segera
bersiap-siap menyusul. Semalaman aku sibuk membuat siomay dan suamiku sibuk
membuat rempeyek. Alhasil kami tidur cukup larut. Tapi, anak-anak sangat bersemangat lho! Mereka kami suruh memilih
mainan yang akan dijual. Apa ya? “Wayang aja deh, wayang ini kan nggak pernah
dipake.”







Wah
hujan lebat disertai hagel(es) pula! Bisa-bisa acara jualan batal nih. Tapi, alhamdulillah,
si hujan datang hanya setengah jam saja . Akhirnya aku dan anak-anak segera
menyusul ke tempat tujuan. Wow, pinggir-pinggir jalan betul-betul dipenuhi
orang berjualan! Gemeente merelakan jalan sepanjang Ubbo Emmius Singelstraat dipenuhi lapak-lapak barang dagangan
masyarakat. Mainan, puzzle, perabot rumah, buku, sepatu, baju dan perkakas
rumah tangga lainnya berjejer rapi di atas selembar alas plastik atau karpet.
Ada yang berjualan makanan tidak ya? Jangan-jangan aku betul-betul akan diusir
karena hanya sendirian berjualan makanan. Eh, ternyata ada! Tuh kan, untung
saja kami nekat hehe.







Aku
pun segera mengeluarkan barang daganganku, siomay dan rempeyek. Teman ku, mbak
Indah, menjual lumpia. Dan kami pun menjual sedikit mainan anak-anak titipan
seorang kawan. Dan tentu saja si wayang tak ketinggalan kami pajang di lapak
kami. “Anak-anak, ayo duduk disini ya. Nanti kalau ada orang yang mau beli,
ditawarin ya.” Aku mulai memberikan instruksi pada anak-anak. “Mainan yang
besar 1 Euro, yang kecil 50 cent, dan wayang 1 Euro yaa..” Lala, Malik dan
Novi,anak mbak Indah, cuma mengangguk.







Saat
seorang wanita datang melihat-lihat lapak kami, segera aku suruh mereka
beraksi. Ealah, mereka ternyata malah nyengir malu-malu. “Ayo, bilangin ke
tantenya harga mainan-mainan itu. Tanya, tantenya mau yang mana,”dorongku lagi.
Aik sambil memperlihatkan gigi-giginya bersuara, “Een euro…” Suaranya nyaris
tak terdengar, grogi rupanya hehe. Lala hanya bolak-balik jalan kesana kemari,
tak mau mengeluarkan suaranya. Walah…gimana bisa laku dagangannya hehe.







Khawatir
hujan datang lagi, suamiku memasang tenda di seberang lapak kami. Langsung saja
anak-anak berhamburan ke tenda meninggalkan barang dagangannya. Beruntung kami
mendapat tempat cukup strategis. Ada taman berumput untuk memasang tenda kami dan juga kursi. Pembeli makanan kami
bisa langsung makan di kursi itu. Uh…ge-er! Adakah orang yang mau membeli
makanan yang kami jual? Hu hu hu…tunggu punya tunggu, ternyata sampai pukul
11.00 makanan kami tak terjamah. Sabar dong…sabar…Tuh, ada Meneer memelototi
harga makanan kami tuh! “Berapa harganya?” Si meneer menatapku sambil memegang
satu bungkus rempeyek.”Twee Euro (dua Euro),”jawabku. Wah, dia ambil 2 lho! “Rempeyek Ayah laku nih yee.” Mesam-mesem
aku goda suamiku.







Sayangnya
suamiku hanya membuat 6 bungkus rempeyek.”Segini aja ah! Nggorengnya capek,
dapetnya nggak seberapa,” katanya semalam. Yo wis, aku sih manut
saja. Wong niatnya memang hanya untuk memberi pengalaman berjualan pada
anak. Tak lama, seorang nyonya Belanda datang menghampiri lapak kami. Apa yang
dibelinya? Rempeyek lagi! Beberapa menit berlalu, seorang wanita Indonesia kemudian datang bersama suami Bulai nya.
Dia mengambil satu bungkus rempeyek, segera membayar dan pergi. Sedetik..dua
detik…Eh, balik lagi tuh si Nyonya! “Enak euy, saya ambil satu lagi ya!”
Tersenyum lebar, diserahkannya koin 2 Euro padaku.







“Rempeyek Ayah laku ya Bun. Udah berapa orang yang beli Bun?
Udah 3 orang ya Bun? Udah dapet berapa Euro Bun?” Itu rupanya yang menarik bagi
Lala. Setiap datang ke lapak, pertanyaannya selalu sama. Berdiri dan menawarkan dagangan pada pembeli? Oh No!
Sama sekali pekerjaan yang tidak menarik bagi Lala hehe.







Duh
sedihnya jadi pedagang, berjam-jam menunggu, siomay ku tak satu pun ada yang
membeli. “Dimakan sendiri aja ah, laper hehe.” Aku dan temanku sama-sama
mengisi perut dengan dagangan kami. Suamiku pun memberikan sebungkus siomay
pada tetangga lapak kami. Sudah jam satu siang, siomay dan lumpia masih utuh mejeng
di atas meja. “Kemahalan kali ya, turunin aja deh harganya Yah.” Suamiku pun
mengganti harga yang tertera di selembar kertas. Saat datang pengunjung asal
Indonesia, aku pun segera menghampiri mereka.”Harga spesial deh Mbak, udah diturunin
nih, tadinya semangkok 3 Euro, sekarang 2 Euro nih kalau Mbak beli 3 mangkok.”
Aku membujuk si Mbak. Horee! Si mbak mau beli! Akhirnya ada juga yang mau beli
siomayku, meski harus menurunkan harga hiks.







Satu
jam kemudian…”Wah ada siomay! aku mau dong..aku mau satu dong…aku juga…aku
juga….” Rombongan mahasiswa Indonesia datang dan memborong siomayku! “Enak
Mbak…enak..!” Jawaban mereka membuatku senang.
“Tapi… hu..hu..hu…nyesel! Tadi kenapa harganya diturunin ya Yah. Tau
bakal banyak orang Indonesia dateng, mau sabar nunggu deh, ada yang nggak
kebagian juga tuh padahal,” keluhku pada suamiku. Ealah..koq nggak bersyukur.
Padahal pemesan lewat mulut ke mulut juga kan sudah ada. Astagfirullah, Ah!
dasar manusia, dikasih hati minta rempelo hehe.







Laris
manis! Siomay dan rempeyek habis terjual. Duh senangnya, kerja capek semalaman
berbuah Euro hehe. Aku berkeliling sebentar melihat dagangan orang lain. Wah
ada puzzle magnet, bisa buat Malik nih. Harganya 50 cent Euro saja, alias
limaribu perak, lumayan banget! Masih bagus dan lengkap pula. Temanku malah
mendapat puzzle 1000 keping dalam keadaan utuh dan masih sangat bagus dengan
harga yang sama. Senang memang belanja di vrijemarkt ini. Lala juga
mendapat boneka beruang besar gratis. Tetangga lapak yang aku beri siomay tadi
memberikan boneka beruang itu untuk Lala . Balas saja kali yee hehe.







Pukul
2 siang, kami memberesi lapak kami. Capek. Tapi aku jelas tidak kapok, dapat
Euro je hehe. Tahun depan aku berniat akan berjualan lagi. Mungkin
anak-anak bisa aku minta untuk membuat jus buah dan menjualnya di pasar rakyat
ini. Aku lihat banyak anak-anak Belanda melakukannya tadi. Ide bagus.
Mudah-mudahan kalau mereka membuat sendiri, ceritanya akan lain. Siapa tahu
mereka mau menunggui dan menawarkan dagangannya tanpa malu-malu lagi.







Ah
tapi apapun respon mereka tak jadi soal. Yang penting hari ini mereka sudah
melihat sendiri dan mencoba sendiri bagaimana rasanya jadi pedagang. Mereka
juga tahu bagaimana repotnya ayah dan bundanya mempersiapkan rempeyek dan siomay.
Dan hasilnya, puluhan Euro masuk ke celengan Bunda. “Wah Bunda dapet uang
banyak.”Lala membelalakkan matanya saat melihat uang yang kumasukkan ke dalam
celengan ku.







Bekerja
keras dan menghargai hasil jerih payah orang lain, itu yang aku ingin tunjukkan
pada mereka. Bener nih nggak
khawatir kalau anak-anakku jadi matre? Aku pernah katakan pada
Lala,”Kita boleh punya banyak uang La, tapi uang bukan segala-galanya. Uang
hanya jadi pembantu kita. Kita nggak boleh tergantung sama uang ya La.”
Kalimat-kalimat ini yang mungkin harus sering-sering aku tekankan pada mereka.
Tapi tentu saja kalimat-kalimat itu akan sia-sia kalau dalam keseharianku aku
tetap memuja uang. Ah uang, kau memang menggiurkan. Namun tak akan pernah
kubiarkan engkau menjadi raja dalam kamus hidupku!





Sunday, April 23, 2006

"Mau Pipisin Bunda!"



"Aik mau pipisin Bunda!" kata Aik sambil betul-betul membuka celana dan mengeluarkan
kemaluannya di depanku. Aku terhenyak. "Aik!" Sentakku. Ya Allah,
kenapa anakku sangat tidak sopan begini. Apakah aku telah gagal menjadi
seorang ibu yang baik? Sesak merayapi dadaku. Dan api mulai menyala di
hatiku. Mendadak kisah Malin kundang pun berkelebat dalam kepalaku.
Panas api itu semakin membakar rasanya. Kucoba untuk menahan diri. Tak
kukeluarkan sepatah kata pun. Aku tak ingin menodai keberhasilanku. Aku
sudah cukup sukses menghadapi Lala. Setelah kesadaran baru dari mbak
Neno, seingatku aku tak pernah lagi memarahi Lala. Haruskah kini aku
mendapatkan 'mangsa' baru?



Tidak! Please tolong aku Tuhan! Apakah kini aku harus menjadikan
puasaku sebagai kambing hitam? Aku sedang membayar hutang puasaku.
Orang yang sedang berpuasa memang lebih gampang terpancing emosi, wajar
kan. Tapi, bukankah menahan diri memang ujian buat orang yang sedang
berpuasa. " Huaaa...karena Bunda nggak mau cari peluitnya Aik, Aik mau
pipisin Bunda! hu..hu..hu," sambung Aik lagi.



Ggrh! Aku tak tahan. "Aik! Denger ya, Bunda marah
sekali sama Aik! Itu nggak sopan, tau nggak Aik! Aik sayang sama Bunda?
Kenapa Aik mau pipisin Bunda? Anak Bunda, anak yang sopan dan tahu
aturan. Anak Bunda bukan seperti Malin kundang, ngerti nggak Aik!"



Oh, batal! Puasaku batal! Ya Allah...ya Allah...ajari aku ya Allah,
mampukan aku! Kenapa aku tak juga mampu? Aku lelah, sangat lelah. Dan
putraku berulah. Sedari siang tadi dia rewel dan rewel saja. Tak
bolehkah aku marah Tuhan? Sedikit saja. Aku sudah berusaha untuk
menekan suaraku serendah mungkin tadi. Boleh ya Tuhan?



Uh, pertanyaan konyol! Aku tahu aku sedang mencari-cari pembenaran
dari kesalahanku. Tapi sudahlah, tak apa marah sedikit. Proses, semua
butuh proses! "Hargai keberhasilan walaupun sedikit," kuingat-ingat
pesan suamiku. Yang penting sekarang cari solusinya. Malik harus
belajar sesuatu dari kejadian ini.



Malik yang sedari tadi mengganduli kakiku, mendadak berlari ke kamar
mandi. Cuuurr...keluarlah air mancur dari kemaluannya. Oh, rupanya ide
untuk pipisin bunda itu muncul karena dia memang ingin pipis.
Hmm...berarti ini memang kecelakaan. Malik tidak bermaksud untuk kurang
ajar tentunya. Kenapa aku berpikir terlalu jauh? Menghubungkannya
dengan cerita Malin kundang. Ah, kejauhan! Malik hanya seorang anak
lelaki berumur 4 tahun yang belum lewat masa 'terrible two' nya.
Apalagi sore hari begini memang waktunya Aik mengantuk dan lapar. Uh,
jadi malu. Begini lah kalau orangtua tidak mau masuk ke dunia anak, tak
mau menyelami perasaan anak-anak, jaka sembung jadinya. Tapi
bagaimanapun aku harus mengajarinya sopan santun. Aik harus tahu
kesalahan apa yang telah dibuatnya.



"Aik,Bunda masih marah sama Aik. Aik juga marah sama Bunda. Kita
hilangin marah kita dulu ya, habis itu baru kita bicara." Aku mencoba
merubah suasana. "Hu..hu..hu... tapi Aik mau ngomong apa-apa. Aik mau
Bunda cari peluitnya Aik hu hu hu," Aik masih tak berhenti menangis.
"Iya, Bunda akan bicara sama Aik setelah Aik berhenti nangis dan bicara
yang baik," jawabku masih menyimpan kesal.



Tak lama, aku mendengar suara Malik berubah manis,"Maaf Bunda,
tolong cariin peluitnya Aik," katanya sambil menahan isak tangis. Aku
langsung menghampirinya dan bersikap manis pula," Oh, Aik pinter
sekali, marahnya udah ilang ya." Tapi, Malik betul-betul capek rupanya.
Kata-kata manisku tak mempan. Tangisnya pecah lagi.



"Aik mau peluit! huaa...Aik udah ngomong baik, Bunda nggak tahu apa-apa..huaaa!"



Hmh...kesal ku pun datang lagi. Daripada aku mengeluarkan kata-kata
yang tak enak lagi, aku pun keluar kamar. Aik masih tetap menangis. Dan
aku berusaha menata hatiku di dapur.



Tiba-tiba kemarahan Aik memuncak, teriakannya menggema dari kamar,"BUNDA! BUNDA HARUS CARI PELUITNYA AIK! Huaaa..."



"Ugh! Kenapa sih ini anak jadi sulit begini,"kesahku. Hilang! Hilang
sudah kesabaran itu. Aku diam seribu basa. Api itu membesar lagi. Tapi
aku memilih diam. Aku biarkan Aik menjerit-jerit. Lala yang ketakutan
melihat 'perseteruan' ku dengan Aik mendekati aku dengan sangat manis.
"Maaf Bunda, tolong ambilin piringnya. Mbak Lala baik kan Bun. Mbak
Lala tau aturan kan Bun," katanya takut-takut. Duh gadisku yang sangat
taat pada aturan, Bunda senang sekali Lala sudah jauh lebih baik
sekarang Nak."Iya sayang, mbak Lala pinter banget," kuberikan sebuah
senyum untuk Lala. Oh, semoga tak tampak sebagai senyum yang
dibuat-buat dimatanya.



Lalu kuhampiri Aik, kukatakan padanya,"Aik, Bunda marah sama Aik
karena Aik mau pipisin Bunda dan Aik teriak keras sekali. Bunda akan
diemin Aik sampe Aik berhenti nangis," kataku datar.



Untungnya sebuah teori parenting masih mau muncul di kepalaku. Aku
ingat pesan seorang temanku yang psikolog. Membiarkan anak menangis
kelojotan kadang perlu. Anak bisa belajar mengatasi emosinya sendiri
dan merenungi kesalahan apa yang telah diperbuatnya.



Aik meraung, menangis jejeritan, bibirnya tak berhenti mengomel. Dan
aku diam saja. Aku meladeni Lala yang sudah kelaparan. Kemudian, karena
aku tahu Aik juga lapar, iseng-iseng aku melongok ke kamar dan berkata
pada Malik,"Kalau Aik laper, sini makan sama mbak Lala."



Aik masih menangis. Tapi ia keluar dari kamar sambil menangis
sesenggukan. Aku angkat dan aku dudukkan dia di kursi. Tangisnya mulai
reda. Aku suapkan sesendok nasi sambil membaca doa mau makan ke
mulutnya. Tiba-tiba tangisnya pecah lagi,"Huaaa...maafin Aik...Huaa...."



Yes! Ini dia yang kutunggu-tunggu, akhirnya keluar juga permintaan
maaf itu dari mulutnya. Aku langsung memeluknya erat." Aik pinter Aik
mau minta maaf. Maafin Bunda juga ya Sayang..."



Suapan selanjutnya tak lagi diiringi tangis. Aku tatap Aik dan aku
katakan padanya,"Aik, Bunda sayaang sekali sama Aik. Bunda ingin Aik
jadi anak sholeh." Huaaa....Huaaa... tangis Aik pecah lagi.



"Oh Sayang, Aik merasa apa sekarang?"



"Huaa...Aik nangis karena Bunda bilang Bunda sayang Aik..hu hu hu.."



"Oh, Aik terharu ya, anak sholeh.Aik pinter. Aik tahu kenapa tadi
Bunda marah?" Kesempatan ini tak kusia-siakan untuk menyimpulkan
permasalahan. Pesan dari pelatihan emosi yang pernah kuikuti dulu
berkata, "Kendalikan dulu emosinya, nasehat belakangan."



"Hu hu hu...karena Aik teriak keras. Karena Aik mau pipisin bunda..hu hu hu..."



"Terus lain kali gimana?"



"Lain kali Aik nggak mau pipisin Bunda lagi,nggak teriak keras
lagi." Wajah Aik masih penuh air mata, tapi tangisnya sudah berubah
menjadi senyuman.



Pfhuih...lega. Mudah-mudahan pelajaran ini berharga buat Aik. Namun
tiba-tiba Aik beranjak pergi. Diambilnya tembok berlin souvenir dari
Berlin. Ia juga mengambil kertas dan pinsil. Setelah selesai
corat-coret, tangannya terulur menyerahkan kertas itu kepadaku.



"Bunda, ini buat Bunda."



"Oh bagusnya, gambar tembok berlin ya, kenapa Aik kasih ini buat Bunda?"



"Karena Aik maafin Bunda." (Aik masih kebalik-balik pengertian minta maafnya)



"Oh Aik minta maaf maksudnya ya, Aik menyesal?"



"Iiiyaa...huaaa..." angguk Aik sambil kembali menangis.



Setelah itu ia berlari lagi. Diambilnya kertas lagi, menggambar lagi.



"Bunda, ini Aik sama Bunda, Aik sayang sama Bunda. Bunda lagi cium
Aik. Aik lagi nangis. Ini air matanya (Aik menunjuk gambar air mata
yang panjang menjuntai hingga ujung kertas). Ini juga buat Bunda Bun."



Aik berlari lagi dan menggambar lagi. Berlembar-lembar gambar Aik
kuterima dengan penuh suka. Gambar sebagai bukti permintaan maafnya dan
penyesalannya. Oh, anakku, terimakasih Nak. Kini, bunda tak lagi merasa
gagal sebagai ibu. Bunda harus terus belajar kan Nak. Semoga bunda
semakin bisa menapaki proses ini. Proses panjang menjadi ibu yang mampu
menata hatinya baik-baik. Ibu yang bisa meredam emosi, agar anak-anaknya
kelak mampu bersikap bijak dalam perasaan dan tingkah lakunya. Bukan hal
mudah, sungguh. Apalagi di negeri orang begini.Tapi semoga Allah
memudahkan.











Thursday, March 16, 2006

Mampukan Aku Tumbuhkan Pohon Cinta Itu


“Kunci pertama
agar anak mampu mengenal Tuhannya adalah terima anak apa adanya! Bagaimana
mungkin orangtua bisa mengenalkan anak pada Tuhannya jika orangtuanya sendiri
tidak bisa menerima anak apa adanya? Orangtua yang mengenal Tuhan artinya
orangtua yang ikhlas menerima apapun keputusan Tuhannya terhadap anaknya.
Mengenal saja tak cukup, perlu mencinta. Bagaimana mungkin seorang anak
bisa  mencintai Tuhannya dan juga
sesamanya kalau masa kecilnya dipenuhi dengan rekaman-rekaman kemarahan di
hatinya? Tegas boleh. Tapiii…jangan pernah memarahi anak sejak ia lahir hingga
usia 7 tahun! Bibit cinta akan menumbuhkan pohon cinta. Namun bibit kemarahan?”





Deg! Sesuatu
menusuk kalbuku. Kesimpulan itu aku tangkap dari untaian kata mbak Neno
Warisman dalam acara on air di sebuah radio internet. Aku mendengar
rekaman ulang nya dari http://cafe.degromiest.nl/neno.
Lamaa kusimak lagi nasehat-nasehatnya. Mataku mengembun. Tuhan, Bibit apakah
yang telah kutanamkan pada anak-anakku? Betapa sering teguran itu datang,
petunjuk agar aku mau memperluas ruang kesabaranku. Petunjuk agar aku mau
menerima putriku apa adanya, segala keunikannya. Dan ketika kesadaran itu datang,
mengapa tak pernah lama? Selalu saja ia kembali dan kembali lagi. Ooh, ampuni
aku Tuhan. Baru saja aku, lagi-lagi menebarkan bibit kemarahan itu. Dan
ternyata aku tak juga mampu mengenalMu.






Pagi itu,
darahku mendidih. Bukan kali pertama, entah kali keberapa. Kesabaranku tak ada
hentinya diuji, lagi dan lagi oleh gadis kecilku sendiri. Berlembar-lembar
artikel tentang parenting kubaca, mengatakan hal serupa, bahwa setiap anak
adalah unik, terima ia apa adanya. Berkali-kali pula aku sesumbar menuliskannya
dalam diskusi-diskusi dalam mailing list (milis) di dunia maya. Duh,
tapi mengapa kadang aku hanya pandai bicara saja. Nyatanya, kini aku gagal
lagi. Mengapa aku tak bisa menerima keunikan putriku? Mengapa aku harus marah
lagi? Karena PMS (Pre Menstrual Syndrome) lagi? Huh, apakah itu bukan
sebuah pembenaran? Pembenaran untuk menghalalkan kemarahan!







Sepuluh menit
lagi pukul 8.30 pagi. Saatnya bel berdentang tanda pintu masuk sekolah telah
ditutup. Tapi, dimana putriku berada? O..la..la... ia masih berkutat dengan
rambutnya, tentu saja dirumah. “Hiks…hiks…aku nggak mau pergi kalau rambutku
belum diiket.” Rengekannya   membuat
kesabaranku mulai menguap.”Tapi engkau harus segera pergi Nak, sudah
terlambat,”bujukku berusaha sabar sambil mencari ikat rambut yang tak kunjung
kutemukan. Putriku pun berusaha mencari ikat rambutnya, berjalan perlahan
dengan gaya malas-malasan, tak juga segera memakai sepatunya. Tuhan, kenapa
anak ini lambaat sekali. Apa yang sesungguhnya terjadi dengannya?
Kenyataan
itu mulai mengusikku lagi.







Putraku juga
mulai merengek, tak sabar menunggu. Segera kuulangi ucapanku pada putriku
dengan nada sedikit meninggi. Tangis putriku kemudian meledak,”Kalau rambutku
nggak diiket, nanti aku makanin rambutku terus, nanti pipiku jadi bau, hu…hu…hu.”
Belakangan ini, mulutnya memang mengeluarkan bau tak sedap. Dan kunjungan ke
dokter, baru akan berlangsung minggu berikutnya. Hari-hari sebelumnya aku tak
lupa mengikat rambutnya.”Bunda ikat rambutmu, supaya kau tak bisa lagi memakan
ujung rambutmu. Kalau dimakan mukamu jadi bau Sayang,” pesanku selalu. Dan kini
pesan itulah yang dipegangnya kuat-kuat. Hmh, kenapa dalam kondisi buru-buru
seperti ini dia tak bisa berdamai dengan aturan yang telah dipegangnya. Mengapa
ia selalu saja begini, gampang merengek dan menangis!







Kulirik jarum
jam, delapan lewat tigapuluh menit. Kesabaranku lenyap sudah.”Sudah lah nggak
usah diiket, nggak apa-apa sekali-kali bau. Ayo cepet berangkat, itu ayah udah
nunggu!” Seruku kesal. Ayahnya juga mulai kesal dan menyuruhnya untuk segera
berangkat. Tapi, tangisnya semakin keras terdengar.“Aku nggak mau! hu..hu..hu…,
nanti bau Bun, hu…hu..hu.” Mendengarnya, kemarahanku tak lagi tertahan,”Bunda
kan udah bilang nggak apa-apa! Lihat tuh sekarang jam berapa?! Terlambat La!
Malu kalau terlambat, ngerti nggak Lala?!” Sentakku. Akibatnya, tentu saja
tangisnya menghebat, juga kemarahannya. “Huaa…Aku nggak sayang sama Bunda!
Huaa… air matanya bercucuran sambil menatapku penuh amarah.” Tuhan, kenapa
anak ini perasa sekali. Adiknya tidak merepotkan begini, dimarahi juga cuek
aja, easy going
. Pikiran nakalku mulai membanding-bandingkan ia dengan
adiknya.







Dan akhirnya,
suamiku menarik napas dalam, menyadari bahwa semua tak bisa dibiarkan. Ia
segera duduk dan meletakkan tas punggungnya ke lantai. Diraih dan dipeluknya
anak itu sambil berkata padaku,”Sudah Ma, sudah, nggak usah bicara apa-apa lagi
sama dia kalau lagi marah. Waktu memang penting, tapi ada hati yang harus
dijaga. Lebih baik terlambat daripada anak kita pergi sekolah sambil membawa
hati yang tergores. Peluk dia Ma, peluk…,” katanya membujukku. Kemarahanku
masih menggumpal di dada, begitu pula keegoisanku. Tak ingin rasanya memeluk
anakku dalam kondisi seperti itu. Tapi aku tahu ucapan suamiku benar.







Kuredam amarahku
sekuat yang kumampu. Tak bisa. Gumpalan marah itu masih saja berdiam di sudut
hatiku. Tapi, perlahan kuhampiri juga putriku, kupeluk dia, dan kukatakan
padanya,”Maafkan Bunda ya sayang. Bunda kesel sekali tadi. Nggak apa-apa
sekali-kali terlambat, kita cari dulu ikat rambutnya ya.” Aku bicara perlahan
sambil menahan air mata yang mulai menggenang. Air mata kekesalan yang tertahan
karena gumpalan marah itu hanya sedikit berkurang. Namun, kupeluk ia lagi,
semakin erat. Dan ternyata perlahan tapi pasti pelukan itu melelehkan amarahku.







Pukul delapan
limapuluh, akhirnya suami dan kedua anakku berangkat ke sekolah. Setelah
menciumku, dengan senyum tersungging di bibir dan rambut dikuncir dua, putriku
meninggalkan pintu rumah. Dan aku? Berlari menghempaskan diri ke tempat tidurku,
menumpahkan semua air mata yang tertahan. Ya Allah, mengapa ia kerap
membuatku seperti ini. Mengapa pula pikiran nakal untuk membandingkan ia dengan
adiknya dan teman-teman sebayanya selalu menggodaku ya Allah? Aku sayang sekali
padanya. Aku tahu setiap anak adalah unik. Tapi mengapa begitu sulit menerima
dia apa adanya?
Ampuni aku Tuhan, sungguh aku menyayanginya. Tapi aku
tak kuasa menolak semua rasa ini.




 




Aku teringat
seminar online yang diadakan oleh WRM—sebuah milis khusus para wanita—beberapa
bulan lalu tentang anak berbakat (gifted). Sejak itu aku curiga putriku
termasuk anak gifted disinkroni (gifted dengan ketidakseimbangan
di beberapa aspek tumbuh kembang). Apalagi waktu di Indonesia dulu, psikolog
yang pernah melakukan tes padanya pun mengatakan bahwa putriku memiliki IQ jauh
di atas rata-rata. Tapi di sisi lain, saat itu putriku mengalami keterlambatan
dalam aspek motorik.







Setelah seminar
online berakhir, aku seolah mendapat keyakinan tambahan bahwa putriku berbeda.
Aku bisa lebih sabar menghadapi perilakunya, karena anak gifted disinkroni umumnya
memang memiliki kelebihan sekaligus kekurangan yang jomplang, berbeda
dengan anak normal. Tapi kesadaran untuk tak boleh memarahi anak itu, selalu
tak ingin berlama-lama berdiam dalam hatiku. Ketika evaluasi di sekolah tiba,
dan mendapatkan penjelasan dari guru sekolah putriku, aku kembali gamang. Ia
yang dulu kerap dikatakan memiliki kemampuan lebih dibanding sebayanya—saat di
Playgrup maupun TK tahun pertama di Belanda—kini sama sekali berbeda.







Guru sekolahnya
hanya mengatakan, prestasi putriku biasa-biasa saja. Bahkan kekurangannya yang
paling terlihat adalah lelet. Ia selalu menjadi paling akhir diantara
teman-temannya. Akibatnya ia tak pernah bisa mendapatkan latihan tambahan.
Gurunya hanya menyuruh kami untuk ‘wait and see’. Tapi aku tetap tak
tenang. Anak yang lelet tak pernah aku temukan dalam bahasan seminar
anak gifted. Apalagi, dalam salah satu makalah seminar disebutkan bahwa
pemeriksaan IQ pada anak dibawah umur 7 tahun tidak lah dapat dipercaya. Aku
mengambil kesimpulan sendiri, artinya anakku sama saja dengan anak-anak
sebayanya,”Hanya leletnya saja yang perlu diperbaiki,”pikirku.







Perlahan tapi
pasti, tanpa sadar aku mulai menaikkan standard perilaku untuk putriku. Aku
ingin ia bisa ini dan itu seperti teman-teman seusianya. Aku dan suamiku pun
mencoba mengatasi kelambatan geraknya dengan berbagai cara. Akhirnya apa yang
terjadi? Kemarahan dan kemarahan yang mudah sekali muncul seperti kejadian pagi
itu.







Hiks, Tuhan… apa
yang telah kulakukan pada putriku? Tolong, ampuni aku Tuhan. Selama ini aku
mengaku-ngaku bahwa aku telah mengenalMu. Tapi nyatanya, aku bahkan tak bisa
menerima keputusan yang telah Kau berikan. Aku tak bisa menerima anakku apa
adanya. Anak gifted atau tidak, dia tetap berbeda, dia tetap membawa
keunikan dariMu. Aku mencintainya, sungguh! Dan aku sangat ingin ia bisa
mencintaiMu. Aku ingin menumbuhkan pohon cinta itu Tuhan. Semoga aku belum
terlambat. Mampukan aku Tuhan…




 




 




 



Tuesday, August 16, 2005

Ayah, Kau Begitu Berharga


Saat kau tak ada, dunia kami terasa hampa. Tak ada lagi gelak
tawa dan jerit mungil anak-anak kita. Tak ada lagi cekikik geli mereka.
Mereka rindu wajah anehmu ketika kau menjadi hamtaro yang lucu. Mereka
rindu rentetan peluk ciummu yang kadang berlebihan dan membuat mereka
kesakitan. Mereka rindu diputar-putar, mereka rindu dikejar-kejar.
Mereka rindu suaramu yang bisa mengecil dan membesar. Mereka rindu
wajahmu yang bisa berubah menyeramkan. "Aik miss ayah, mbak Lala kangen
ayah," begitu mereka berujar, hampir setiap malam. Ayah, kami sangat
rindu padamu. Kau begitu berharga. Tanpamu, dunia menjadi begitu
berbeda.



"Para ayah memiliki pengaruh luar biasa terhadap anak-anak mereka. Gaya
permainan ayah kepada anaknya yang  sangat heboh dan kadang kasar
justru merupakan cara yang penting untuk membantu anak belajar tentang
emosi. Ayah yang secara emosional terlibat dalam pengasuhan
anak-anaknya terbukti memberi kontibusi khusus bagi tumbuh kembang
mereka. Studi psikologi bahkan menunjukkan bahwa Anak-anak yang ayahnya
kerap meneguhkan perasaan mereka dan memuji prestasi mereka memiliki
hasil yang lebih baik dalam prestasi akademis dan dalam hubungan dengan
teman sebaya," kata John Gottman dan Joan DeClaire dalam bukunya
'Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional'.



Ayah. Sosok yang jarang berada di rumah. Tapi kehadirannya kadang
membuat rumah kami  bagaikan panggung sirkus bagi anak-anakku.
Kadang ia seperti badut yang menghibur penontonnya, tak jarang pula ia
bagaikan pemimpin sirkus yang menggiring pemainnya untuk berlaga ini
dan itu. Selepas kerja, anak-anak selalu menyambutnya dengan
kegirangan. Lala selalu ingin naik di pundak ayah, dan Aik selalu ingin
mengajak ayah bermain. "Main monster-monsteran yah," pintanya lucu.
Dengan kedua tangan diangkat keatas, badan bungkuk, berjalan
patah-patah, ditambah mata melotot dan wajah dibuat menyeramkan,
anak-anak berlari ketakutan, menghindari monster ayah yang hendak
menangkap mangsa.



Begitu  tertangkap, mangsa tak lagi bisa bergerak. Pipi kanan,
pipi kiri pasti habis diciumi ayah. Ciuman yang kadang nyeri, karena
kumis ayah yang datang bertubi-tubi. Belum lagi kalau monster itu
menjilati mangsanya." Hiii...ilek...! Ayah ih! Jijay bajay!" seru bunda
protes saat melihat sang monster menjilati hidung dan pipi mangsanya.
"Biarin Ma, monsternya gemes sama anak-anak kecil  ini," sahutnya
sambil tetap melanjutkan aksinya. Dan anak-anak? Tentu saja mereka
berteriak ampun-ampunan sambil berteriak geli campur kesakitan. "Ampun
monster, ampuuun!" teriak mereka bersamaan. Monster pun
menjawab,"monsternya baru mati kalo mangsanya berdoa." Dengan sigap,
tangan si mangsa menengadah dan membaca surat al-fatihah,"Gimana Bun
doanya?" kata Lala minta bantuan. Setelah selesai membaca
doa,"Agrhhhh...panas..panas...monsternya matii...!" seru monster sambil
tergeletak jatuh pura-pura mati.



Selesai? "Lagi yah...lagi...lagi monster...lagi!" suara-suara mungil
mereka tak pernah bosan meminta ayah bermain lagi. "Ayah capek sayang,
nanti lagi ya," ujar ayah kelelahan. Tapi rengekan anak tersayang
membuat ayah tak bisa diam. "Oke sekarang hamtaro ayah mau mengejar
mangsa lagi," seru ayah mulai kembali beraksi. Hamtaro adalah boneka
lucu milik anak-anakku. Si ayah memang sering menjadi apa saja semau
dia. Berlagak seperti orang-orangan sawah, tangan lurus kesamping,
dengan telapak tangan digoyang-goyang, mimik muka bodoh, bahu kedepan
dan jalan sempoyongan, hamtaro ayah mulai mencari mangsa. Anak-anak
berlarian sambil tertawa cekikikan, lucu memang.



Bila tak dilarang, mereka pasti keterusan, kasihan ayah kan, capek
bukan kepalang. Tapi walaupun capek, ayah tak pernah bosan. Setelah
makan malam, ritual sebelum tidur tetap  dijalankan. Bergantian
dengan bunda, kadang ayah bercerita seru, atau membacakan buku. Sambil
terangguk-angguk menahan kantuk, ayah berusaha membacakan buku
anak-anaknya. "Ayah nggak boleh tidur!" teriak Aik protes saat melihat
ayah yang mulai tertidur. Dan ayah pun mulai membacakan buku lagi.



Semua keceriaan itu hilang ketika ayah pergi. Walaupun ritual tidur
tetap berlangsung seperti biasa, tapi suara tawa lepas anak-anak tak
pernah terdengar lagi. "Aik miss ayah Bun, hu hu hu...mbak Lala kangen
ayah...," suara dan tangis mereka tentang kerinduan pada ayahnya hampir
terdengar setiap hari. Lucunya, suatu hari, saat makan malam bertiga,
tiba-tiba mereka bergantian menjadi ayah. "Mama, ayah mau makan," suara
Lala yang dibesar-besarkan terdengar dari kursi ayah. Setelah itu ia
tertawa kegelian,"Mbak Lala jadi ayah Bun," katanya lucu. "Sekarang
Aik, sekarang Aik! Aik mau jadi ayah," kata Aik tak mau kalah.
"Anak-anak makan ya...," kata Aik dengan suara besar di kursi ayah.
"Kek..kek..kek....sekarang hamtaro suruh jadi ayah," sahut mereka
kegelian sambil meletakkan boneka hamtaro di atas meja.



Aku geli sekali melihat ulah mereka. Tampaknya mereka betul-betul
kehilangan, sehingga berusaha untuk menggantikan sosok ayah di meja
makan. Tapi pernah juga tiba-tiba Lala bersuara girang,"Yes, sekarang
bunda nggak bisa ngobrol lagi sama ayah!" Tentu saja aku heran,"Lho
memangnya kenapa La, Lala nggak suka ya kalo bunda ngobrol sama ayah?"
Oh, rupanya Lala memang tak suka dengan kebiasaan ayah bunda yang
selalu ngobrol berdua setelah makan. Kalau ayah bunda ngobrol, Lala
merasa tak diperhatikan mungkin, jadilah dia begitu senang karena bunda
tak lagi bisa ngobrol dengan ayah hehe.



Di malam yang lain, saat hendak tidur, Aik ingin memeluk boneka tikus,
tapi karena tak ada, bunda menyuruh Aik untuk memilih boneka yang ada
saja. "Aik pilih ayah," katanya yakin. Hah, ayah? bunda bingung, oh
rupanya Aik mengambil boneka hamtaro, Aik bilang itu ayah he he. Dan Aik pun memeluk 'ayah' sambil tidur. Bunda
langsung tertawa geli, rupanya anak-anak berusaha menggantikan sosok
ayah dengan boneka hamtaro karena ayah beberapa kali sering menjadi
hamtaro ayah, hehe. Duh, anak-anak memang polos dan lucu.



Esoknya, bangun tidur, Lala dan Malik tiba-tiba berseru,"Bunda, tadi
mbak Lala mimpi ketemu ayah," kata Lala senang. "Aik juga, tadi Aik
mimpi dipeluk ayah," sahut Aik tak mau kalah. Hmm...betulkah mereka
bermimpi? Yang pasti, mereka betul-betul merasa kangen tampaknya.
Bahkan semalam, sebelum tidur, tiba-tiba Lala berdoa,"Ya Allah, semoga
aku bisa mimpi ketemu ayahku. Amin." Dan Aik, tentu saja tak mau
ketinggalan."Ya Allah, Aik kangen ayah, Aik mau mimpi ayah," bisiknya
pelan.



Selain itu, ada satu hal yang membuat mereka sungguh senang, kartu pos!
Ya, ayah mereka memang mengirimkan kartu pos spesial untuk mereka dari
Edinburgh. Saat baru saja dibuka dari kotak pos, mereka langsung
berebutan mengambilnya dan minta dibacakan. Kartu pos itu dibawa-bawa
kemanapun mereka pergi hingga beberapa jam. Dan saat kartu pos itu
hilang, tergeletak entah dimana, mereka pun kesal tak karuan. Setelah
bosan, barulah mereka tak lagi menghiraukan kartu pos itu. Waktu mereka
ingat lagi, sebelum tidur pun mereka meminta dibacakan apa yang ayah
tulis di kartu pos. "Mbak Lala tau Bun, itu patung James Watt, di deket
sekolah ayah,"kata Lala sewaktu dibacakan kartu pos dari ayah. " "Ha
ha, laki-laki pake rok, " tawa Aik dan Lala saat melihat gambar
seseorang berseragam khas lelaki Scotland--Gambar kartu pos kiriman
ayah untuk Aik. Hanya sebuah kartu pos, tapi barang itu kerap bagaikan emas bagi mereka.



Ayah, kehadiranmu begitu bermakna. Lihatlah mereka, begitu merindu dan
kehilangan. Permainanmu yang lucu dan mendebarkan, telah memberi mereka
kejutan dan kecerian. Kesabaran dan ucapmu disaat kau kelelahan, telah
menguatkan ikatan yang dalam. Sungguh tak heran bila para ahli
menyatakan bahwa ayah memiliki pengaruh luar biasa terhadap
anak-anaknya, karena hubungan ayah dengan anak ternyata memang
menimbulkan emosi yang sangat hebat dalam diri anak-anak. Kami semua
mencintaimu ayah. Hiks...











Tuesday, August 9, 2005

Kampanye Bicara Kalimat Positif


Bicara menggunakan kalimat positif sangat penting, begitu kata banyak
pakar. Anjuran itu telah lama kudengar, kutulis bahkan kucamkan dalam
benakku. "Orangtua yang selalu berbicara positif, akan membantu
menumbuhkan harga diri anak. Kata-kata positif memiliki kekuatan untuk
membuat anak merasa berguna, merasa senang, memberi harapan dan memupuk
jiwa mereka," tulis Mimi Doe, dalam bukunya 'Sepuluh Prinsip Spiritual
Parenting".



Prakteknya bagaimana, gampangkah? Wuih jangan ditanya. Susahnya bukan
kepalang. Ah masak iya? Lha iya, wong seumur-umur
orangtua kita dulu kebanyakan mencekoki kita dengan kalimat negatif je. Wajar sekali kan kalau akhirnya kalimat positif
malah menjadi kalimat yang tak terbayangkan dan sangat tidak familiar
dengan kehidupan sehari-hari. Tapi bukan berarti hendak menyalahkan
orangtua kita dulu lho. Semua pasti ada sebab, jaman dulu barangkali
penelitian para ahli belum marak. Orangtua kita pun sesungguhnya telah
berbuat yang terbaik bagi anak-anaknya pada masanya. Namun, jaman tentu
saja berubah, kalau ada yang terbukti lebih baik, kenapa tidak dicoba?



Belakangan ini aku melakukannya,  menggerakkan lagi kampanye
bicara kalimat positif dalam keluargaku. Dan hasilnya? Wow,
bagiku mencengangkan dan sekaligus membuatku malu hati. Dulu aku pernah
mencobanya, tapi hanya tahan beberapa bulan. Kepindahanku ke negeri ini
dengan segala dampaknya menguras tenagaku lahir dan batin. Waktu banyak
ku habiskan untuk menata diriku sendiri yang memang lebih membutuhkan.
Aku menjadi lebih sensitif, gampang sekali naik darah. Padahal dulu aku
termasuk ibu yang cukup sabar, walaupun memang masih kalah dibandingkan
suamiku. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi ibu yang baik, bila aku
belum 'menemukan' diriku sepenuhnya.



Proses belajar terkadang memang melelahkan dan menyakitkan, tapi
tentunya akan berbuah juga. Perlahan aku mulai bangkit, mengontrol
emosiku, menata lagi kesabaranku dalam menghadapi anak-anakku. Saatnya
tiba, ketika aku mulai tersadarkan lagi untuk menggerakkan bicara
dengan kalimat positif dalam rumah kami. Entah mengapa, hati dan telingaku kini
menjadi tergelitik mendengar Lala yang sering berbicara dengan kalimat
negatif. Padahal sebelumnya aku sama sekali tak terpengaruh atau
tepatnya mengabaikan saja barangkali.  "Aik! Kalo Aik nggak mau
berbagi, mbak Lala marah sama Aik!" begitu kira-kira ucapan yang kerap
terlontar dari mulutnya. Dan, tentu saja, kalimat ini menular kepada
Malik adiknya.



Lho? Kalau Malik tertular dari Lala, mestinya Lala berbicara seperti
itu juga tertular dari seseorang dong ya. He he, dari siapa lagi kalau
bukan dari orangtuanya. Mestinya begitu kan? Aku bisa saja
ngeles bahwa aku tak pernah mengajarkan anak-anakku
berbicara seperti itu, seperti halnya aku tak pernah mengajari mereka
memukul. Toh akhirnya mereka memukul juga, mencubit juga sebagai respon
normalnya anak-anak saat tidak suka. Tapi bagaimanapun, aku akui bahwa
tidak selamanya aku bisa mengontrol diri untuk bisa selalu berbicara
baik-baik pada mereka.



Seorang ibu juga manusia yang bisa kesal dan marah tentu saja. Namun
alangkah mulianya bila si ibu bisa menahan kemarahan dan kekesalannya,
mengolahnya dalam hati sehingga tetap menjadi telaga yang meneduhkan
bagi anak-anaknya. Ibu yang seperti ini barangkali sudah melakukan
jihad terbesar, jihad melawan hawa nafsunya sendiri. Hmm...itu masih
menjadi mimpi bagiku. Sekarang? Aku sedang belajar, dan untungnya,
anak-anakku mengajariku banyak hal, termasuk dalam kampanye bicara
kalimat positif ini. 



Dalam sebuah pelatihan komunikasi pengasuhan anak yang pernah aku
ikuti, ada mendapatkan rumusan sederhana yang sering aku terapkan pada
anak-anakku.  Rumusnya adalah menggunakan 'Pesan Saya' atau
'Mendengar Aktif' dalam berkomunikasi dengan anak. 'Pesan saya'
digunakan bila masalah ada di orangtua. Sedangkan 'Mendengar Aktif'
kita gunakan bila masalah ada pada anak. Rumus 'Pesan Saya' dipermudah
dengan kalimat seperti ini "Kalau kamu....bunda
merasa....akibatnya...." Contoh 'Pesan Saya' aku gunakan pada kasus
seperti ini: Malik sering sekali naik ke atas meja, artinya masalah ada
di  aku, orangtuanya, karena bagi Aik, hal itu malah menyenangkan.
Jadi untuk kasus ini, aku memakai kalimat 'Pesan Saya' . Aku katakan
pada Aik, "Aik, kalo Aik naik-naik meja, bunda khawatir Aik jatuh,
nanti Aik bisa sakit kakinya."



Sederhananya begitu, tapi kadang-kadang dalam kondisi lelah dan penat,
rumusan yang bagus itu akhirnya terpotong. Alih-alih ingin mengajari
anak tentang sebab akibat dan  memahami perasaan orang lain,
akhirnya malah menjadi ancaman dan perintah. Hal ini justru yang
tampaknya sering terjadi. Untung saja kesadaran itu muncul lagi.
Kesadaran untuk memperbaiki cara komunikasi diantara kami dan terutama
berbicara dengan kalimat positif.



"Aik! Kalo Aik rebut mainan mbak Lala, mbak Lala marah sama Aik! Nanti
nggak ada orang yang suka sama Aik!" teriak Lala suatu hari. Lala
sedang marah karena mainannya direbut adiknya. Momen yang tepat,
pikirku. Aku tengahi mereka dan setelah mereka tenang, aku buat
kesepakatan dengan mereka. "Lala dan Aik, sekarang kita mulai bicara
pake kalimat positif ya," kataku sehabis sarapan. "Jadi kalo mbak Lala
lagi marah kayak tadi, mbak Lala rubah kalimatnya, coba jadi begini :
mbak Lala seneng sekali kalau Aik ngembaliin mainan mbak Lala, pasti
nanti Aik disukai temen-temen kalo Aik begitu."



Hmm... sebetulnya aku juga kebat kebit sendiri, aku saja masih
kelimpungan membuat kalimat positif apalagi Lala dan Aik. Tapi ya
sudahlah namanya juga usaha hehe. Lalu aku katakan juga pada mereka,
"Kalo mbak Lala sama Aik denger ayah bunda bicara pake kalimat negatif,
mbak Lala sama Aik tolong ingetin ayah bunda juga ya." Aku tak berharap
banyak, hanya berusaha saja, kalau hasilnya seperti dulu lagi ya
sudahlah.



Tapi ternyata, tak disangka, Lala menjadi pengingat setiaku! Dan
ajaibnya, dia jadi pintar  merangkai kalimat positif. Sesekali
memang dia lupa kalau sedang dalam kondisi marah luar biasa, dan aku
pun tak lupa mengingatkannya. Namun obrolan selepas sarapan itu
betul-betul diserapnya. Hasilnya? Malah aku yang sering ditegur oleh
Lala. Kalau sedang marah, boro-boro ingat mau pakai kalimat apa, yang
ada hanyalah perasaan ingin ngomel dan mencurahkan semua
kekesalan  di hati. Seperti hari ini, suamiku sedang
summer school ke Edinburgh. Mau tak mau, semua
pekerjaan rumah dan ulah anak-anak harus aku tangani sendiri. Ingatan
akan 2 minggu kepergiannya saja sudah membuat hatiku tak karuan,
apalagi ditambah mengurus anak-anak dan rumah sendirian. Aku jadi lebih
mudah meradang.



"Aik, kalau Aik nggak mau beresin baju-baju Aik yang berantakan itu,
kita nggak jadi main sekolah-sekolahan ya. Bunda mau ngetik t erus kalo
Aik nggak mau beresin! " sahutku kesal. Tiba-tiba saja Lala 
langsung bersuara,"Bunda, bunda itu pake kalimat negatif Bun."
Hmh...Ggrh...Oh....entah apalagi yang ada di hati dan kepalaku saat
mendengar suara mungilnya, menohok hatiku. Rasanya hati ini masih ingin
meluapkan segala kekesalanku, tapi mendengar teguran gadis mungilku
yang lugu, oh...mana tahan. Kekesalan itu mau tak mau harus kuendapkan.
Malu pada anak sendiri? Ya memang bersitan rasa malu pun muncul,
normalnya keegoisan manusia barangkali. Tapi, bukankah mestinya aku
bersyukur?



Ya, mestinya aku bersyukur. Ingatan tentang rasa syukur karena telah
diingatkan oleh putriku sendiri membuat kalimat maaf dan perbaikan
leluasa meluncur dari bibirku. "Oh,iya maafin bunda ya sayang, bunda
lagi kesel. Mestinya bunda bilang gini ya, Aik, bunda seneng sekali
kalo Aik mau beresin baju-baju Aik. Nanti kita bisa cepet main
sekolah-sekolahan deh." Hmm...walaupun Aik tetap saja melenggang
kangkung dengan manisnya, tapi setidaknya pelajaran untuk saling
mengingatkan dan memaafkan ini semoga saja masuk kedalam hatinya.



Kejadian semacam ini bukan hanya sekali dua, hampir setiap hari. Lala
betul-betul menjadi kontrol yang baik buatku. Kini Lala pun selalu
berusaha bicara dengan kalimat positif, dan berpikir dulu sebelum
marah-marah kepada Aik. Lain halnya kalau Lala sedang lelah, mengantuk
atau marah besar, semua aturan itu lenyap begitu saja dari pikirannya,
sama saja lah seperti bunda tadi hehe. Dan Malik, tampaknya juga
menyerap semuanya dan ingin seperti Lala, tapi dia belum bisa
membedakan mana kalimat positif dan mana negatif. "Aik pasti
kelereng-kelereng itu akan senang sekali kalo dikumpulin lagi sama Aik,
nanti mereka nggak kedinginan diluar," ujarku mencoba memintanya
membereskan mainan. Tapi tiba-tiba wajah Aik langsung nyureng dan
berujar,"Bunda itu pake kalimat negatif! Bunda  harus pake kalimat
positif bun!" Katanya dengan percaya diri, padahal salah hehe.



Anak-anak memang kadang mencengangkan, aku betul-betul terbantu
dan banyak sekali belajar dari mereka. Semoga saja usaha kami kali ini
berhasil. Hanya saja, jangan berharap aku bisa sukses memakai kalimat
positif ini kala sedang ngambek sama suamiku. Dia kadang protes, "Ke
anak-anak bisa kampanye kalimat positif, lha koq sama aku ndak bisa."
Hmm... kalau ini sih lain soal, "sama siapa lagi aku bisa begitu kalau
bukan sama ayah, kan merajuk hehe, nggak seru lagi dong yah kalo kita
baekan terus hi hi, asal anak-anak nggak denger aja." Begitu alasanku
kepada suamiku.  Kepadanya, aku memang bisa
ngeles, malas memakai kalimat positif dengan alasan
merajuk, tapi kepada anak-anak? Ah, siapa yang mampu melawan keluguan
dari suara dan wajah-wajah mungil mereka. Merekalah malaikat-malaikat
kecilku, yang datang dari surga untuk mengajari aku.

















Thursday, June 2, 2005

Inikah Yang Namanya Syukur?


Bagi sebagian kalangan, mendampingi suami sekolah di luar negri
barangkali tampak selalu nikmat dan mengasyikkan. Memang sih banyak
sukanya juga, bisa kumpul sama-sama, bisa jalan-jalan dan banyak dapat
pengalaman. Tapi jangan salah, dukanya juga segudang. Salah seorang
temanku yang dulu bernasib sama di Inggris pernah bilang "Tenang Nes,
bukan cuma Agnes koq yang ngalami begitu, aku malah happynya cuma tiap akhir pekan aja. Temanku juga ada yang kerjanya nangiis aja pas awal-awal datang" begitu tulisnya dalam email.



Nah lho, ternyata memang tak mudah kan." Ah, nggak bersyukur kali,"
kata sebagian orang. Hmm, yang namanya bersyukur itu sebetulnya
bagaimana ya? Rasanya sudah setengah mati diri ini bilang syukur dan
meyakin-yakinkan diri bahwa aku harus bersyukur dan bersyukur. Tapi
kalau kenyataannya masih terasa berat dan tak bisa menahan air mata
bagaimana? Dan ternyata, setelah aku survey, yang terutama merasa berat
mendampingi suami di luar negeri adalah mereka-mereka yang dulunya di
Indonesia tak bisa 'diam' alias hobi berkegiatan.



Tapi Allah memang Maha Penyayang. Ketika sedang merasa 'down' begini,
selalu saja ada sesuatu yang bisa membuatku bangkit dan bangkit lagi.
Entah itu nasehat seorang kawan, atau tiba-tiba membaca sesuatu yang
mencerahkan. Kadang aku berpikir, mungkin Allah memang membuatku
mengalami ini semua, supaya aku bisa menjadi orang yang tahan banting.
Untuk tahan banting memang tak gampang bukan?



Seperti kali ini. Sudah 3 hari ini aku bergadang, sangat kurang tidur.
Ya, bagaimana lagi, sudah kadung janji, tulisanku harus kelar minggu
ini. Alhasil aku limbung. Aku terserang radang tenggorokan, disertai
panas
badan. Badanku linu, dan lemas sekali. Obat sudah kuminum, tapi tetap
saja keluhan hanya sedikit berkurang. Duh, rasanya ingin sekali cuma
tiduran saja di pembaringan. Tapi mana mungkin. Hidup sendirian tanpa
sanak saudara begini, apapun yang terjadi, the show must go on. Suamiku
tak mungkin bolos kerja, dan anak-anakku pun tetap harus sekolah. Aku
tetap harus mengantar jemput mereka. Aku tetap harus memasak untuk
mereka. Dan, aku pun tetap harus melayani rengekan-rengekan mereka.



Jarum panjang sudah tepat di angka 12 siang, tapi badanku rasanya
tetap enggan untuk digerakkan. Padahal anakku pasti sudah menunggu jemputan.
Ya Allah, beri aku kekuatan. Hanya itu yang bisa kukatakan. Dan,
pergilah aku menjemput anakku tersayang.



Sampai disana, ternyata anakku berulah. Dia tak ingin pulang, karena
masih ingin bermain serodotan. Ya sudahlah, dengan lemas dan
sakit-sakit badan, aku duduk saja menunggunya bermain. Eh, ternyata,
seorang perempuan datang menegurku "Anaknya nggak boleh main disitu bu,
ini buat anak besar, nanti kalau kedorong anak besar gimana" katanya
dalam bahasa Inggris.



Aku mulai kesal. Gregetan. Biasanya juga tak pernah ada yang larang.
Anakku selalu bermain disitu setiap siang. Iya sih mungkin dia benar
dan  tentu maksudnya baik, tapi tetap saja aku kesal. Kesal karena
tahu Malik pasti bakal mengamuk tak mau pulang, lantaran biasanya tak
pernah dilarang. Apalagi ini waktunya dia tidur siang. Wah, sudah pasti
akan terjadi kehebohan.



Dan ternyata benar, dia meraung habis-habisan waktu kubawa pulang.
Tenagaku yang sudah lemas ini rasanya tak mampu menahan marahnya.
Kekesalanku pun makin menggunung jadinya. Aku bawa dia naik kereta
sepeda, tapi kakinya malah kelojotan. Dia tetap berlari ke arah tempat
mainan sambil menangis tak tertahan.



Saking kesalnya tak tahu lagi harus bagaimana, aku datangi perempuan tadi, dan aku katakan padanya "Please tell him what do you want, he don't want to go home. Tell him in Dutch, he will be understand". Dia bilang "sory
lalu menjelaskannya pada Malik. Tentu saja tangis Malik makin keras.
Tapi setidaknya Malik yakin bahwa apa yang kukatakan benar--dia
harus pulang karena dilarang bermain di tempat itu.



Berakhirkah perjuanganku? tentu saja tidak. Malik tetap tak ingin
pulang dan menangis kelojotan. Ya, dia memang selalu begitu kalau
sedang mengantuk dan keinginannya tak dikabulkan. Akhirnya aku buat
kesepakatan, "Satu kali lagi naik serodotan ditemani bunda, habis itu
pulang" Oke. Deal. Setelah itu barulah Malik mau diajak pulang.



Selesai? Hmm sayangnya belum juga. Setelah menarik sepeda layaknya
abang becak--karena kereta sepedaku memang mirip becak :-)-- sampai di
depan rumah Malik tertidur. Terpaksa aku harus menggendongnya ke atas.
Sepedaku pun terjatuh saat aku mengangkat Malik. Flatku terletak di
lantai 2. Ya aku memang cuma harus menaiki 2 lantai. Tapi mengangkat
beban seberat 14 kg dalam keadaan sakit begini, tetap saja gempornya
minta ampun.



Tiba di kamar, aku betul-betul ngos-ngosan. Hatiku pun tak karuan.
Rasanya jadi ingin sekali  pulang. Ingatanku tentang kehidupanku
dulu malah semakin membuat hatiku tak karuan. Kalau
di Bandung, aku tinggal naik mobil, tak perlu mengayuh sepeda hingga
ngos-ngosan begini. Kalau di Bandung, dalam kondisi begini pasti bapak
ibuku dengan suka rela  menjemput anakku dan mengasuh mereka
. Hmh, buat apa pula aku mengingat itu semua, membuat hatiku tambah kesal saja.



Sambil menidurkan Malik, kutarik napas perlahan, berharap kekesalan ini
segera hilang.  Lamaa kutarik lagi dan lagi napas ini, tapi tetap
saja kekesalan itu tak mau pergi. Sampai akhirnya ingatanku kembali
pada cerita ibunda mbak Virrie di postingan WRMom kemarin. Ya Allah,
apa yang kualami belum seberapa dibandingkan dengan ibunya mbak Virrie.
Aku masih memiliki suami yang bisa kuajak berbagi. Aku tak perlu kerja
setengah mati demi sesuap nasi. Tapi beliau? Hiks. Ada yang menetes dari mata ini.
Kekesalanku hilang perlahan, berganti dengan syukur yang mendalam. Inikah yang
dinamakan syukur Tuhan?















Tuesday, May 24, 2005

Rebutan Lagi...Rebutan Lagi...


Rebutan.jpg

Demi keadilan aku rela :-)

Berebut
mainan? Rasanya semua anak pasti pernah melakukannya, apalagi kakak
beradik yang usianya tak terpaut jauh. Malik dan Lala? Hmm...tentu saja
iya, berebut barang sudah menjadi makanan mereka sehari-hari. 
Bagusnya, mereka jadi belajar berbagi, dan belajar mengendalikan ego
masing-masing. Kabarnya  masa egosentris yang menjadi ciri anak
balita ini, bila tak tertangani dengan baik bisa bahaya akibatnya.
Biasanya, orangtua jaman dulu sering mengorbankan anak pertama supaya
mengalah kan. Alhasil, kakak jadi pengalah, dan si adik jadi semau gue.
Duh, kami sungguh tak mau begitu. Kalau begitu, si kakak jadi
terdzolimi kan.

Selama ini aku dan suamiku mengatasi masalah
ini dengan membuat kesepakatan tentang kepemilikan barang. Warna pink
untuk Lala dan warna biru untuk Malik. Selain itu kami juga selalu
mengatakan bahwa Lala perempuan dan Malik laki-laki. Jadi mainan berbau
perempuan ya untuk Lala, dan laki-laki untuk Malik. Tapi, selalu saja
ada barang lain yang menjadi bahan rebutan. Jadi, tak heran kalau tiada
hari tanpa berebut.

Dulu, kami selalu turun tangan membantu
kalau mereka sedang berseteru. Tapi sekarang, mereka kami dorong untuk
menyelesaikan masalah mereka sendiri. Biasanya mereka main pingsut,
siapa yang menang dia yang duluan pegang mainan itu. Setelah hitungan
ke-10, 20 atau 100 sesuai kesepakatan, barulah yang kalah mendapat
kesempatan. Kadang berhasil, kadang tetap saja kami harus membantu
melerai. Suka duka jadi orangtua deh kalau sudah begini :-) Pusing
hehe. Tapi satu hal yang membuat kami yakin,  masa ini akan
terlewati dengan baik bila kami tetap konsisten. Tapi...kapan ya? Malam
ini, lagi-lagi mereka ribut.

"Hua...hua... Aik mau boneka itu, kalo enggak, Aik mau nangis terus, huaa...huaa!"

Duh,
tangis Aik keras sekali, padahal ini sudah jam tidur. Perkaranya,
apalagi kalau bukan rebutan mainan dengan Lala. Lala punya boneka
Eiffel, oleh-oleh dari Paris. Waktu itu kesepakatannya, Malik dapat
puzzle Eiffel dan Lala dapat boneka Eiffel. Ternyata... namanya
anak-anak, tetap saja rebutan. Lala mau boneka itu dia peluk menjelang
tidur. Malik menangis keras lantaran ia pun ingin memeluknya sebelum
tidur.

"Itu kan bonekanya mbak Lala Ik, Aik pegang boneka lain aja ya"

"Enggak!
Aik mau yang itu huaa...huaa..." Begitulah Aik, memang sedang masanya
tak bisa dilarang atau ditolak. Aku berusaha menenangkannya, meneguhkan
perasaannya. Biar saja Aik menangis, supaya dia belajar bahwa tak semua
yang diinginkan bisa terkabul saat itu juga. Tapi karena Lala kasihan
melihat adiknya menangis terus barangkali, tiba-tiba Lala jadi berbaik
hati.

"Bunda, Ik heb goed idea (aku punya ide bagus)" katanya sambil bisik-bisik ditelinga bunda.

"Bonekanya dikasih pinjem aja ke Aik sampe Aiknya tidur ya bun, kalo Aiknya udah tidur diambil lagi sama mbak Lala"

"Waduh...mbak
Lala baik sekali mau berbagi" sahut bunda surprise. Dan, Aik tentu saja
langsung  mesam-mesem berhenti menangis.

"Aik, Aik boleh pinjem sampe hondred, tachtig ya (100, 80 hitungan maksudnya) Tapi pinjem ya, ini punya mbak Lala ya, Aik pinjem " ujar Lala menegaskan.

"Pinjemnya sampe Aik bobo ya mbak Lala, mbak Lala baik sekali"

"Iya bun" Lala menjawab singkat lalu meringkuk dalam selimutnya.

"Aik bilang apa sama mbak Lala?"

"Bedankt (trimakasih)" kata Aik sambil senyum-senyum

Fffhuuihh...lega...
akur dah, aku takjub juga dengan kebaikan hati Lala :-). Semenit, dua
menit, lima menit berlalu, Aik senang sekali memeluk boneka milik
kakaknya. Tapi tiba-tiba...koq ada suara hiks...hiks... Oo.. ternyata
ada yang tidak ikhlas hehe.

"Mbak Lala nggak bisa bobo kalo nggak peluk boneka hu...hu...hu..."

"Kalo gitu Lala peluk boneka lain aja ya, Aiknya belum tidur mbak"

"Hua...nggak mau, itu kan bonekanya Lala huaa...Aik harus kembaliin huaa..."

Duorr! Pecah lagi deh kamar. Ribut. Rebutan lagi.

Akhirnya
karena sudah larut malam, ayah terpaksa turun tangan. Diambil jalan
tengah, "bunda yang pegang bonekanya ditengah, Aik pegang dari kanan
dan mbak Lala dari kiri, oke."

"Huaa.. tapi itu kan bonekanya mbak Lala...huaa..."

"Iya La, adeknya pengen pegang sedikit boleh kan La, Lala pegang yang banyak oke"

Horee
berhasil! Tapi dalam hati aku geli sendiri. Lucu melihat Malik memegang
ujung boneka dengan tangannya. Lala pun memegang dari arah yang lain.
Dan bunda? "Bunda harus pegang yang putihnya" kata Aik.

Oke
deh...  Jadilah 3 tangan memegangi satu boneka sambil tidur he he.
Dasar anak-anak...ada-ada saja...Dan akhirnya mereka pun
tertidur...Zzz...zzz...