Sunday, September 30, 2007

Memahat Jejak Manis Ramadhan

"Sahur..Sahuur! Tok..Tok..Tok..Sahur..Sahur...!" Suara-suara itu kerap membangunkan lelapku dulu. Walaupun kemudian aku tidur lagi dan baru bangun setelah ibuku menggoyang-goyang badanku, namun suara panggilan sahur, yang hampir setiap tahun kudengar itu, seperti paku yang menancap kuat dalam memoriku.

Begitu pula dengan 'ngabuburit'. Setiap anak yang dibesarkan di Jawa Barat, pasti kenal dengan istilah ini. Ngabuburit selalu asik. Main galah, main kasti, main kartu, main layang-layang, main masak-masakan, semua permainan kami lakukan untuk melupakan sejenak haus dan lapar. Tiba-tiba saja senja sudah menjelang. Tiba-tiba saja adzan maghrib berkumandang. Es cendol, es teler, kolak, cincau, setiap hari berganti di meja makan, menjadi penganan pembuka puasaku.

Belum lagi suasana sholat tarawih bersama. Biarpun di shaf paling belakang suara ribut selalu terdengar, walaupun saat sholat terdengar anak-anak berlarian, tapi ceramah ustadz harus tetap kudengar, supaya bisa mendapat tandatangan. Ah,  kenangan-kenangan ramadan itu selalu membuat rindu, dan selalu membuat bulir bening mengambang di mataku.

Kini, ribuan kilometer jarakku dari suasana ramadan semacam itu. Tak ada panggilan sahur. Tak ada bedug berkumandang. Yang ada hanya panggilan adzan 'palsu' dari laptop milik suamiku. Mesjid Selwerd, yang penampakannya seperti rumah, cukup jauh dari rumah kami. Disana pun adzan tak boleh terdengar berkumandang keluar. Kalau kami jalan ke pasar, bau wangi patat (kentang goreng) dan kibbeling (nama sejenis ikan) goreng, serta pemandangan orang makan memanja mata kami. Di tempat seperti inilah kini, aku harus mengajarkan anak-anakku berpuasa. Jangan heran kalau kami akan dianggap melakukan child abusing bila anak kami berpuasa di sekolah, bahkan orang dewasa yang berpuasa saja kerap mendapatkan pandangan miring. Walaupun tentu tidak semua orang berpandangan seperti itu. Tapi tetap saja, mengajarkan anak-anak berpuasa disini menjadi hal yang sulit karena lingkungan sangat tidak mendukung. Belum lagi, anak-anak muslim Maroko dan Turki yang banyak tinggal disini pun kebanyakan tidak berpuasa hingga usia baligh.

Garing seperti di padang pasir. Begitulah suasana puasa di negeri ini. Namun aku tak ingin membiarkan anak-anakku selalu seperti berada di padang pasir bila ramadan datang. Aku ingin memori mereka memahat jejak manis tentang ramadan, tentang Tuhan. Dalam ramadhan tahun ini aku mencobanya. Tahun-tahun sebelumnya, aku hanya mengenalkan saja tentang puasa pada mereka. Sejak tinggal disini dan belajar sedikit tentang usia tumbuh kembang anak dari bu Adi dan bu Julia (guru-guruku dalam soal parenting), aku mencoba untuk tidak kesusu. "Setiap anak punya usia tumbuh kembang sendiri-sendiri yang kita tidak bisa paksakan lajunya," begitu kira-kira ilmunya. Yang penting kita sebagai orangtua tetap memasang radar dan siap bertindak saat tanda-tanda kematangan telah terlihat.

Jadi aku membiarkan saja saat Lala belum ingin puasa di usianya yang ke-6. Dan aku hanya mengangguk saat Malik di usianya yang ke 5, selalu bilang,"Bunda, Aik sholatnya satu kali sehari aja." Itu pun masih pakai diskon lho :-). Bila aku sedang membaca al fatihah di rakaat pertama sholatku, Malik yang ikut sholat di sebelahku pasti mendongak dan berbisik,"Bunda...Aik sholatnya dua rakaat." Dan setelah dua rakaat, ia pasti segera berlari, kembali berkutat dengan mainannya. Walaupun begitu, Malik selalu berjanji bahwa ia akan sholat dua kali sehari kalau usianya 6 tahun nanti.

Mengajarkan anak beribadah dengan menyenangkan, itu yang ingin kulakukan. Sulit sungguh, karena dulu pun aku tak pernah diajarkan cara beribadah dengan menyenangkan. Dalam urusan sholat, demi mengajak sholat dengan cara yang menyenangkan, selain dengan bercerita tentang pentingnya sholat, suamiku pernah pegal-pegal pundaknya karena anak-anakku bergantian naik ke pundaknya saat sholat. Mereka membuat kesepakatan, rakaat pertama, Malik yang naik ke pundak ayah, rakaat kedua, Lala yang naik ke pundak ayah. Lalu rakaat selanjutnya mereka harus sholat dengan tertib. Walaupun kini acara naik pundak saat sholat sudah tak lagi dilakukan, tapi setidaknya, Malik dan lala sudah setia dengan kata-katanya. Malik selalu sholat satu kali sehari di usia yang kelima (walaupun masih pake diskon :-)), dan Lala selalu sholat dua kali sehari di usia yang ketujuh. Tentu itu pun kami harus tetap mengingatkan. Apa yang kami lakukan memang jauh ketinggalan dibandingkan dengan anak-anak lain seusia mereka di Indonesia. Namun dengan hasil seperti itu pun aku sungguh bersyukur. Kami hanya harus konsisten kembali mengingatkan untuk menambah jumlah sholat mereka saat umurnya bertambah nanti. Semoga saja sabar dan konsisten itu selalu menyertai kami.

Soal mengajarkan puasa lain lagi. Beberapa hari sebelum ramadhan, anak-anakku dan suamiku membuat poster tentang ramadhan. Kami juga menghias rumah dengan gantungan warna-warni. Walaupun sederhana tapi cukuplah untuk membuat suasana rumah berbeda. Lala membuat poster dengan gambar kentang dan gelas minum di coret, bertuliskan 'verboden te eten' (dilarang makan). Dia juga menggambar sebuah hati besar dengan mahkota yang menunjukkan bahwa puasa itu asik. Sedangkan Malik yang baru belajar menulis, menulis kata-kata 'Verboden te Eten' besar-besar di atas kertasnya.

Lala dan Malik mempunyai karakter yang berbeda. Malik bisa menunjukkan determinasi yang kuat, dengan tegas memilih apa yang dia mau, percaya diri dan berani berbeda. Tapi Lala tidak (apalagi di sekolah, dalam lingkungan belanda). Perbuatan Lala kadang cenderung ingin menyenangkan orangtuanya, Lala kerap lamaa sekali membuat keputusan saat harus memilih, gampang berubah kalau aku tidak setuju dan Lala belum berani berbeda. Karena itu untuk tidak membebaninya, aku membuat kesepakatan dengan lala  tentang waktu berpuasa yang ia inginkan. Akhirnya kami sepakat, Lala mulai 'sahur' saat makan siang di sekolah (jam 12 siang) dan berpuasa hingga maghrib. Sedangkan Malik mulai sahur setelah pulang sekolah jam 3 sore hingga maghrib.

Hari pertama puasa Lala gagal, karena lala diajak main ke rumah temannya. Disana lala diberi permen dan makanan."Kenapa mbak lala nggak bilang kalo lagi puasa?" Jawaban lala sudah bisa kutebak,"Ik durf niet te zeggen (aku ga berani bilang)," katanya. Bahkan padaku saja dia kerap takut-takut kalau mau bilang sesuatu. Lala pernah kelaperan berat dan ingin membatalkan puasanya. Tapi dia hanya rewel saja. "Bunda tau, mbak lala mau batal kan. Nggak papa mbak, batal aja, mbak lala kan lagi belajar nggak papa sekali-kali batal. " Lagi-lagi dia bilang,"Ik durf niet te zeggen". "Bunda bukan monster mbaak, Bunda ini bundanya lala yang sayang sekali sama mbak lala."...setelah aku bilang begitu baru kemudian lala betul-betul bilang bahwa ia ingin batal.

Puasanya Malik, walaupun hanya dari jam 3 sore, tapi sudah membuat Malik kadang kelabakan. "Mother, I'm hungry," katanya suatu sore. (malik memang lagi demen ngomong pake bahasa Inggris :-)). "Eh udah jam 6 sore Ik, sebentar lagi udah buka lho, sayang kalo aik batal. Aik main aja biar lupa." Malik main-main sebentar, tapi kemudian balik lagi."Ik heb honger Bun (Aku lapar Bun)!" Aku coba ingatkan Malik tentang cerita Abu Bakar dan seorang ibu yang memasak batu."Aik inget nggak cerita itu. Anak itu kelaparan sama mamanya dibilang sebentar lagi sebentar lagi terus, padahal mamanya masak batu. Anaknya kelaparaan terus ga bisa makan karena mamanya ga punya makan. Aik cuma harus nunggu sebentar lho. Habis itu aik bisa makan semua." Setelah itu aik kembali main, tapi terus balik lagi dengan kalimata yang sama,"Mother, I'm hungry.." hehehe. Tapi walaupun begitu, Malik betul-betul bertahan tetap puasa hingga adzan maghrib tiba. Iming-iming varasing dan hadiah di akhir ramadhan tampaknya menarik sekali buat Malik sehingga Malik bersemangat belajar puasa.

Satu hal yang selalu ditunggu anak-anak dalam bulan ramadhan kali ini memang varasing (kejutan) setelah berbuka dan sholat maghrib. Awalnya kami membuat ramadan kalender, kotak ramadhan yang dilubangi 30 buah sejumlah hari ramadhan. Ide ini aku dapat dari mba Eva Nukman disini : http://vayenukman.multiply.com/photos/album/18/Der_Ramadhankalender

Anak-anakku sudah membuatnya dengan semangat. Tapi berhubung sibuk, aku baru mengisi tiap lubangnya menjelang berbuka. Awalnya aku mengisi kertas varasing itu dengan sebuah peta yang menunjukkan dimana kejutan itu berada. Mereka memang senang saat menemukan hadiah sebuah cincin senter seharga 25 sent euro, Tapi kemudian lala mengeluh,"te makelijk (terlalu gampang) Bun." Lala dan Malik ingin kami membuat peta yang sulit atau sandi rahasia untuk menemukan varasingnya. Alhasil, setelah sholat dan berbuka, aku atau suamiku selalu sibuk membuat kode-kode rahasia atau peta untuk menunjukkan dimana si 'harta karun' berada. Kadang suamiku membuat tulisan terbalik, kadang dalam bahasa Inggris, kadang dalam soal matematika, dan apa saja sekeluarnya ide di kepala. Tantangan dan hadiah-hadiah seharga tak lebih dari 50 sent euro itu selalu membuat mereka senang.

Beberapa hari lalu, aku kelelahan karena suamiku sedang ke Bulgaria. Aku harus mengurus semuanya sendiri. Lalu aku tak ingin memberi mereka kejutan setelah berbuka,"Bunda capek, kita bobok aja yuk." Aku sekalian berharap bisa mengajarkan mereka berpuasa bukan hanya karena varasing. Alhasil Malik ngomel-ngomel, Lala awalnya juga ngomel. Tapi setelah kujelaskan bahwa kita berpuasa bukan karena varasing lala langsung paham."Mbak lala nggak papa bun nggak dapat varasing,mbak lala tetep mau puasa," katanya. Sedangkan malik masih menuntut agar varasingnya dibuka esok hari. Aku sungguh maklum, begitulah, setiap anak memang memiliki usia tumbuh kembang yang tidak bisa kita paksa lajunya.

Varasing dan hadiah memang kami berikan sebagai sebuah usaha agar ramadhan terpahat manis dalam hati mereka. Bukankah usia mereka memang masih senang dengan tebaran hadiah? Namun kuharap seiring berjalannya waktu dan pengertian-pengertian yang kami berikan, nantinya mereka akan mengerti bahwa puasa mereka mestinya bukan karena hadiah. Kita puasa supaya kita bisa merasakan penderitaan orang lain yang nggak bisa makan . Kita puasa supaya noda-noda di hati kita terhapus satu persatu. "Karena ketika puasa, Mbak lala, setan-setan pada pergi dari hati kita dan cahaya Allah semakin bersinar di hati kita."

Ya Allah..semoga kelak pahatan jejak ramadhan yang mereka lalui ini, sungguh akan melekat manis di hati mereka dan bisa membuat mereka mengenalMu dan mencintaMu. Amin.





Sunday, September 16, 2007

Triple Choco Caramel berhias Transfer sheet




Dah lama banget ga bikin kue, diriku mengalami baking blues berkepanjangan (baca: pamalesan :-)), sampe yang mesen pun kutolak-tolak, dasar daku benar-benar pemalas tea. Naa kebeneran tetanggaku sesama orang Indonesia, mba Indah tercinta, yang udah kaya sodara aja ma aku dan bertaon-taon menemani hari-hariku di Groningen dah mau pulang ke Indo. Hari sabtu kemaren, pas acara perpisahan, aku buatlah kue ini untuk mba indah sekeluarga (walopun yang makan sih mesti rame-rame).

Tadinya pengen bikin devil chocolate cake lagi, tapi berhubung penasaran sama si tripel choco caramel akhirnya kubikinlah kue ini. Berikut aku punya transfer sheet yang dulu nitip tolong beliin ke Susi, temenku di Bandung, dan belum pernah dipake. Jadilah akhirnya si kue aku hias pake transfer sheet motif batik ini, mayan cakep kan, walopun ga rapi krn buru-buru bikinnya (ngeles mode on :-)). Tx ya Susi, jd kepengen bikin lagi soalnya ternyata pake transfer sheet itu gampang banget. Tinggal olas-oles coklat tim diatas transfer sheetnya, dimasukin bentar ke freezer, setelah beku tinggal dikletekin, jadi deh.

Kalo soal kuenya, buat aku yang demen coklat siy ya enak, berasa nyoklat banget. Cuma kalo yang go doyan coklat mungkin jadi kerasa aga pait kali ya. Tapi klo aku sih suka.

Ini dia resepnya :

Triple Choco Caramel Cake
recipe by : uceu

Bahan- Bahan :
10 btr Telur
150 gr Gula
1 sdm Emulsifier
140 gr Tepung terigu
60 gr Cocoa Powder
75 gr DCC
100 gr Margarine cair

cara membuat :
1. panaskan margarine sampai mencair, masukan DCC, aduk rata, dinginkan
dan sisihkan.
2. kocok telur dan gula hingga putih mengembang.
3. Tambahkan emulsifier.
4. Masukkan tepung terigu kedalam adonan.
5. Tambahkan kedalam adonan campuran margarine dan DCC, aduk rata.
6. Masukkan adonan kedalam loyang yang telah dialasi kertas roti.
7. Oven dengan suhu + 170oC, hingga matang.
8. Keluarkan dari loyang, dinginkan.


Chocolate Ganache

500 ml Fresh Cream (aku pake 400 ml slagroom dan 200 gr dark chocolate)
500 gr Dark Chocolate
75 gr Butter
cara membuat :
1. Tim slag room.
2. Masukan dark chocolate (iris kasar), butter aduk rata.
3. Dinginkan dan siap untuk dipergunakan.


Caramel syrup

100 gr Gula
50 ml air 1
100 ml air 2
cara membuat :
1. Panaskan gula dengan air 1 diatas api (masak sampai menjadi caramel)
2. tambahkan air 2 kedalam campuran caramel tersebut, masak dan aduk
sampai caramel mencair dan tercampur rata.
matikan api, dinginkan

cara penyajian :
1. siapkan cake, belah menjadi 2 bagian.
2. siram ke dua bagian cake tersebut dengan mempergunakan simple syrup.
3. siram dengan menggunakan caramel syrup.
4. olesi bagian tengah cake dengan menggunakan ganache dengan ketebalan kurang lebih 1 cm.
5. tutup dengan setengah bagian lagi.
6. hias bagian atas cake dengan mempergunakan ganache, buah dan chocolate modeling.

Monday, August 13, 2007

Barcelona: Sagrada Familia, Barceloneta dan Port Olympic, 5 Agustus 2007




Setelah dari parc Guell, kami mampir liat sagrada familia. Bangunan gereja ini detilnya memang luar biasa kompleks. Ga heran kalo dibuat sejak 1926- sekarang blum jadi-jadi. Arsiteknya aja dah ganti-ganti yang ngelanjutin Gaudi. Tapi sebetulnya karya ini adalah master piece nya Gaudi.

Lalu malam terakhir di Barcelona kami habiskan dengan menyusuri pantai Barceloneta hingga port Olympic. Ada boulevard palm yang cantik di dekat port olympic. Di port olympic juga ada hiasan ikan paus besar dan cafe-cafe mahal bertebaran. Stroll a long on the beach, on the last day in Barcelona...hmm...kenangan yang tak terlupakan deh. Apalagi kami waktu itu jalan sampe lewat tengah malam. Bete, cape, heppi ngumpul jadi satu. Perjalanan ini, lelah, cape dan suka ini, ternyata semuanya bermuara pada kesimpulan yang sama, dimanapun kita berada, di tempat seindah apapun kita berada, yang namanya kebahagiaan nyatanya memang ga jauh-jauh..di dalam hati lah tempatnya ia :-).

Good bye Barcelona...good bye Spain...till we meet again someday...(hopefully.. andalucia especially :-))

Barcelona: Parc Guell, Minggu, 5 Agustus 2007




Di taman ini bertebaran karya-karya unik Antonio Gaudi. Selain master piece nya 'Sagrada Familia', karya gaudi juga banyak dijumpai di Barcelona. Ada juga casa batlo dan casa la padreda (rumah kaya tengkorak) di pessaig de Gracia yang cuma sempat kami lewati. Berhubung di parc Guell ada beberapa patung binatang, yang mungkin children friendly juga, jadi lah kami mampir ke taman ini. Taman ini luas banget, minimal kudu setengah harian kalo mau ngubek-ngubek semuanya. Apalagi disini ada museum Gaudi juga yang kalo mau dikunjungi pun bakal makan waktu lagi. Tadinya kami ga niat masuk ke museum yang dulunya rumah Gaudi ini. Tapi Lala dan malik keukeuh pengen masuk, ya wis akhirnya masuk dah.

Parc Guell yang dibuat tahun 1900-1914 ini juga masuk dalam UNESCO world heritage site. Setelah melihat detil karya Gaudi baru deh paham kenapa karyanya begitu digandrungi orang. Ternyata Gaudi memang kreatif dan gayanya orisinil banget. Keramik patah-patah yang lalu disusun jadi mozaik yang indah, ini khas Gaudi banget kayanya. Trus bentuk meja, kursi, lemari yang dia buat untuk keluarga Batlo dan keluarga-keluarga kaya di masa itu juga memang unik banget. Sedangkan karya yang paling unik di Parc Guell adalah square luas yang pinggirnya berhias 'the serpentine bench', tempat untuk duduk-duduk panjang banget berhias keramik kelak-kelok. Ga umum orang memang si Gaudi ini, pantes aja :-)

Barcelona: tour the pasar, La Boqueria Mercat, Sabtu, 4 Agustus 2007




Tiap pergi ke suatu tempat, aku suka banget mampir ke pasarnya. Biasanya aku selalu selipin pergi ke pasar ini dalam itinerary yang kubuat. Perkara bisa tercapai apa engga ya urusan belakangan deh. Tujuan ke pasar ini samsek bukan belanja lho, ngapain pulak berat-beratin bawaan hehe. Sebetulnya sebagian besar isi pasar mirip sih sama di groningen, tapi pasti ada bedanya. Dan aku seneng cari yang beda-beda itu. Aku seneng liat buah, sayur, ikan atau makanan unik yang khas di tempat itu. Aku juga suka merhatiin cara mereka mengemas barang dagangannya, lucu-lucu dan kreatif banget biasanya. Bisa ditiru kale sama yang bakat dagang mah :-).

Kebetulan pasar La Boqueria di Barcelona ini terletak di tengah-tengah Las Ramblas. Kalau jalan dari arah column teruus ke catalunya, berarti sebelah kiri setelah metro Liceu. Aku dah nggak ngarep bisa ke pasar ini karena kami mulai jalan di Las Ramblas udah lewat jam 7 malem, sedangkan pasar ini bukanya sampe jam 8 malem, jadi mepet banget. Tapi alhamdulillah rejeki deh, biar kata sampe sana udah detik-detik menjelang tutup, aku masih kebagian liat pasar bagian depannya. Bagian tengah dan belakang udah pada tutup, pasar ikannya juga udah tutup. Suka banget liat buah sayur dan makanan dikemas menarik kaya begini, lucuu. Ada tukang telor yang tokonya dihias lucu juga. Ada paha daging babi digantung-gantung, ada buah nanas yang motongnya unik juga, ada berbagai manisan buah, ada home made cookies yang sekilo harganya 62 euro! Gile mahal bener, padahal dari penampakannya sih kayanya begitu-begitu doang. Dan ada dragon fruit yang rasanya belum pernah kuliat di pasar groningen. Ternyata pas dicicipin enak juga...

Barcelona: Las Ramblas, Magic fountain of Montjuic, Sabtu, 4 agustus 2007




Betaah bener jalan di Las Ramblas! Area ini emang asik banget, pedestrian street yang membentang mulai dari ujung Las Ramblas di 'column' (yang ada monumen colombus sampe Placa Catalunya, pusatnya Barcelona. Sepulang dari aquarium, kami bener-bener jalan 1,2 km menikmati pedestrian street ini. Sebenernya sih gara-gara males naik turun tangga kalo musti naik metro. Dan ternyata jalan di area ini bener-bener ga kerasa capek, tau-tau udah sampe di Placa catalunya.

Sayangnya anak-anak kecapekan dari aquarium dan tidur sepanjang jalan, padahal banyak bener still stand kesenengan mereka. Malah misi aik juga ada! Di buku jurnal vakansinya, Aik pede banget bilang mau cari still stand badut di Las Ramblas. Aku malah ga yakin ada, eeh ternyata beneran ada! Kalo Aik bangun, pasti deh aik akan bilang,"Mij misi has gevonden!"

Setelah sempet ke carefour dan corte el ingels (mall besar di Spain) cari perbekalan, lalu kami naik metro ke arah Plaza de Espana. Di plaza ini ada the magic fountain of montjuic. Berhubung ga setiap saat ada musik mengiringi air terjun warna-warninya, jadi kami nungguin jam 22.30. Katanya jam segitu baru ada iringan musiknya.

Sampe di montjuic jam 22.00 wuih Barcelona emang bener-bener kota turis, dimana-mana di tempat atraksi pasti turis tumplek blek. Herannya, di malam hari metro malah penuh sesak, umpel-umpelan kalo kata orang Jawa. Daerah tempat air mancur berada ini cantik banget, malah ada lift di area terbuka untuk bisa nyebrang jalan. Cantik dan romantis banget memang barcelona ini. Jam 22.30 dentuman musik mulai mengiringi air mancur warna-warni yang seperti menari mengikuti irama. Lala terpaku nonton dari awal sampe akhir di depan air mancur itu. Bagus memang pertunjukan air mancur dengan musik ini, cuma lebih spektakuler yang di Singapura, jauh deh. Kalo yang di Singapur kan bener-bener kaya dancing dan berasa bergambar juga karena pake laser.

Barcelona: L'Aquarium, Sabtu, 4 Agustus 2007




Ini dia yang ditunggu anak-anak, pergi ke aquarium! Katanya aquarium ini terbesar nomer dua se-Eropa. Tapi pas sampe sana, wah koq biasa aja ya, kayanya gedean seaworld di Jakarta deh. Ga yakin juga sih sebab lom pernah ke seaworld jakarta, ihiks kesian ya gw. Kebeneran banget kami tinggal dekat Aquarium, dan port vell, jadi tinggal jalan.

Keunikannya aquarium ini apa ya, hmm..bingung juga. Yang jelas ada tiger shark dan ada incredible creature. Creature ini kayanya makhluk langka di laut deh, seperti Nautilus, big belly seashore, crab jepang dan satu lagi lupa euy. Yang lucunya ada ikan yang pas kecilnya laki-laki tapi kalo udah besar jadi perempuan, daku lupa juga namanya. Yang jelas anak-anak tertarik banget sama ikan ini. Trus aku juga jadi tau gimana bedain hiu jantan dan betina. Ternyata gampang banget, penisnya si hiu keliatan jelas.

Tempat yang paling digandrungi anak-anak adalah explora tentu aja. Karena interaktif jadi anak-anak suka banget. Bisa masuk-masuk terowongan dan liat ikan pari, bisa liat gimana proses berudu jadi kodok. Bisa pencet-pencet tombol dan kedengeran suara kodok dan nyamuk, model-model gitu deh. Intinya di Aquarium ini ada 3 area utama yang bisa dijelajahi, yaitu oceanorium, planeta aqua dan explora. Kami dateng jam satu siang dan baru cabut menjelang jam 7 malem, anak-anak ga mau pulang! Hueboh lari kesana kemari, padahal ya gitu deh lebih gede seaworld kayanya.