Monday, April 26, 2010

Ketika Anak Kepergok nonton film 'Serem'

"Ma, sini Ma!" panggil suamiku. Aku yang masih ngos-ngosan setelah lompat-lompat ngikutin program sport di VCD, ogah-ogahan."Duuh ntar deh Yah, masih cape banget nih." Eh tapi tumben-tumbennya suamiku keukeuh."Ma, harus kesini, this is important!" Tegasnya. Waduuw, ga berani nolak deh kalo suamiku udah ngomong begitu. Meski nafas masih ga keruan, aku segera turun tangga.


"Look what your son just watched!" tegas suamiku lagi. Deg! Irama jantungku mulai berdegup tambah kenceng."What? Film porno? Oh No!..my 8 year old Son's, yang masih imut dan lucu dan menggemaskan itu?! Yang masih demen maen boneka binatang itu?!" Aku mulai panik.


Lalu suamiku menunjukkan sebuah berita di youtube. Yup, sebetulnya itu cuma berita, tapi berita dan gambar tentang 100 orang perempuan segala usia yang bertelanjang ria dalam rangka cari dana buat anak-anak autism. (*sigh* apa ga ada cara laen yang lebih elegant?"). Oke bukan film porno berarti cukup 'aman' dong. Yup, beritanya sih cukup 'aman' tapi gambar link-link lain disampingnya pegimane? Kan mengerikan, gimana kalau anakku penasaran trus klik-klik yang lain juga. Ok deh anggep aja ga ngeklik yang laen-laen, dan memang dia sama sekali ga sengaja nge klik berita orang bugil itu, tapi kesalahan terbesar yang telah ia lakukan dan membuatku tetep tegang adalah, si bungsu sudah berbohong!


Ya aku bisa maklum, sangat maklum kenapa dia ga berani berkata jujur. Tentu dia takut, ga ingin ketahuan dan ga ingin disalahkan dong karena telah melanggar kesepakatan yang kami buat bersama. Selama ini kami memang sudah membuat kesepakatan dengan segala alasannya bahwa kalau ada gambar orang ga pake baju atau porno ga usah diliat, langsung tutup aja. Dan ga seperti kakaknya yang taat aturan, si bungsu adalah tipikal anak yang demen arguing, agak-agak suka membangkang dan melanggar peraturan, meskipun di satu sisi dia adalah anak yang easy going, penyayang, cute, imut dan mau cerita apa aja ke orangtuanya.


Sewaktu ayahnya ga sengaja mergokin apa yang sedang dia lihat di youtube (potongan gambar orang bugil selama 2 detik), si bungsu langsung menutup link yang dia liat dan langsung membuka video lego. Suamiku tentu kaget dong, tapi lalu dia pura-pura ga tahu aja. "Aik udah dari tadi maen komputernya, udah dong gantian ayah. Ni kasihin pisang goreng buat Bunda ke atas ya Ik." Si bungsu ogah-ogahan masih ingin tetap di depan kompi, mungkin karena dia belum menghilangkan jejak apa yang barusan dilihatnya. "Ayah mau apa?" tanyanya. "Enggak ayah cuma mau liat gresnews.com aja koq. Ayo sana kasih ke bunda, aik kan udah lama nonton komputernya."


Segeralah si bungsu pergi ke atas, ngirim sepiring pisang goreng buatku. Tapi rupanya dia masih takut ketahuan, dia turun lagi ke bawah. Dia membuka pintu pelan-pelan dan mengintip apa yang sedang dilakukan ayahnya. Ayahnya sadar dong kalau ada seorang anak yang sedang takut ketahuan berbuat salah lalu mengintip untuk make sure bahwa everything is oke. Suamiku segera menoleh kebelakang dan tersenyum memandang si bungsu yang sedang mengintip dari balik pintu. "Ayah lagi apa?" tanya si bungsu lagi. "Enggak...ayah cuma liat gresnews.com aja koq nih liat nih." Si bungsu pun segera berlalu dan suamiku langsung memanggil aku.


"Sekarang, apa yang mau kita bilang ke dia?" tanya suamiku. Hmmhhh...aku menarik napas dalam-dalam. Suasana hatiku ga karuan, ya deg-degan takut kalo anakku udah ngeliat segala macem yang lain-lain, atau malah takut kalo ini bukan kali pertama dia melihat diam-diam, kecewa karena tahu dia sudah berkata ga jujur, dan agak-agak tegang memikirkan apa yang sebaiknya kulakukan dan kukatakan. Belum lagi kalo inget paparan temen-temen Belandanya di kelas, yang sepertinya agak menyeramkan, karena mereka sering bicara soal neuken atau vrijen (ML), meskipun mungkin pemahaman mereka belum terlalu jauh. Tapi meski begtu ada juga rasa syukurku karena suamiku pas kebeneran mergokin, alhamdulillah banget, coba kalo enggak, terus dia diem-dieman sering liat, dan ketagihan wuaduuh syerem banget kan.


"Ya, kita harus bilang sekarang, ga bisa didiemin," jawabku. "Tapi kan harus hati-hati Ma, jangan sampai dia jadi merasa dihakimi." Hmm...memang sih. Bingung juga. "Oke, biar aku yang ngomong," kataku yakin sambil dalam hati masih bingung, duh kudu gimana ngomongnya yak. "Aku inget dulu pas ikut pelatihan bicara seks pada anak, bu Elly Risman pernah bilang kasih liat mereka gambar-gambar penyakit akibat seks bebas, mungkin aku bisa mulai dari situ." Oke, bismillah...mau ga mau aku harus bilang bahwa apa yang dia lakukan salah, tapi disatu sisi juga memang membingungkan untuk membuat pertanyaan atau pernyataan yang tidak menghakimi. Tapi satu hal yang membuatku mantap untuk bicara sama si bungsu, aku lebih memilih aku yang bicara bukan ayahnya, karena hubunganku dengannya sangat dekat. Hampir setiap malam sebelum tidur kami pasti berpelukan dan saling cerita,'tadi hari ini ngapain aja.' Selain itu, sejak kecil aku sudah terbiasa mencicil topik-topik soal pendidikan seks disesuaikan dengan umur mereka, tugasku lebih ringanlah jadinya. Akhirnya, setelah kutarik napas dalam-dalam dan memohon pada Tuhan supaya lidahku dilancarkan, kupanggilah ia menemuiku.


"Ik, sini dong, pelukan yuuk bunda kangeen!" Kakaknya yang sadar bahwa sesuatu yang ga biasa telah terjadi langsung mau nimbrung."Aku mau denger, aku mau denger! katanya. "Mbak, sekarang giliran Aik dulu ya, nanti setelah aik baru mba lala oke."


Si bungsu pun datang, dengan wajah yang menurutku ga biasa, malu-malu ga jelas hehe. Aku tutup pintu kamar, dan kami pun berpelukan di bawah selimut. "Ik, cerita dong, tadi pagi Aik ngapain aja?" Ga seperti biasanya lagi, tubuhnya memunggungi aku dan mukanya dia tutup pake boneka palu barunya. Hmm...dari bahasa tubuhnya aja sebenernya nih anak udah nunjukin bahwa dia punya dosa hehe. Tapi aku tetep mikir gimana ngebawanya biar ga langsung menghakimi dia. "Gewoon Bun (biasa aja)," jawabnya.

"Aik tadi maen komputer kan, main game apa say, seru ga?"

"Aik maen handphonenya Bunda," wajahnya masih ga mau mandang wajahku.

"Aik liat kesini dong, kan ga enak kalo ngomong ga liat-liatan." Hmm oke deh, nih anak malah ga ngaku pulak kalau tadi maen komputer. Owkeh, cari akal laen dah.

"Mm..bunda mau cerita nih Ik, aik mau denger ga?"

"Mau." Kali ini wajah kami sudah berhadap-hadapan. Tapi kadang dia masih nutupin wajahnya dengan si boneka palu.

"Ik..Ik..kan dulu bunda dokter ya. Na waktu bunda kuliah, dulu bunda belajar tentang tubuh manusia. Bunda juga belajar segala macem penyakit. Penyakit di mata, di telinga, di mulut, di ketek."

"Haha penyakit di ketek apa Bun?" selanya.

"Di ketek itu kan ada kelenjer limph namanya Ik, bisa ada infeksi disana atau kanker juga bisa."

"Nah terus ada penyakit di paru-paru, lambung, penyakit di P* dan V* juga ada Ik, di kaki juga ada."

Si bungsu mulai gerak-gerak ga jelas.

"Aik dengerin bunda ga?"

"Iya aik denger."

"Oke, nah trus ya Ik, tau ga penyakit di P* dan V* itu kaya apa, hii serrem lo Ik." Wajah si bungsu mulai antusias.

"Ada nanahnya Ik, serem deh pokoknya."

"Nanah apa Bun?"

"Itu lho Ik, cairan putih-putih bau ada kumannya, itu kaya kalo ada roti atau nasi basi ada jamurnya, nah bentuknya kaya gitu terus keluar cairan, nanti bunda kasih liat deh gambarnya di internet ya." Aik mulai merhatiin baik-baik.


"Nah terus ya Ik, tau ga kenapa orang-orang bisa kena penyakit kelamin kaya gitu?" Aik menggeleng. "Itu tuh orang-orang yang suka vrijen sama siapa aja Ik. Nih kalo ayah bunda kan udah menikah, jadi ya vrijennya ga ganti-ganti, ayah ya sama bunda aja. Makanya di agama Islam, Allah bilang kita harus menikah dulu sebelulm vrijen. Kalo orang Belanda kan enggak, nanti kalo Aik udah puber, aik liat deh anak-anak Belanda misalnya verliefd (cinta) sama temennya terus mau vrijen, nanti bulan depannya lagi ganti sama yang lain, nah ini bikin penyakit Ik. Bisa kena penyakit gonorhoe, siphilis, malah bisa kena Aids Ik."


"Hiii..." komen Aik.


"Nah, Aik tau ga kenapa orang-orang itu suka kepengen vrijen terus. Karena mereka suka nonton film-film porno Ik, suka liatan orang-orang telanjang ga pake baju." O..O...mulai deh Aik jungkir balik ga jelas, makin nyungsep kedalem selimut maen-maenin boneka palunya.


"Ik..Ik..kalo Aik liat gambar perempuan ga pake baju rasanya gimana Ik? P* Aik berdiri ga?"


"Nee (ga)!" Jawab Aik segera.


"Ah masa sih Ik, dulu waktu aik umur 7 tahun aik pernah bilang bunda, kata Aik P* aik berdiri kalo liat yang seksi-seksi."


"Echt (bener) Bun? Aik pernah bilang gitu?" AIk nyengir malu-malu.


"Iya echt, kan bunda suka nulis diari tentang mba lala sama aik, ada tuh diarynya di komputernya bunda. Nah kalo misalnya nih Aik liat gambar-gambar di jalan kan banyak tuh perempuan yang cuma pake beha doang ato yang ga pake baju, P* aik berdiri ga?"


"Ya..ya Bun," Akhirnya...aik jawab sambil nyengir malu.


"Aik deg-degan ga Ik?"


"Nee!" Aku ga ngerti ini beneran apa enggak, justru aku pengen tahu anak umur segini reaksinya gimana sih kalo liat gambar kaya gitu.


"Oke, mungkin karena aik masih 8 tahun, nanti kalo aik udah puber, selain P* aik berdiri, aik juga deg-degan Ik."


Karena kulihat si bungsu udah mulai mau terbuka, langsung deh kupikir ini saat yang tepat buat nanya. Jadi mulailah aku bertanya soal yang paling berat.



"Nah Ik, Aik tau kan Allah suka sekali sama orang yang jujur. Bunda juga seneng sekali kalo Aik jujur. Bunda sama ayah ga akan marah ko kalo aik berbuat salah, tapi yang penting aik jujur."


"Okey! Itu cuma news Bun!" jawabnya tiba-tiba. Hwaaa alhamdulilah akhirnya dia ngaku.


"Tadi Aik nonton apa Ik? nonton orang ga pake baju kan?"


"Iya itu tapi news bun dan itu tangan!" Waduh tangan apaan rada ga mudeng nih aku.


"Haduuh bunda seneng banget aik jujur! Aik hebat!" Kupuji habis-habisan dia.


"Terus, pas aik nonton itu P* Aik berdiri ga?"


"Iya," katanya malu-malu.


"Waaah bunda seneng banget dengernya, berarti aik normal!"


Aik rada bengong denger emaknya malah kesenengan.


"Iya Ik, bunda seneng, berarrti aik normal, coba kalo engga, berarti aik homo dong."


"Oh dat is erg (Serius beneran), aik normal!" wajah aik kesenengan.


"Hehe iya Say, aik normal hebat itu, aik mau cerita berarti bunda tau aik normal, bunda seneng banget. Terus Aik nonton apa lagi Ik."


"Iya itu tangan, tapi itu cuma tangan Bun!" Tangan apaan sih dalam hati aku masih ga mudeng.


"Tangan itu apa Ik?"


"Itu kaya P*, terus dimasukin ke tangan yang lain yang kaya gambar hati gini." Waduh gubraks! Berarti dia nonton yang P* sama V* dimasukin dong mesti cuma pake tangan hiks hiks.


"Oke Ik, tapi lain kali pokoknya kalo ada yang gitu-gitu Aik ga usah liat, ya kalo Aik mau liat aik bilang sama ayah bunda, kita nonton bareng oke. Coba nanti kita tonton bareng yang aik liat, biar aik tahu apa yang terjadi sama tubuh aik kalo aik nonton yang kaya gitu."


"Oke.." jawab aik.


"Nah Ik, jadi ya sekarang kita bikin afgesproken ya Ik (kesepakatan). Bunda tau aik udah mau puber, aik pasti pengen tau kan, penasaran kan makanya aik liat, bunda sama ayah juga dulu gitu koq, sama. Tapinya, kalo aik ga bilang sama bunda atau ayah, nanti takutnya aik liat yang lain-lain yang serem-serem. Aik tau kan kenapa kita ga boleh liat yang porno-porno."


"Enggak," halaah cape deeh padahal udah sering banget diulang-ulang tapi nih anak suka jawab yang gampangnya doang.


"Oke Ik, gini ya, nanti kalo aik udah puber, kalo aik liat perempuan ga pake baju, terus aik deg-degan, P* aik berdiri, ditambah aik nanti seneng, terus pengen liat terus, terus pengen vrijen, padahal aik kan belum menikah, nanti aik verslaaf (addict). Kalo liat yang porn-porn itu bikin verslaaf Ik ngerusak otak. Makanya kalo aik penasaran pengen tau bilang sama ayah bunda, nanti kita nonton bareng. Nanti juga kalo aik udah mimpi basah, ayah pasti ajak Aik nonton film porn itu, soalnya aik pasti pengen tau kan, ato aik nanti diajak temen-temen aik, nah kalo sama temen aik bahaya ik, nanti malah liat yang lebih serem yang bikin aik tambah verslaaf."


"Mimpi basah itu ngompol Bun."


"Bukan sayang, mimpi basah itu kalo aik mimpi ketemu sama perempuan yang ga pake baju, terus P* aik berdiri, terus keluar sperma dari P* aik." Phfuih..vulgar banget gw yak, kataku dalam hati. Tapi udah kepalang basah deh, soalnya nih anak temen-temen Belandanya juga vulgar mending aku kasih gambaran aja duluan lebih detil."


"Itu kalo aik 10 tahun Bun?"


"Ya beda-beda Ik, ada yang 11, ada yang 12 tahun, nanti pasti ayah kasih tau aik. Yuk sekarang kita liat gambar gimana orang yang sakit kelamin yuk."


Lalu aku pangku si bungsuku itu, kami nonton gambar-gambar orang berpenyakit gonore, siphilis dan aids bareng-bareng. Nah sekarang kita liat yuk yang tadi aik liat, biar aik tau apa yang terjadi sama tubuh aik pas aik nonton.


Aku pun nonton bareng si berita itu sambil megangin dadanya Aik. Ketika giliran perempuan-perempuan pada buka baju, aku ngerasa, detak jantung aik berdegup lebih kencang.


"Tuh kan ik, aik jadi deg-degan."


"Oh ya, echt," jwabnya nyengir.


"P* aik berdiri ga?"


"Nah berdiri juga kan," kataku sambil nyenggol P nya hehe. Aik tambah nyengir.


Setelah selesai, aku ulangi sekali lagi kesepakatan yang kami buat bahwa kalau aik penasaran, pengen tau sesuatu, aik harus bilang sama ayah bunda biar kita nonton bareng.


"Oke," katanya terus ngeloyor pergi.


Huwaaah legaaaa! Lalu berceritalah aku ke suamiku. Ga lama aik nongol. Aku puji-puji lagi dia habis-habisan. "Ayah, aik hebat lo yah, aik mau jujur, terus aik juga mau cerita soal P* aik yang berdiri, kita juga bikin kesepakatan kalo aik pengen tau, aik harus bilang dan nanti aik dan ayah bakal nonton bareng. Dan aik ternyata normal Yah."


"Horeee! Aik normal!Aik ga homo! " kami bertiga berpelukan, celebrating kenormalan aik hihi. Tau-tau aik bilang gini," Bunda, aik boleh dapet hadiah karena aik udah gitu tadi?" Oalaah tauuu aja deh niy anak cara buat dapetin hadiah hehe.


"Oke, aik boleh dapet stiker," kata ayahnya. Akhirnya aik dan ayahnya nempel satu stiker. Karena emang kami lagi bikin program stiker berbuat baik, Kalo bisa ngumpulin 7 stiker dapet 1 euro buat ditabung beli lego atau apapun maunya mereka. Untung dapet stiker pun aik udah seneng.


Hmmh..tarik napas dulu. Karena tugas satunya menanti, si anak gadis belum diceritain euy! Lalu gantianlah, aku panggil anak gadisku. Terus aku peluk dan ceritain soal adeknya yang ga sengaja liat gambar serem. Setelah selesai, aku tentu tambahin dong karena laki dan perempuan beda.


"Jadi mba, bunda ceritain ke mba Lala, supaya mba Lala tau apa yang terjadi sama tubuh kita kalo kita liat gambar-gambar orang telanjang atau yang porno. Terus mba lala kan bentar lagi dapet pendidikan seks di sekolah. Orang Belanda sama kita kan laen. Kita harus menikah dulu, kalo mereka enggak. Makanya kata temen bunda anak perempuan Belanda, kalo udah mens sama mamanya suka di kasih pil KB atau kondom. Mba lala tau kan itu apa?"


"Nee.." Hmm aku bingung nih nih anak tau beneran apa sebenernya ga tau.


"Pokoknya anak belanda itu boleh vrijen sama siapa aja kalo mereka udah mens, kita ga gitu mba. nanti kalo hamill, anaknya jadi ga jelas, ga sholeh karena bapaknya juga ga jelas. Mba lala tau kan vrijen itu apa?" Karena aku udah panjang lebar sama si bungsu ngomongi ini jadi aku udah cukup rileks ngomong sama si sulung. Dan untungnya si sulung kali ini cukup terbuka ga tertutup kaya biasanya.


"Itu kalo ada laki-laki sama perempuan ga pake baju, terus peluk-pelukan cium-cium gitu," Jawab si sulung sambil nyengir malu.


Waah! Akhirnya aku tau pemahaman dia. Siip! ya udah lah karena udah tau sampe jauh gitu, sekalian aja aku kasih tau yang lebih dalem, soalnya daripada dia tau lebih parah dari sekolahnya beberapa bulan lagi, aku bekelin aja dulu dari sekarang.


"Iya mba gitu, terus mba lala tau nggak gimana bisa jadi anak?"


"Nee."


"Si P* nya laki-lalki yang berdiri itu mba nanti dimasukin ke V* nya perempuan terus dari P* nya keluar sperma, dari V nya keluar sel telur, nanti ketemu, jadi deh anak."


"Hiiiii dat is fiiiss! (itu jijay!)" jawab lala sambil memperlihatkan wajah jijay.


"Hehe iya itu jijay buat anak sepuluh taun mba, tapi nanti kalo mba lala udah nikah engga. Jadi harus nikah dulu baru boleh vrijen. Dan mbak lala juga sama kaya aik kalo penasaran, bilang nanti kita tonton sama-sama okeh."


"nee Ik wil niet (ga aku ga mau nonton)"


"Oke bagus kalo mba lala ga mau ya ga usah, kalo perempuan memang biasanya ga deg-degan mba, kecuali kalo nonton film cinta yang pelukan ciuman gitu. Bunda juga dulu gitu, suka kalo nonton film-film cinta terus bunda jadi deg-degan. Mba lala juga gitu ga?"


"Ja, enbetje (ja dikit)" Yes! Akhirnya mau ngaku juga anak gadisku siiip.


"nah nanti kalo mba lala udah mens, udah beneran puber, tambah seneng mba nonton yang gitu. Ada deg-degan, ada mules di perut, ada rasa seneng, ada keluar cairan dari V, pokoknya macem-macem. Tapi ya udah ga boleh diterusin ke nonton yang lebih jorok, kan bahaya karena belum nikah. Kalo hamil gimana. Makanya mba lala harus jaga tubuh mba lala, hati-hati. Laki-laki suka sama dadanya wanita, harus ditutup dan juga auratnya harus dijaga. Kalo anak belanda karena mereka ga ada aturan di agamanya, makanya anak perempuan kecil-kecil udah minum pil dan dikasih kondom. Kondom itu buat cegah hamil mba, bentuknya kaya P nanti dimasukin ke P yang berdiri supaya sperma yang keluar ga ketemu sama ovum."


Hiiiiii....Lala tambah nyengir.


"Oke ngerti ya mba sekarang, jadi mba lala kalo dengerin pendidikan seks dari sekolah udah tau, terus cerita ke bunda, karena kan beda antara orang Islam sama orang belanda."


Phfuiih..selesai..legaaaa!
Pokoknya terus kita sama-sama lega. Rasanya aku seperti orang baru melahirkan, udah berhasil ngasih elmu yang paling tabu buat disampein ke anak gadisnya. Mungkin ada yang bilang mestinya ga perlu sejauh itu kali ya. Tapi ya piye, anakku taunya udah banyak jeh, malah sebentar lagi mau dapet pendidikan seks dari sekolah yang menurut temenku, caranya tuh bakal diliatan boneka asli orang ML, wadaw!. Soo....legaaa bagent rasanya udah berhasil ngeluarin kata-kata palilng berat soal si P ketemu V itu, phfhuih....berasa udah mau mantu dah xixixi.


Lucunya, pas aku lagi ngetik. Aik liat. Terus dia protes berat. "bunda ga boleh ceritain yang tadi di fesbuk."

"Tapi cerita aik bagus banget lo Ik, bisa jadi inspirasi buat yang lain. Aik jadi pahlawan, karena orangtua lain jadi dapat ide gimana cara bilang ke anaknya soal yang susah kaya gini."


"Neee!" Aik keukeuh ga mau malah sampe nangis.

"Oke deh oke, engga ko Ik ini cuma buat diari bunda." Aku sempet berpikir bener-bener ga akan posting tulisan ini dan cuma akan tarok di diariku karena aku tentu harus menghargai privacy Aik. Tapi aku juga mikir, wah sayang sebenernya, pasti kejadian kaya gini kerap dialami orangtua lain dan menarik untuk dibagi kisahnya. Ya sudahlah gimana nanti aja pikirku.


Nah ternyata, emang Allah udah atur kali ya, pas sambil ngetik aku kan sambil makan coklat almond kesukaanku. AIk kepengen. Aku kasih lah 2 biji. Eh ga lama, doi balik lagi,"Lagi bun, enak!"

Oke aku kasih 3 biji, terakhir ya, pesenku. Pokoknya si emak pelit mode on kalo soal coklat kesukaannya ini xixixi. "Eh rupanya ketagihan dia, masih balik minta lagi. Tuing-tuing langsung dong aku mikir. "Ik sebetulnya aik echt bagus lo pengalamannya, kalo bunda ceritain ke orang lain, aik menolong banyak anak lain. Boleh ga ceritanya bunda taro di fesbuk, nanti aik boleh ambil semua coklat bunda." Mulanya aik diem aja, tapi terus ga lama dia jawab..."Okeee!" Setelah semua coklat ada ditangan, dia pun mamerin ke kakaknya. "Yippiiii! Lala! Ik krijg de hele chocola van Bunda (Hore, Lala, aku dapet semua coklat punya bunda)!


Bwhaahaha ternyata si bungsu beneran masih anak-anak, masih polos bener, buktinya ceritanya masih boleh dituker sama coklat, cihuuuuy! hehehe





Sunday, March 21, 2010

Getting Old

Getting older isn’t nice, is it? I’m always happy if someone said that I’m still like a teenager or a student. My heart always flies if my new friends were surprised and said “ What? Do you already have two big children? Are you kidding? You look so young!” I smiled gleefully when I walked with my children, met with other people and they said,”Are they your nephew and niece?” Or even worse they would said,”Are they your brother and sister?” What? My children? Brother and sister? Oh come on, I’m not that young, they are my children, indeed! Even though I was a bit insulted but there was a pleasant feeling crept, deep in my heart.

But, if I looked at the mirror, saw a white-hair in my head, my heart would trembling. If I touched and noticed a large lump under my belly skin, my heart would screaming. If I realized that the age of forty is crawling to me in the upcoming years, I was scared. All of those fact saying that being young always makes me glad, but being old is a nightmare. I wish I could live forever young. I wish I could drink every pills that could prevent my aging time.

Sometimes, when I woke up and realized that I’m getting older, I sat still and pondered,”Where am I now? What I have been doing in my life? I just feel like I was still studying and enjoying my youth, but that was 15 years ago. And it seems that I just married and was cuddling my first baby, but that was 10 years ago. Hmm, the next 10 years my children should be in the university and the next 15 years perhaps I will have a grandchild. Oh God, how fast time flies! Then, my heart pounded and my stomach lurched. I sank in an anxiety feeling, the fear of being old.

Terrible, isn’t it? But, that is women. Ups, oke, not all of women of course. At least, that is me, a woman who suddenly have those feeling on her birthday. Luckily, I’m surrounded by love so I can get out from my worry. My husband always ‘wake’ me up and my children always cheer me up. When my daughter made a wish for me, she said,”Ya Allah, I hope my mom will still alive after her thirty six years old.” And my son continued,” Ya Allah, I hope my mom can still kind and beautiful always.Amin.” I smiled and giggled, what a beautiful wishes. I couldn’t imagine it came out from the lips of my two babies who look so mature now. Then, they made a small party for me. Each of us threw a balloon up with our left hand and the other hand tried to fall down others balloons. We jumped, ran, screamed and laughed! I laughed and felt so grateful. “Hmm, being old with all of what I have is not bad, actually,” I murmured.

A while later, when my children had slept, I lied in my bed and remembered what was happened a day before at 12 o’clock in the night. Here came besides me, a man whom I shared all of my live in the last 12 years. “Happy birthday Honey, I wish your dream come true. I don’t know why, but with our happiness and sorrow that we have been going through, with your struggling to live with me here that I know is so hard, day by day, I love you more and more. I wish we will always be together, forever.” My heart was melting. My tears was hovering in my eyes. We hugged to each other so fast as if we will never be apart. Then, we talked about our past time that we have been going through together. We smiled at our sweet memories; tears of our sorrow, difficulties when nurturing our kids, our traveling, our spiritual journey and our age that getting older, and then I said, ”You are the best birthday present in my live, I’m so grateful to have you. I never regret spending my last 12 years with you, even though there are a lot of bitterness, but there are always sweetness in the end.”

That night was so sweet as a happy ending story in an Indian movie. But our conversation then make me realize that being old together with him, raising my children together with him, watching our children growing together, and reaching our dream together is a bless. How if I should live alone and getting older without someone besides me? Having a family is a gift because not everybody can build a family. I should thankful with what I have. So why should I worry about getting older then? Yes of course, because I’m not a holly man that have no worried about the future. But, well at least, I realize more now that my family is my germ. I shouldn’t worry about being old, I should worry if I’m getting old but I can’t be a good spouse for my husband and a lovely mom for my children. As Plato said,” The spiritual eyesight improves as the physical eyesight declines,” getting older means that I should be a better person inside even though I loose my beauty outside.

So now, am I happy if my belly getting bigger and there is no more people say that I’m look young? Uhm..I’m afraid…I’m not that good. Again, I’m not a holly man who doesn’t care about more wrinkle and the tummy fat. But, well at least, now I can say that getting older is a fact but looking older and getting rotten inside is a choice. And I choose not to look older nor get rotten inside. I hope, I’ll try…

Monday, March 15, 2010

Lala dan Malik bicara ‘vrijen’ (hubungan suami istri)

Kapan hari sepulang sekolah, Malik, 8 tahun, tiba-tiba nggremeng sendiri sambil nyanyi-nyanyi, ngomong gini,”Ik heb seks met Liane, Ik heb seks met Liane.” What?! Langsung dong telinga ku berdiri dengernya. Waduh, anak gw mulai ngomong-ngomong soal ginian, pasti dari temen-temennya nih, mulai panik dong diriku, kuatir temen-temennya udah meracuni dia yang enggak-enggak. Aku yang ada di lantai dua sampe turun tangga dan mencoba mendengarkan lagi baik-baik takut aku salah denger. Tapi enggak tuh, Malik bener-bener ngomong gitu, dan aku tahu banget, Liane itu satu-satunya temen perempuan sekelas Aik yang dianggap temen sama Aik. Temen perempuan lainnya kata Aik bukan temen, bener-bener cuma Liane seorang. Jadi menurut Aik, temen Aik itu adalah temen laki-laki yang deket sama Aik (ada 10 orang) plus Liane, padahal ada 30 orang anak di kelas Aik.

Hmm…aku langsung tuing-tuing lah, suara sirene gawat darurat mulai meraung-raung di telingaku, wah ini ga bisa didiemin aja nih. Aku lalu turun pura-pura ke dapur terus nyamperin Aik dan Lala (10 tahun) yang lagi baca di ruang tamu.

“Ik, tadi dari atas Bunda denger Aik ngomong tentang Liane, Aik bilang apa Ik?”

Iets, (ngomong dikit),” jawab Aik singkat, sambil matanya tetep ngeliat lego di depannya.

“Ngomong apa tuh Ik?”

Niks (nothing),” Aik  tetep cool maenin legonya di meja.

“Oh Bunda tau, aik tadi bilang ‘Ik heb seks met Liane kan.”

Aik nyengir malu. “Itu Alex yang bilang Bun, Aik cuma ikutin temen Aik.”

“Mm..seks itu apa sih ik?”

“Ga tauu.” Aik jawab cool  sambil tetep maenin legonya.

Ik heb seks met liane itu artinya aik menikah sama Liane, aik samen slapen (tidur bareng)  sama Liane.”

Wat?!Owh..” Aik nyengir kuda sambil kaget dan rada malu. Rupanya AIk bener-bener sekedar ikut-ikutan.

Lalu aku cerita ke suamiku  malemnya, tapi kata suamiku,”Ga mungkin deh dia taunya cuma dikit, pasti dia tau lebih banyak dari temen-temennya itu, anak Belanda gitu lho.” Akhirnya aku sepakat sama suamiku bahwa sudah saatnya kami harus diskusi lebih jauh soal ini sama anak-anak, pelan-pelan, karena sadar umur mereka sudah beranjak besar dan kami mau mereka tahu soal itu bukan dari temen-temennya, takutnya malah ngawur. Kami pengen orangtuanya dulu deh yang jelasin, dengan catatan ya harus dengan yang ringan dan lucu dong, biar anak-anak ga ragu dan malu ngomong soal gituan sama orangtuanya.

Malamnya, kebetulan kami lagi liat majalah anak-anak bareng, ada cerita tentang valentin, anak ABG lagi jatuh cinta dan ciuman. Mulai deh suamiku mancing-mancing  Aik sambil ngajak maen-maen.

Ik heb seks met Aik, Ik heb seks met Aik,” kata suamiku sambil belagak joget-joget dan nyengir.

“Ayah! Itu ga boleh! Ga boleh toh Bunda?” sengit Aik.

“Iya itu namanya homo dong. Seks itu harus menikah dulu kan, sebelum samen slapen.”

“Aik juga samen slapen sama ayah, sama bunda.”  jawab Aik polos tersenyum manis sambil meluk ayahnya.

Hwalaah hihihi, si Emak mulai bingung dah, jawabnya pegimane ye.

“Hehe, maksudnya samen slapen yang sampe bisa bikin anak gitu Ik.”

Si Emak ketar-ketir, kuatir anak lakinya ini tanya lebih jauh lagi. Eh tapinya terus Aik diem aja, ga nanya lebih lanjut dan ga tertarik. Sip, berarti bahasan soal ini bisa berhenti dulu deh.

Hari berlanjut, sejak itu ga ada lagi pembahasan yang bikin ketar ketir itu, sampe tadi setelah makan malem. Tadi itu, suamiku masih nemenin aku di dapur dan Lala nemenin juga di meja makan sambil baca buku (Duh, perasaan kalo nulis soal Lala, pasti lagi baca buku mulu hehe), sementara Aik, lagi asyik maenin bola.

Nah ceritanya, aku tuh lagi ngajak suamiku ngerumpi, biasa deh emak-emak, urusan ngerumpi susah bener insapnya, ampyuun! Kalo suamiku nolak dengerin, terus ngingetin ga boleh ngomongin orang, eeh aku malah bete.”Hii ayah, kan cuma diomongin ke ayah doang, diambil hikmahnya dong Yah, masa ga boleh. “ Akhirnya si Ayah yang ga doyan ngerumpi terpaksa nurut daripada dibetein bininya xixixi. Dulu-dulu sih acara ngrumpi-ngrumpi di depan anak-anak tuh selalu tenang dan damai, mereka ga pernah pengen tau. Tapi setelah keduanya beranjak besar, mereka pengen tauuu aja, wuaduh, tanda-tanda si Emak kudu insap ngerumpi kali yee hehe.

Jadi pas aku lagi seru-serunya cerita ke suamiku, anak-anak ribut nanya,”Apa Bun, apa?” Siapa Bun, siapa?” Hoalaaah, gawaaat! Terpaksa deh si Emak nyeritain dengan versi lain yang kudu ada moral of the storynya dong biar  si Emak tetap tampil baik, bukan tukang ngerumpi gitu loh, judulnya si Emak ga tau malu xixixi!

“Itu lho Nak, ada temen Bunda, yang vrijen, padahal belum menikah.” Aku ngomong vrijen dengan enteng aja ke Lala, karena Lala suka baca buku dan waktu itu aku tanya vrijen dia bilang dia udah tau, meski aku ga tau sejauh apa dia tau.

“ Pokoknya ya, nanti mba Lala kan perempuan nih, udah mau puber, kalau mba Lala verliefd (jatuh cinta) ya nggak boleh pegang-pegang, cium-cium apalagi samen slapen sebelum nikah. Ada lho yang masih SMP atau SMA belum nikah, vrijen, terus hamil, gimana coba anaknya kan kasian, terus sekolahnya juga jadi ga bener. Aik juga nanti kalo udah besar, laki-lagi ga boleh bikin hamil sebelum nikah. Oke?”

Lala yang aku tahu lebih tertutup dan ga se-open Malik dalam ngomongin apapun, cuma ngangguk. Aik terus pergi maen di ruang tamu yang ga jauh dari dapur. Hmm..syukurlah Aik ga tanya lebih jauh, artinya kupikir dia memang taunya belum dalem-dalem amat dan ga terekspos yang buruk-buruk amat dari temen-temennya.

“Mba..mba…,” Aku lanjutin topik ke Lala, ga mau nyia-nyiain golden moment ceritanya. “Mba Lala kan sebentar lagi grup 8 (kelas 6 SD) dapet pelajaran seks dari sekolah kan. Nanti mba Lala cerita sama Bunda ya, mba lala diterangin apa aja di sekolah, biar Bunda bisa kasih tau mana yang kita ga boleh. Soalnya kita beda sama orang Belanda La. Orang Belanda boleh-boleh aja vrijen belum menikah, kalo kita kan ga boleh.”

“Oke Bun.” Lala cuma jawab gitu doang, terus balik lagi melototin bukunya.

“Ntar..ntar…by the way..Vrijen itu apa sih La? Emang mba Lala tau?“ Hehe Bunda nyengir rada ketar-ketir sambil berharap mba lala mau terbuka.

“Iya tau.” Lala nyengir malu-malu.

“Apa sih, Bunda pengen tau?”

“Ya itu Bun, aku ga bisa jelasin,” kata Lala. Waduh nih anak bikin si Bunda meraba-raba kebingungan.

Vrijen itu neuken,” Aik yang lagi maen di ruang tamu tiba-tiba nyaut.

“Hahaha neuken in de keuken (di dapur),” kata ayah. Duh si ayah saruu!

Aku kedip-kedip dong sama suamiku, wah ternyata bener, Aik tau lebih banyak!

“Apa itu Mba?”

“Ya itu yang dibilang Aik hehehe.” Lala nyengir lagi.

“Apa itu Ik?”

“Ya itu Bun.”

Halaah susah amat ngoreknya. “Itu apa sih Ik bunda ga ngerti nih, bahasa Indonesianya gimana, coba coba kasih tau Bunda.”

Vrijen itu kalo pegang-pegang aurat,” sahut Aik lagi.

Hwaaa Aik beneran tau lebih! Aku tambah kedip-kedip lagi sama suamiku.

“Wah iya Ik, Aik betul!” kataku. Terus Aik nyamperin kami ke meja makan mau ambil sesuatu. Eh tiba-tiba, Aik menggerak-gerakkan badannya  kaya orang nari, sambil telapak tangannya megang-megang perut, dada dan  bagian tubuh yang lainnya, terus dia meliuk-liukkan pinggangnya. Sambil nari-nari bergaya penari stiptis gitu, Aik cengar-cengir berulang-ulang ngomong gini.”Ik vrijen met mijn self, Ik vrijen met mijn self.”

Bwhahahaha kontan kami semua ngakak ngeliat gayanya Aik plus omongannya yang kaya gitu hihihi. Karena vrijen = pegang-pegang aurat, berarti vrijen met mijn self itu = vrijen megang-megang aurat sendiri hahaha! Duh gimana gw ga ngakak coba xixixi.

Tapi meski sambil keketawaan gitu, lumayanlah aku jadi tahu sejauh mana pemahaman anak-anakkku soal vrijen ini dan anak-anak mudah-mudahan tetep mau ngomong soal ginian tanpa sungkan, terutama buat anak gadisku yang karakternya tertutup itu. Yang jelas, peer selanjutnya masih menunggu dan masih banyak pastinya, Welcome to the jungle of puber time deh Mak!

Wednesday, March 3, 2010

My second book: 'Family Traveler'

Finally, my second book, selengkapnya di : 'Family Traveler'

“Sesungguhnya, buku ini kutuliskan sebagai salah satu bentuk syukurku pada Allah, pemilik ragaku. Dia, dengan segala kuasaNya, telah memberi aku kesempatan menjelajahi negeri-negeri orang, yang sebelumnya tak pernah terbayangkan. Menuliskannya, bagiku sama seperti membuat peer (pekerjaan rumah) dari Tuhan.”

Demikian penggalan dari pengantar penulis yang kubuat dalam buku ‘Family Traveller’. Sudah lama memang aku ingin menuliskan kisah perjalananku selama traveling di beberapa negara di Eropa dan ketika gayung bersambut, aku selesai menulisnya, aku sungguh lega. Ternyata tak butuh waktu lama, empat bulan setelah naskah kuserahkan pada penerbit, bukunya sudah selesai cetak. “InsyaAllah Jumat ini (5 Maret 2010) udah ada di semua toko buku besar, seperti Gramedia, Gunung agung, TM Bookstore,” kata penerbit. Waah senangnya!

Selasa, tanggal 23 February lalu, tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba aku diwawancara radio Ranesi Belanda, dan akhirnya aku lebih banyak ditanya soal buku ini. Salah satu pertanyaannya menarik,”Apa hubungannya dan apa manfaatnya pengalaman jalan-jalan di Eropa untuk masyarakat Indonesia?” Aku sempat merenung sejenak mengingat apa yang telah kualami dan kutulis. Tapi akhirnya, aku dengan yakin menjawab bahwa buku ini sangat berkaitan dengan masyarakat Indonesia, karena aku menuliskan hikmah dari perjalananku, tips-tips bagi yang mau traveling murah di Eropa, kritik-kritik sosial berkaitan dengan Indonesia, tips agar bisa berlibur dengan fun bersama anak-anak, juga menyimpulkan bahwa kalau yang dicari kebahagiaan, sesungguhnya liburan bersama anak itu tidak harus jauh dari rumah dan mahal. Kalau bisa ya Alhamdulillah tapi kalau enggak….gimana?

Penasaran kan? So, tunggu apa lagi, segera hunting dan selamat membaca bukunya yaa!

Tuesday, February 23, 2010

"Why Do I Write?"

“Why do I write? Why do I write? Why do I write?,” Just like a bee buzzing around flowers, this question come up to my mind ever and ever again, wherever I am. Yes, Why do I write? Isn’t it odd? I have been writing for several years, but I never ask this question, this fundamental question. This question keep bothering me since somebody suggested me to ask my self about it.
 
Then, in a lovely evening, when my children was playing around me and my husband was working in his ‘laboratory’, I took a deep breath, lied in my bed, pondered to answer this question deeply. I tried to look for the answer, but my mind just kept silent and my heart didn’t give any signal even one clue. I waited and waited, hoping the answer would pop up in my mind, but useless. I felt bad and tired. Oh God, why is it so difficult to answer the question?
 
“Why do you think I write?” I asked my husband suddenly. “Hmm..good question,” He said. His warm eyes stared at me for a second and then he continued,” Who else will write about medical problems if not you.  How many doctors who write compare to million doctors in Indonesia? How many books are written by doctors? Our country still needs a lot of books, even though there are some similar books, more books, hundred books, thousand books are still needed. You have a talent, a chance, you have to be the one who write, like or dislike. That is your destiny!”

What? Destiny? I woke up and looked at him. “How dare you said about destiny. I never have a dream to be a writer, I want to be a doctor! You know how hard to write a book and sometimes I even want to cry and scream as hard as I can when I stuck, didn’t know what I had to write. I’m struggling with my self, collecting spirit to continue writing my unfinished book. That’s why I need several years to write it, several years Honey! You know it” I got upset.

“Of course I know, but that is your destiny, believe me,” my husband murmured.

Oh Nooooo! Please don’t! I don’t want to be a writer! Sometimes,  my heart screamed and made an affirmation that I don’t like writing and don’t want to be a writer. There was a time when I falled in love with writing and there was also a time when I hated writing. But, maybe my husband is right, I don’t know. The more I run, the more ‘universe conspire’ to make writing become closer to me.
 
When I falled in love with writing, I was very happy knowing that writing can make us healthier, younger and reduce wrinkle, according to Fatima Mernissi, a famous woman writer. I was also glad when Dr Pennebaker, a researcher, said that writing can reduce stress, solve problems, clear our mind and increase our knowledge. But, when I hated writing, I didn’t want to write at all for months, for years. I didn’t touch my diary, I even felt pain in my heart when I heard about writing. It was weird, indeed. But, I really have experienced a feeling as I was fly in the sky but then falled down to the deepest part of the earth.

So, when ‘universe conspire’ to make writing become closer to me, I feel like stand up in the middle of a tiny bridge that has no handle. If I don’t go away through the bridge, I will fall down to the left or to the right of the river. I’m in the middle of nowhere, looking for a light that can make me go through the bridge. That’s why  it was so difficult for me to answer question,’why do I write.’
 
Several weeks ago, I read someone's article about his dream to be a writer. He had read tremendous books, wrote several articles and hoping  a publisher could publish his works. He really wanted to be a writer but he hadn’t got a chance yet. Reading his dream touched me a lot that time. His writing gave me a strong message,”Look, somebody out there really wants to be a writer and look at you now, you even didn’t do anything to achieve it, universe has opened the chance for you, just like that.” Oh, I feel so ungrateful. I do apologize to God because of my thankless.
 
Now, after reading several resources looking for the answer, I understand that writing is not about destiny (even though somewhat true), writing is about a choice! There is no doubt anymore about the advantages of writing, either for ourselves or the reader. But, whoever you are, you can be a writer, you don't have to be talented, you can choose to be a writer with your own reason.Become a writer doesn’t mean you have to publish books or articles in the newspaper. If we can publish our books and become famous that is just the side effect. But actually, writing is about a choice and spiritual activities for ourselves.

Thinking a lot about that recently make me realize that for me now, writing is not only a way to express my feeling, to speak, to spread my idea, to increase my knowledge, to keep my brain healthy, to keep me younger than my age, but also to appreciate my live, to live twice, to enjoy my live in detail, to know my selves deeply and to to be grateful with my wonderful life. So, when you ask me now ‘why do I write’? I can answer it surely that I write because it is my choice to be grateful to have a wonderful life!
 

Sunday, February 21, 2010

Listen a lot, Memanusiakan Anak dan Bermimpi

Ketika aku membaca tips penting bagi penulis menurut Natalie Goldberg dalam bukunya ‘ Writing Down the Bones’, hatiku langsung tergerak untuk mencatat dan merekamnya baik-baik. “Read a lot, listen a lot, and write a lot,” demikian tips penting tersebut. Dan yang tidak bisa diabaikan adalah ‘listen a lot,’ with all of  your body. Sering kita ngobrol ngalor ngidul dengan siapapun atau jalan-jalan ke suatu tempat, tapi kalau kita tak berusaha mendengar dengan seluruh indra kita, banyak hal yang kemudian terabaikan dan terlupa.

Sejak ingat tips itu, aku lalu merenung-renung, apakah aku selama ini sudah melakukannya? Kadang ya kadang tidak, aku sadar, aku harus lebih mengasahnya lagi. Namun soal ‘listen a lot’, aku rasa, sejak aku mulai tertarik dengan dunia tulis menulis, tanpa sadar, ketika ada hal-hal menarik untuk dicatat, otakku sudah langsung ingin merekamnya baik-baik. Kalau aku beruntung, aku akan mencatatnya dalam diariku lalu hal menarik itu akan menjadi sebuah tulisan, namun kalau tidak tercatat, kejadian menarik itu lalu hanya tinggal kenangan. Kalau kejadian itu sungguh menarik, kadang meski aku malas mencatat, ada dorongan yang menarik-narik aku untuk menulisnya. Meski waktu terus berjalan ditelan kesibukan, tapi beberapa bulan kemudian dorongan itu tiba-tiba muncul lagi. Aku kemudian sangat ingin menuliskannya, merecall semua memory tentangnya dan akhirnya jadilah sebuah tulisan. Aneh memang, tapi itulah yang terjadi barangkali, ketika kita sudah meniatkan dan ‘mengajak’ tubuh kita untuk ‘listen a lot’.

Kemarin, saat di perjalanan pulang dari Zootermer ke Diemen, kawan baikku yang seorang perawat dengan senang hati mengantarkan aku pulang. Sepanjang jalan kami ngobrol banyak hal. Aku lalu bertanya di mana dia bekerja.”Aku kerja di RS St. Lucas, di bagian anak,” Jawabnya. Tiba-tiba saja barisan kata-kata Natalie Goldberg soal ‘listen a lot’ langsung muncul di kepalaku. Seperti seorang bos menyuruh sekretarisnya untuk mencatat, otakku seperti berkata padaku,”Ayo, dengarkan dan catat baik-baik!” Dan inilah hasil ‘Listen a lot’ ku kemarin dengan kawan perawatku itu.

Sejak punya anak, aku sangat concern pada dunia anak-anak. Herannya, kehidupanku di Belanda pun membuat aku bertemu dengan beberapa wanita hebat yang urusannya tak jauh dari seputar anak. Mereka telah menginspirasi aku, mengobarkan semangatku sehingga mimpi-mimpiku yang semula sudah kukubur dalam-dalam kembali bangkit. Karena itu lah pendengaranku menjadi lebih sensitif ketika seseorang menyebut tentang permasalahan seputar anak. Mungkin itu pula sebabnya, saat temanku itu bilang bahwa ia bekerja di bagian anak, aku jadi langsung alert.

Alhamdulillah, anak-anakku belum pernah punya pengalaman dirawat inap di rumah sakit di Belanda, jadi aku tak memiliki gambaran seperti apa perawatan bagi anak-anak sakit di Belanda.  Yang kutahu, dulu ketika kaki putriku masuk ke jari-jari sepeda dan perlu di gips, dokter dan perawatnya sangat ramah padanya. Sebelum di gips, perawat menjelaskan padanya apa saja yang akan dilakukan dokter pada kakinya. Lalu, setelah di gips dan pulang, ia boleh memilih hadiah, hadiahnya saat itu adalah boneka rusa yang lucu. Dan setelah perawatan selesai, lalu gips dicopot, anakku pun mendapat diploma gips! Wah tentu saja dia senang bukan kepalang. Oya, saat hendak digips, putriku juga boleh memilih warna gipsnya, ada merah, putih, biru, hijau, sayangnya waktu itu tidak ada pink, jadi putriku pilih warna merah.

Begitu juga saat anak bungsuku (4 tahun usianya kala itu) tangannya kejepit pintu. Sebelum di rontgen, dia boleh memilih sticker dan kertas mewarnai. Setelah selesai di perban (karena alhamdulillah ga ada yang patah), dia boleh memilih hadiah boneka lucu juga. Pokoknya pulang dari rumah sakit, anak-anakku bahagia banget karena mendapat hadiah dari rumah sakit.

Tapi ternyata itu belum seberapa, karena menurut kawanku yang perawat tadi, anak-anak yang di rawat berhari-hari biasanya setelah dirawat bahkan tak mau pulang ke rumah! Haa? Koq bisa? “Ya gimana enggak, wong di rumah sakit semua mainan disediain. Ada Wii, ada play stasion, game komputer, TV dan bahkan setiap setelah mendapat tindakan mereka dapat satu hadiah. Setelah di ambil darah dapat hadiah, setelah dilakukan sonde, diinfus, diambil darah lagi, ya dapat hadiah lagi. Jadi pulang dari rumah sakit, anak-anak itu bisa membawa sekarung hadiah!” Wow! Cuma kata itu yang bisa keluar dari mulutku.

Anak-anak yang sakit itu sangat dimanusiakan. Di setiap ruang kamar bahkan ada 2 orang pedagogish werker (ahli pedagogi) yang khusus menangani masalah psikologis anak. Sebelum di infus misalnya, si pedagogis ini akan memberikan gambar-gambar dan penjelasan pada si anak apa saja yang akan dilakukan dokter nanti padanya.”Kamu akan diinfus. Nanti jarum dan selang ini akan dimasukkan ke tubuhmu, supaya kamu ga dehidrasi. Itu memang sakit, tapi hanya sebentar, tapi tubuh kamu memerlukannya,” begitu kira-kira penjelasan sang ahli pedagogi.
 

Jadi, anak sama sekali tidak dibohongi. Karena memang disuntik sakit ya akan dibilang sakit. Anak-anak pun pastinya takut ada yang menangis, tapi itu bukan alasan untuk lantas boleh membohongi mereka. Akan lebih menyakitkan bagi mereka bila mereka dibohongi. Jadi mereka tetap diberi penjelasan sebelum dilakukan tindakan. “Dari umur berapa Mba, anak-anak itu diberi penjelasan?” tanyaku penasaran. “Ya sejak mereka bisa ngomong,” jawab si Mba. “Kalau anaknya masih bayi, orangtuanya yang dipanggil dan diberi penjelasan.”

Asyiknya lagi, orangtua-orangtua ini diberi pilihan, mau melihat anaknya saat diinfus atau tidak. Dan dokter yang menginfus hanya boleh diberi kesempatan dua kali. Setelah dua kali gagal, harus dokter lain atau supervisornya yang menggantikannya, kasihan kan kalau anak ditusuk-tusuk dan gagal terus.

Hmm…mendengarnya, aku langsung teringat rumah sakit-rumah sakit di Indonesia. Aku dengar, sekarang sudah ada rumah sakit-rumah sakit swasta yang memberikan pelayanan oke, meski bayarnya selangit, dan tentu saja hanya anak-anak kalangan ‘the have’ yang bisa merasakannya. Sementara disini, semua anak mendapatkan perlakuan yang sama, karena setiap warga memang wajib ikut asuransi kesehatan. Jadi kuncinya memang ada di asuransi kesehatan. Tapi kalau ngomongin asuransi kesehatan di Indonesia, kepalaku jadi senut-senut. Aku lebih baik bermimpi, agar suatu saat anak-anak yang sakit di Indonesia juga bisa mendapatkan perlakuan yang layak dari orang dewasa di sekitarnya.

Pesan dari ‘Listen a lot’ ku hari itu memang singkat, tapi membuat semangatku menguat untuk mengejar mimpi-mimpiku. ‘Listen a lot’ dan tetaplah bermimpi, itu lah pelajaran besar bagiku dari obrolanku dengan temanku hari itu. “Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu,” kata Aray dalam buku Sang Pemimpi. Dan semoga Tuhan berkenan memeluk mimpi-mimpiku.