Wednesday, January 23, 2008

Ultah Aik ke-6


Mba lala ikut ngehias hurufnya, aik boneka bebeknya.

Ini ultah sebulan yang lalu sebenernya, 4 januari di rumah dan 6 januari dirayain di Apekooi. Ultah kali ini, Aik ngerayain sama temen-temen deketnya di Apekooi (semacam tempat bermain ala time zone gitu). Sebetulnya yang di undang 6 orang, tapi berhubung aik ultah pas liburan 2 minggu, undangan udah dikasih 2 minggu sebelumnya. Bunda percayain aja aik kasih ke temen-temennya dan Aik keukeuh undangannya udah sampe semua ke tangan 6 orang temennya itu. Berikut salah bunda juga, menjelang hari H, mereka ga ditelponin lagi satu-satu. Alhasil yang dateng pas ke Apekooi cuma 2 orang. Setelah sekolah masuk orangtua temen-temen Aik yang ga dateng pada minta maaf. "Maaf ya, undangannya ketinggalan di sekolah, baru dikasihin sama anakku pas udah masuk sekolah." Halaah pantesan ajah hehe.

Pesan moral: Untuk anak umur segini jangan kasih undangan ke anaknya, harus nyampe ke ortunya langsung (kirain udah gede, ternyata hehe...)

Tapi untungnya walopun cuma berempat sama mba lala, acara tetep seru. Ramon sobatnya malik emang aga diem anaknya tapi Omer temennya aik satu lagi, anaknya heboh banget, jadi tetep seru deh pokoknya :-).

Oiya ultah kali ini Aik pengen dibikinin kue cars. Sekarang aik dah ganti kedemenannya ga bob the builder lagi. Sekarang maunya apa-apa cars. Tadinya mau bunda bikinin cars cake 3 dimensi, tapi berhubung disini mah peralatan kue terbatas, pewarna yg lucu2 ga ada pula, kudu pesen di kota laen, berikut harganya juga lumayan banget ya sudahlah pake yang ada aja.

Kebeneran Aik pengen dihadiahin mobil cars truck, dan play mobil. Pokoknya semua hadiahnya dibeli dari tabungannya sendiri, kebeneran cukup buat beli mobil cars kecil, ya wes jadilah mobil cars itu bertengger di atas kue, mayan deh ga jelek-jelek amat kan kuenya hehe. Mba lala keukeuh pengen bantu ngehias, aik juga. Jadilah hiasan huruf mba lala yang nulis, dan bebek yang bertengger di kolam, itu bikinnannya malik. Sebenernya bunda awalnya kuatir ngerusak penampakan kue sih. tapi masa seh permintaaan anak yang ultah ga dikabulin, emang kuenya sapa hehe. Jadi deh si bebek lego bertengger di kolam. Dan yang jelas pas udah jadi mba lala dan aik berseru kegirangan, wow mooi!," gitu katanya.

Metamorfosa Lala




Putriku yang udah menjelang ABG. Berasa baru kemaren masih ngegendong-gendong, sekarang dah ga mau digendong ihiks. Pokoknya ngeliat foto-foto ini membuatku bersyukur udah bisa mendampingi anak-anakku dari sejak lahirnya sampe ngeliat detil-detil perkembangannya juga jatuh bangun mengasuhnya. Putriku ini membuatku banyak sekali belajar. Luv u always say...

Tuesday, January 8, 2008

Metamorfosa Malik




Buat liat-liatan kalo lagi suntuk. Duh ngeliat perubahan malik yang dijejer begini amazing banget rasanya. Kadang klo lagi melow, ngeliat foto-foto ini bikin air mata menggenang di pelupuk, ihiks ga berasa udah bujang anak lelakiku.

Tuesday, November 27, 2007

'Batre' Itu Perlu

"Bunda sekarang udah ngga suka marah lagi," kata Lala pagi tadi. Ayah langsung nyolek-nyolek bunda sambil kedip-kedip mata dan bilang,"Tuh liat, anakmu tuh," goda ayah. Bunda langsung mesam-mesem deh.

Wuah ternyata...sebagai ibu, kita memang selalu butuh 'batre' baru dan butuh suasana baru untuk mengingatkan lagi dan lagi agar kembali ke jalur yang benar dalam urusan parenting. Jatuh bangun dalam pengasuhan rasanya nggak jauh beda sama naik turunnnya iman. Jadi, 'batre' itu sangat-sangat membantu untuk kembali bangkit.

Karena 'roda' dalam rumahku bulan belakangan ini kembali berputar kencang, aku terbawa arusnya. Bekerja sebagai cleaning service di rumah sakit, walaupun hanya 2,5 jam saja sehari, cukup menguras tenagaku. Walaupun sekarang aku mulai terbiasa, dan malah menganggapnya sebagai suatu kegiatan olahraga, tapi awalnya aku sering sekali pulang dalam keadaan capek. Capek artinya gampang naik darah. Ditambah lagi, sejak beberapa minggu lalu, aku pun kerja pagi di thuiszorg. Kerjaku membersihkan rumah orang-orang tua yang sudah tidak berdaya, sakit karena tua dan tak bisa lagi membersihkan rumahnya. Aku kerja pagi saat anak-anak sekolah, walaupun tidak setiap hari, tapi rupanya fisik aku belum terbiasa. Karena itu lah segala teori parenting gampang sekali lenyap dari kepala. Yang ada, pulang kerumah aku lebih banyak diam dan gampang tersulut.

Akibatnya, Lala, yang sangat pintar membaca bahasa tubuhku, jadi gampang menangis. Walaupun akhirnya kami selalu berpelukan dan bermaaf-maafan, tapi aku sadar, aku sudah 'out of control'. Dan beruntungnya, tanggal 24 dan 25 November kemarin, Ibu Rustika Thamrin, psikolog dari yayasan Kita dan buah hati datang ke Belanda. Beliau memberikan training "Komunikasi dalam Pengasuhan Anak" untuk ibu-ibu di Amsterdam.

Dulu sekali, sebelum aku datang kemari, aku sudah pernah mengikuti pelatihan ini. Saking kepinginnya bisa ikut training ini sebelum pergi ke Belanda, aku mau bela-belain mengkoordinir acara itu. Aku bekerjasama dengan sekolah Bumi Limas milik mba Luna, mencari peserta, supaya acara bisa berjalan dan ga nombok. Alhamdulillah bisa terkumpul 15 orang untuk memanggil trainer dari yayasan kita dan buah hati Jakarta untuk bicara di Bandung.

Sesampainya di Belanda, aku mencoba mempraktekkan hasil pelatihan itu. Mencoba menghindari 12 gaya populer komunikasi (memerintah, menyindir, menyalahkan, mengancam, meremehkan, membandingkan, mencap, membohongi, mengkritik, menganalisa, menghibur, menasehati) yang sebetulnya tidak baik dampaknya buat anak. Aku pun mencoba untuk mendengar aktif , mendengar anak dengan mata dan hati, menerima mereka apa adanya, mengenali perasaan yang muncul dan memberi nama perasaan tersebut, mencoba 'piknik' ke pikiran dan hati anak, dan lain-lain.

Berhasilkah? Hmm...aku ga tahu. Semua proses. Tetap saja kadang aku terlupa. Dalam kondisi capek, marah, sibuk, lagi-lagi telunjuk bermain, lagi-lagi ancaman keluar, lagi-lagi memerintah, menyindir, masih saja kerap kugunakan. Setelah bu Elly Risman datang ke Belanda, dan semangatku kembali bangkit, aku mulai membetulkan lagi cara-cara komunikasi yang salah dengan anakku.

Tapi begitulah...setiap roda kembali berputar kencang, mudah sekali aku kembali terlupa. Mengapa? Aku tahu, karena belasan tahun aku dididik dengan 12 gaya komunikasi yang sudah sangat populer itu, tentu tak mudah untuk merubahnya. Memori itu sudah merekat sangat kuat, sehingga dia akan berloncatan dengan sendirinya ketika diriku sudah 'out of control'. Beruntung 'batre' baru kerap dihadirkan dalam hidupku.

Saat pelatihan, aku kembali diingatkan bahwa anak-anak adalah pembaca body language yang sangat pintar. Bahasa tubuh yang kita tampilkan, 90 % pesannya lebih terbaca oleh anak. Isi pesan hanya 7 % saja sampainya ,sedangkan, suara hanya 3 %. Jadi, senyum yang dipaksakan ke anak, maaf yang hanya basa-basi, sungguh dampaknya nggak baik buat anak.

Aku juga diingatkan lagi, bahwa 'sungai' emosi kita tak boleh terbendung terus menerus oleh karung-karung pasir. Kalau itu terjadi, dampaknya biasanya akan terlihat saat usia mid life. "Karena itu banyak orang depresi, bercerai dan lain-lain di usia midlife," kata bu Tika. Dampak ke anak, anak lah yang biasanya jadi korban emosi kita yang terbendung itu. Anak salah sedikit aja, marah kita hebohnya luar biasa. Dampak lebih jauhnya lagi, anak yang kerap diabaikan perasaannya, yang hubungan komunikasi dengan orangtuanya buruk, tentu akan menjadi anak yang rapuh. Mereka jadi tak bisa berempati, gampang terpengaruh, tak mandiri, tak bertanggungjawab, tak bisa menjadi problem solver dll.

Padahal, jaman sekarang, pengaruh dari luar, seperti banjir. Kalau kita ga bantu anak untuk mandiri, mempunyai internal motivation dan konsep diri positif, akibatnya bisa berabe. Apakah generasi produk masa lalu harus kembali terulang? Padahal kita tahu sendiri hasilnya seperti apa. Ya seperti kualitas manusia Indonesia kebanyakan yang ada sekarang ini (termasuk diriku tentunya :-)).

Gimana caranya supaya 'sungai' bisa lancar mengalir? Karung-karung pasir itu harus disingkirkan, baik orangtua maupun anak. Keluarkan emosi negatif kita sendiri dan dengarkan perasaan anak agar anak juga bisa menyalurkan emosi nya. Marah, asal ga berlebihan, ga masalah. Kalau udah nggak tahan, cukup katakan bahwa kita sedang marah. Kalau perlu 'Time Out' dulu, cari waktu buat menenangkan diri sebentar, setelah itu baru lanjutkan pembicaraan dengan anak. Dengan mengeluarkannya, anak akan belajar mengenali perasaannya, peka terhadap perasaan orang lain dan juga belajar memanage emosinya.

Buat aku, yang masih sering terlupa adalah mengungkapkan emosiku sendiri ke anak. Untuk mempermudah mengingat, gunakan 'Pesan Saya'. Rumusnya begini: Bunda merasa ....kalau....karena....(konsekuensi) Contoh kalimatnya begini,"Bunda ga suka, bunda terganggu kalo aik main-main terus sambil makan, karena .....atau Bunda lama-lama kesal kalau lala dan aik lama sekali pake bajunya karena...bisa terlambat sekolah." Biasanya yang aku lakukan kalau sedang dalam kondisi capek, aku mengeluarkan kalimat seperti ini: "Ayo makannya cepet, ga usah main2! Ayo cepet pake bajunya nanti telat!"

Dengan cara seperti itu anak tidak belajar bahwa apa yang dilakukannya berdampak buat orang lain. Dia ga tau bahwa mamanya akan kesal, orang lain terganggu dan lain-lain.

Sebaliknya kalau anak sedang bermasalah, kita harus bisa 'mendengar aktif'. Kuncinya dengan kalimat ini," Kamu....(perasaan) ...karena....(alasan)". Misal Lala nggak bisa bobo udah malem padahal besok sekolah. Tapi sebenernya dia juga udah kepengen bobo. Biasanya aku bilang gini," Ayo mba bobo, coba deh merem, besok kalo telat bangun gimana."

Mestinya kita coba piknik ke dalam dirinya dan bicara dengan kalimat begini,"Mbak lala lagi bersemangat mikirin sesuatu ya, jadi susah bobok." Gara-gara kemaren aku ngomong begitu lala lansung bilang sendiri,"Mbak lala hari ini ga terlalu capek bun, makanya mbak lala jadi ga bisa bobok." Terus dipeluk sebentar bobok deh.

Intinya, aku jadi diingatkan kembali untuk respek sama anak, untuk mendengar dengan mata dan hati, menamakan perasaan anak dan mencoba mengembangkan internal motivation dalam diri mereka. Tapi selain itu anak juga harus belajar disiplin. Ini bisa dilakukan dengan rumus 'pesan saya' tadi. Wah panjang deh pokoknya ceritanya. Kesimpulannya kalo disiplin dan kasih sayang kita lakukan secara seimbang, 'pesan saya' dan 'mendengar aktif' kita lakukan secara seimbang, insya Allah...komunikasi kita dengan anak akan terus hangat, anak akan tumbuh menjadi anak yang mandiri, bertanggungjawab, bisa jadi problem solver dan kita akan mudah melewati masa-masa sulit pengasuhan.

Oya pas di Amsterdam aku mengorek-ngorek cerita ibu-ibu yang anaknya udah mulai ABG. "Wuaah bener Nes, isinya beranteem melulu aku sama dia," kata temenku. "Iya sejak umur 11 tahun dia jadi pendiam, suka rahasia-rahasiaan," kata temenku yang lain. Pokoknya seru deh, malah katanya lebih seru dari terrible two.

Usia 11-17 thn dalam psikologi memang dikatakan sebagai usia terberat (selain terrible two, dan mid life) dalam fase kehidupan manusia. Terjadi lagi 'gonjang-ganjing' dalam tubuh anak remaja, yang bakal membuat ortunya senewen berat. Dan dengan komunikasi yang oke, masa sulit ini akan jauuh lebih mudah untuk dilewati, begitu kata ibu Tika. Sekarang lala udah mau 8 tahun, 3 tahun lagi...hmm..welcome to the jungle! Moga-moga dengan sering-sering mendapat ' batre' aku jadi bisa lebih siap memasuki 'jungle' itu.

Sunday, November 18, 2007

Pre Wedding yang Tertunda (after nine years)




17 November, 9 tahun yang lalu...
Sepasang kekasih mengikat janji
Berurai air mata, memeluk suka
Di hadapan sang Maha Pemberi Cinta

Perhelatan digelar
Santapan sedap terhidang
Handai taulan berdatangan
Mengucap doa keberkahan

Tapi sayang seribu sayang
Di masa itu sesie pre wedding belum terkenal
Padahal jiwa narsis tetap kekal

Sembilan tahun kemudian
Seorang photografer profesional menawarkan
Wow, tentu saja kesempatan tak boleh dibuang
Anak-anak sejenak diungsikan
Dan kami pun menyalurkan bakat terpendam
Bakat narsis yang tak pernah padam hehehe

Many thanks buat mba Ine R. Hardjanto, sang photographer. Ndak salah kalau fotografer.net kerap menobatkan karya-karya mba Ine sebagai karya terbaik, karena karya-karyanya memang sungguh memukau. Sebentar lagi mungkin namanya bakal berkibar sekelas Darwis Triadi, Kevin Pinardy atau om Rarindra :-), liat aja karya-karya indahnya disini: http://traveloguekami.multiply.com/photos

Jangan lupakan kami ya mbaa kalo udah terkenal :-). Yang berminat difoto sama mba Ine, silahkan kontak blio, harga bisa dinego koq tenang aja, ya kan mba...(hihi sok sok an promo neh :-))

Thanks juga buat mas eko (sang suami) yang siap grak selalu dengan mobilnya :-)

Buat Nisa dan Aa Nandang yang gayanya renyah dan mesra bangeed, ga perlu nyontek, malah kita contek dah :-) Thanks yaa buat seru-seruannya...

Dan terutama sekali, spesial thanks buat anak-anak dong, yang dengan antengnya mau merelakan ortunya bernarsis ria :-)

Ps: foto-foto setelah gambar kami merid adalah foto-foto editan muridnya mba Ine (baca: Ismail Fahmi, yang kadang-kadang ngaku jadi Ismail Pinardy kalo lagi bangga banget ama editan fotonya hehe). Happy anniversary Say...:-)

Thursday, October 25, 2007

Performance Baca Puisi Lala dan Malik

Ga nyangka ternyata anak-anak tuh kalo dilepas dipanggung bebas merdeka berekspresi, nyantai banget tanpa beban, padahal latihannya cuma 2 hari, itu pun ogah-ogahan kalo abis sarapan sama mau tidur doang. Lala dan Malik bacain puisi dari surat Asy-Syam 1-10 ini pas acara halal bihalal degromiest.Tadinya aku dah nyuruh batal tampil aja daripada malu-maluin, tapi lala dan malik bersemangat sekali mau tampil. Ya wes apa adanya aja deh. Dan beginilah hasil apa adanya anak-anak. Daku keketawaan sendiri nih klo liat hehe :

Tuesday, October 23, 2007

Een Spion

Op een nacht was er een SPION die las het boekje. Daar zat Blauwi in.
Het boekje was GEHEIM.De SPION las het boekje, onder de ROOS. De spion las het boekje in zijn huis. De vuur zat aan. Daar zat heel veel takken. De takken zijn van een boom.Niemand wist dat de SPION een SPION was.
GEHEIME GEHEIM IS WAYSIDE KLAAR EINDE!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Terjemahan ala bunda:
Suatu malam, ada seorang Mata-mata yang sedang baca buku. Di dalam buku itu ada Blauwi. Buku itu tentang rahasia. Si Mata-mata baca buku dibawah bunga mawar. Si Mata-mata, baca buku itu dirumahnya. Api sedang nyala. Disana (Dalam pemanas api itu) ada banyak ranting-ranting. Rantingnya dari pohon. Nggak ada seorang pun yang tau kalo si Mata-mata itu adalah seorang mata-mata.

Catatan: Blauwi itu boneka beruang aik warna biru, pada gambar diatas Blauwi ada di atas kastil.

Cerita itu ditulis Aik dan diketik serta dibetulkan grammernya oleh mbak Lala. Cerita ini Aik tulis setelah aik menang perlombaan menggambar di sekolah. Dalam rangka kinderboeken week, sekolah aik dan mbak lala mengadakan lomba gambar untuk grup 1- grup 3, dan aik jadi pemenang nomer satu! Lho koq aik bisa menang? Padahal kayanya biasa aja ya gambarnya hehe. Hmm..kayanya sih karena gambar aik pas banget sama temanya. Soalnya sejak aik dan mbak lala bisa gambar, bunda memang selalu nyuruh mbak lala dan aik bikin judul di gambarnya dan nyeritain maksud gambar itu. Jadinya udah terbiasa kali ya, deuu geer deh bunda.

Terus ternyata pas bunda liat gambar yang juara 2 dan 3 ya memang begitu deh, kayanya biasa banget. Ga spektakuler kaya anak-anak yang menang lomba gambar di Indonesia gitu loh. Terus ini menang juga ga ada yang dikasih hadiah lho. Memang disini ga terlalu ditekankan anak suruh kompetisi sih ya, lebih ditekankannya samen werken alias kerjasama. Jadi lomba beginian juga jarang. Terus pesertanya juga seluruh anak, ga pake acara daftar-daftar segala. 

Wah pokoknya serumah pada surprise. Jadi bunda taro deh surprisenya disini buat kenang-kenangan :-)

Sama Juf, bunda disuruh liat pengumumannya  disini :
http://www.destarter.nl/

Di website itu tertulis begini:
WINNAARS TEKEN- EN VERHALENWEDSTRIJD 'GEHEIMEN' BEKEND!

Tijdens de kinderboekenweek is er hard gewerkt op de Starter. De kinderen van groep 4 t/m 8 hebben hun best gedaan om een zo mooi en spannend mogelijk verhaal te schrijven. Ook de groepen 1 t/m 3 hebben prachtige geheime tekeningen gemaakt!
De nieuwe leerlingenraad had de zware taak om de winnaars te kiezen. Na lang beraad is dit het resultaat.

Verhalenwedstrijd :
1e plaats. Elise uit groep 4a met 'Belle en het drankje'.
2e plaats (gedeeld). Tim uit groep 8b met 'Een dag in de geheime wereld' en Jadsia uit groep 7 met 'De geheime deur'.
3e plaats. Roos uit groep 8a met 'Het geheim van de spiegel'.

Tekenwedstrijd
1e plaats. Malik uit groep 3c.
2e plaats. Anna van de vlinders.
3e plaats. Maud uit groep 3a.

Van harte gefeliciteerd en veel lees- en kijkplezier!!!!!