Thursday, June 5, 2008

Lagi-lagi Hoofddoek

Belakangan ini hari-hariku sedang padat banget. Suamiku sedang conference ke Canary Island. Sementara jadwal kerjaku seminggu full dari pagi sampe sore pulak. Mana kerjaanku, kerja pakai otot. Pulang-pulang aku harus jemput anak-anak sekolah lalu sampe rumah masih harus masak buat anak kos (walopun sering juga ngeluarin dari freezer sih). Kadang aku juga harus antar jemput anak-anak berenang, sepak bola, les piano. Wuah pokoknya fully booked, hari seperti berlari rasanya. Tapi cerita ini nggak ingin kulewatkan, jadi aku sempatkan menuliskannya sebagai catatan hati.

Hampir setiap hari, aku bekerja di rumah oma-oma atau opa yang sudah tidak punya tenaga lagi untuk membersihkan rumahnya. Kadang juga klienku belum tua tapi sakit sehingga perlu bantuan tenaga untuk bersih-bersih rumah. Biasaya aku pulang selalu capek. Kadang aku bete, karena dimarahin klien, digoblok-goblokin, kadang seneng karena dikasih hadiah-hadiah kecil, tapi kebanyakan sih biasa-biasa aja. Mereka umumnya baik-baik koq, tapi tentu ada satu dua yang out of normal.

Tapi hari ini laen. Aku pulang rasanya sambil membawa api di hatiku. Walah kenapa rupanya? Siang tadi aku dapat klien seorang wanita, umur sekitar 40-45 tahun lah. Dia tinggal sendiri, kadang berdua sama anak lelakinya yang berumur 15 tahun. Dia sudah cerai dari suaminya. Anaknya kadang di rumahnya, kadang di rumah mantan suaminya. Hanya anjing pudel putih yang setia menemani dia. Anjingnya namanya Boomer. Dia perlakukan anjing itu serupa anaknya sendiri. Anjingnya suka dikasih makan capcay dan buncis katanya. Duh jadi inget anak-anak yang kelaperan di Indo. Katanya lagi dia pernah mengalami kecelakaan mobil sehingga tulang punggungnya bermasalah. Karena itu dia butuh thuishulp yang  bantu bersihin rumahnya.

Mulanya aku masuk ke rumah dia biasa aja. DIa cukup ramah, walaupun tegas dan lugas kalo ngomong.  Waktu istirahat aku dikasih minum, setelah minumku habis aku mau lanjut kerja lagi, karena aku masih harus sedot debu rumah bagian bawah dan ngepel juga.  Eeh ndilalah dia tahan aku. "Tenang..tenang istirahat dulu aja deh," katanya. Laah nggak taunya ujung-ujungnya dia tanya tentang kerudungku. Mending kalo sekedar tanya kerudung, ujung-ujungnya dia bilang, kamu bego! Perempuan muslim yang pake hoofddoek alias kerudung tuh bego! Oalaah.. gimana hatiku tidak membara jadinya. Pelan tapi pasti si api memercik-mercik di dadaku, mukaku juga makin lama terasa panas dan memerah. Wuaduuh aura negatif banget pokoknya yang muncul!

Gimana enggak. Pertama dia bilang gini.
"Kamu pake kerudung, kamu muslim kan." Aku jelas ngangguk.
"Kamu muslim sejak lahir? Atau baru aja?"
"Dari lahir," jawabku.
"Kenapa kamu pake kerudung?" Aku mikir rada keras. Aku pernah nemu student asal Indonesia yang ditanya sama bule, kenapa kamu puasa dan dijawab,'karena itu kewajiban.' Hayyaya...udah tau dong gimana jawaban si bule,"silly!" katanya. Ya iyalah..hari gini, udah mahasiswa, kasih jawaban karena kewajiban, koq mau aja didoktrin sama agama, tanpa alasan yang jelas, gitu kan pasti pikir si bule. Karena inget si student itu lah maka aku jadi mikir rada keras, ceile.

"Karena aku merasa aman, merasa nyaman dan bahagia dengan memakainya," kataku.

Eeeh tau-tau si mevrouw langsung nyerocos ga keruan, kasarnya ngajak berantem dah hehe.

"Kamu tau nggak, perempuan muslim yang pake kerudung itu bego! Kamu boleh marah, tapi menurutku begitu, terbelakang! Kan kalau di mesjid kalian harus dibelakang laki-laki kan duduknya. Terus kalian harus pake kerudung. Buat apa? Artinya perempuan Islam tuh dibawah laki-laki, nggak sederajat. Menurut saya itu tuh 'dom' (goblok). Naa laki-laki boleh kemana-mana bebas nggak perlu ditutup-tutup, kenapa perempuan harus ditutup? Saya pernah liat perempuan pake hoofddoek tetangga saya waktu dia ga pake kerudung. Ya ampuun ternyata dia cantik bangeeet, rambutnya panjang sekaki! Coba bayangin, ngapain dia tutup-tutup semua kecantikannya itu, katanya cuma buat suaminya, sementara suaminya bebas ngeliat-liat dan diliat orang lain."

Duh...kalo ngejelasin pake bahasa Indonesia sih gampang. Lha ini kudu ngejelasin pake bahasa belanda dengan topik yang macam gini, pusyiing nggak pala gw. Akhirnya aku jawab lah dengan bahasa belandaku yang ala kadarnya.

"Mevrouw, laki-laki  dan perempuan itu beda. Laki-laki itu dari mata aja bisa cepet horney (ngejelasin dalam bahasa belandanya sih aku ga pake istilah horney hehe, muter-muter ga jelas dulu sampe akhirnya si mevrouw paham karena aku ga tau horney bahasa belandanya apa xixixi). Naa kalo perempuan kan enggak, kudu diraba-raba dulu baru horney."

Laah si mevrouw langsung nyolot lagi. " Siapa bilang, perempuan juga sama aja tauk, dari mata bisa horney," gitu deh katanya kira-kira.

Aku mencoba melunak karena ga pengen suasana memanas sambil juga  bingung kudu jawab kumaha. Karena aku tau, kami udah beda paradigma, dan dia ngotot banget, bukannya mau menghargai keyakinan orang malah mau memaksakan pendapatnya, jadi ga mungkin bakal akur dah (persis deh kaya berantemnya aliran-aliran agama di Indo :( ). "Ya mevrouw, tapi mungkin kultur juga pengaruh ya. Kalo di negaraku, dengan pake kerudung perempuan jadi ga gampang kena pelecehan seksual," lanjutku.

"Yaa tapi kan kamu tinggal disini. Ini nederland, nggak kaya begitu. Kamu punya anak, kamu kerja, kamu punya kehidupan sendiri, kenapa kamu harus nggak sederajat sama laki-laki. Kamu nggak bisa ajarin itu ke anak-anakmu, itu nggak bagus."

Ggrh giliran aku nih yang nyolot. "Mevrouw, aku nggak ngerasa nggak sederajat sama suamiku. Biarpun aku pake kerudung, biarpun kalo di mesjid duduk di belakang, aku tetap ngerasa sejajar aja ko sama laki-laki."

Walah aku lupa deh urutannya gimana, pokoknya terus si mevrouw ngomong lagi begini.

"Tau nggak aku tuh suka takut ngeliat imam-imam yang berjenggot yang katanya teroris teroris itu."

"Tapi nggak semua orang Islam tuh teroris mevrouw. Islam di Indonesia tuh moderat (*sigh* sambil dalam hati inget FPI dan huru hara di Indo ).

"Ya aku tahu sih. Tapi kamu tau nggak, Quran tuh oude (tua), trus sama aja kan sama bible, dapatnya dari mulut ke mulut. Sebenernya udah ga bisa tuh dipake lagi, itu terbelakang.  " Redaksinya ga begitu sih, tapi kira-kira gitu deh, karena aku juga kadang nggak gitu nangkep omongan si mevrouw.Intinya menurut dia, Quran dan Islam tuh identik dengan keterbelakangan.

"Terus kalian musti sholat lima kali sehari kan? Kamu sholat?" tanyanya lagi.

"Iya,"jawabku.

"Waah kalo aku nggak kebayang deh musti 5 kali sholat, buat apa coba. Aku juga tetep nggak bisa ngerti sama orang yang pake kerudung, dom!"

Hiii bete banget ga sih dengerin dia ngomong dom dam dom dom dam dom berkali-kali.

"Mevrouw, semua itu tuh membuat aku mengalami pengalaman spiritual yang nggak bisa dikatakan. Bahagia yang ga bisa dibilang."

"Spiritual apa? Saya juga pernah ngalamin pengalaman spiritual. Saya pernah kecelakaan,saya udah mau mati dua kali, tapi nggak ada tuh saya disuruh macem-macem sama Tuhan.," sanggahnya.

Huaaa capee deh.

"Setiap orang tuh beda ya mevrouw, ga bisa disamain pengalaman spiritualnya," kataku.

Aku masih pengen ngomong lagi, tapi rupanya kami udah terlalu lama bicara, aku musti lanjutin kerja, dia juga udah gerah kali sebel ngeliat gw yang ngeyel hihi. Akhirnya dia pergi nyiram taneman.

Tapi untungnya nggak lama dia adem lagi ngajak ngomong yang lain. "Kamu dulu di Indonesia sekolah?" tanyanya. Aku ngangguk doang, males ngejelasin. Eeh dia tanya lagi.

"Sekolah apa?"
"Dari universitas," jawabku. Eeh dia ga berhenti tanya.
"Jurusan apa?" Hmm karena aku pernah mewek waktu aku ditanya macam ini dan kujawab jujur (karena aku jadi kangen sama kerjaanku dulu hiks), akhirnya kujawab aja dengan sedikit tidak jujur.
"Obat-obatan."
Dia bengong. "Haa lalu ngapain kamu kerja ginian?"
"Suamiku student Mevrow, uang kami nggak cukup, jadi aku harus kerja, sementara ijasahku disini ga laku, aku harus ngulang sekolah dari awal lagi. Tapi nanti bulan depan aku udah ga kerja lagi koq, karena suamiku udah mau selesai sekolahnya. Aku berencana mau lanjutin sekolahku." Sekalian aja kujawab gituh biar naekin mutu dikit dah.

Tapi tetep aja, bukannya lega, sewaktu pulang aku masih bawa panas di dada. Hmm gitu ya rupanya bule bule itu berpikir tentang kerudung dan Islam, terbelakang?. Karena masih terbawa suasana, waktu ngejemput Malik dan ngeliat orangtua temen-temen Malik yang berjejer duduk berpanas-panas ria, aku menyendiri dan jadi mikir, oo gitu ya rupanya kalian memandang aku. Terserah deh, gw ga butuh pengakuan kalian, kataku dalam hati. Laaah diriku ko malah jadi bete sama semua bule-bule ituh, paraah... men-generalisir sekali duong deh...

Tapi sampe rumah aku udah sembuh koq, ga bete lagi liat bule, apalagi kalo ganteng huahehe dasaar dasaar, bacanda boo..suami gw tetep ga ada duanya dah xixixi.

Dus, moral of the story yang kudapat hari ini adalah, aku jadi bertanya-tanya sendiri ke diriku, kenapa ya aku pake jilbab? Kalau bukan karena sekedar kewajiban lalu apa?  Gimana sebaiknya aku menjawab kalau orang-orang, lagi-lagi bertanya kenapa aku pake jilbab?

Mungkin sebetulnya jawabannya so simple, apa sih yang kita cari di dunia ini Mevrouw, dan mau kemana kita nantinya? Kita hidup mencari kebahagiaan  bukan? dan ingin bahagia seterusnya bukan? Tapi bahagia yang seperti apa? Apakah dengan memamerkan kecantikanku aku bahagia? Apakah dengan merasa sederajat dengan lelaki aku bahagia? Kalau iya, apakah itu yang namanya kebahagiaan sejati? Yang bisa membuat hati damai tentram, dan tergugu karena sebuah nikmat  yang tiada tara. Bukan hanya bahagia semu yang membuat hati kering dan hampa.

Kerudungku ini Mevrouw, dengan segala ketidaksempurnaan  yang ada selama aku memakainya, bagaimanapun telah mengantarkan aku pada sebuah proses pencarian kebahagiaan itu. Semoga saja  bermuara pada surga, kebahagiaan sejati yang rasanya tentu seperti di surga.




 


 

Sunday, May 18, 2008

Malik Still Stand, Robot




Sudah sejak lama Malik punya rencana untuk jadi still stand robot. "Robotnya terbuat
dari apa Ik?"
"Dari dos Bun, kaya yang di buku ensiklopedi itu," jawab Aik. Aku sih sudah hapal dengan karakter Malik yang determinasinya cukup kuat. Kalau sudah punya pilihan A, ya biasanya tetep A.

Bener aja. Hari H tiba, Malik menunjukkan buku yang di dalamnya ada cara bikin kostum robot ke ayah. Ayah yang sudah menyiapkan beberapa dos dari supermarket langsung membantu Aik membuat kostum robot. Setelah potong sana, potong sini, kasih benang untuk lengan dan kaki lalu mengecatnya, taraaa..jadilah si kostum robot. "Kepalanya tinggal pake wadah nasi aja," kata ayah. Siip...

Dan di tempat tujuan, Malik pun langsung beraksi. Awalnya malik malu-malu dan ngambek karena Lala terus saja menggoda Aik. Ketika orang-orang mulai merubung Aik, Lala berteriak-teriak,”Dat is mijn broertje..dat is mijn broertje (itu adek aku, itu adek aku).” Atau kadang-kadang Lala memberikan intruksi,”Malik je moet zoo..en zoo (Malik kamu harus gini dan gini). Malik langsung manyun. Ia lalu turun dari dingkliknya, ndak mau lanjut. Rupanya Aik juga ingin 'jajan-jajan' dulu di pasar loak koningen dag. Jadi dobel-dobel lah penyebab ngambeknya. Setelah mbak Lala janji nggak akan ganggu Aik lagi dan keliling-keliling ‘jajan’ boneka beruang putih seharga 50 cent, Malik langsung happy. Malik pun mau kembali beraksi.

Di atas dingklik kecil yang sudah dialasi sajadah, Malik berdiri mematung. Tangan kanan Malik naik ke atas, tangan kirinya mengembang agak ke bawah. Dengan kepala sedikit dimiringkan ke samping, mata Malik menatap ke depan berusaha tak berkedip. Ketika ada pengunjung datang memberikan sekeping uang, tangan dan kaki Malik langsung bergerak patah-patah. Ekspresi wajahnya, hmm..ekspresinya..., duh susah deh aku melukiskannya dengan kata-kata. Menatap ekspresi wajah Malik dan gerakan-gerakan yang dibuatnya membuat hatiku campur aduk. Mulutku ingin tersenyum tapi air mata pun rasanya menggenang di pelupuk mata. Di mataku, Malik tampak sangat profesional, begitu menjiwai perannya. Ciee duuh bunda segitunya muji-muji anak sendiri hehe. Tapi hampir semua orang memang memuji performance Aik. Sampai-sampai ada sepasang suami istri yang matanya mencari-cari orang tua si robot Aik. Lalu aku pun mengangguk dan tersenyum pada mereka. “Kamu orangtuanya?” tanya mereka. “Bagus.Bagus sekali!” katanya sambil memberikan jempol. Deeuuu ge-er dong bunda, sudah pasti hihi.

Duuh anakku, rasanya baru kemarin kutimang-timang, sekarang sudah bisa cari duit sendiri hehe. Sekali tampil, biasanya Malik Cuma kuat 15 menit, dan Malik tampil kurang lebih 4 kali. Kalau ditotal kira-kira Malik tampil satu jam dan ternyata uang yang didapat Aik, taraaa…57 euro! Itu pun belum ditambah uang buat beli boneka dan beberapa mainan. Setelah dihitung dan sebagian disisihkan untuk zakat, besoknya di toko mainan, Malik langsung memilih play mobil dino triceratops. Malik memang lagi koleksi play mobil dino. Wuah seneng banget deh aik dapat play mobil kesukaannya.

Melihat dua kali performance Aik jadi still stand, jadi mbah dukun waktu mini kabaret ‘filosofi semut’, juga saat baca puisi, aku terus bilang gini ke ayah,” Yah kali Aik bakat jadi aktor ye,” hihi. Ayah juga setuju. Tapii…duh enggak lah, mendingan menggeluti jalur akademik ajah kali. Eits bunda…mulai deh ngatur-ngatur anak, ya gimana anaknya aja lah duong. Ya.. pokoknya mau menjadi apapun Ik, asal baik, ayah bunda pasti akan dukung!


Lala Still Stand, Pizza Bezorger




Pernah baca bukunya Andrea Hirata yang berjudul 'Edensor' kan? Naa disana diceritakan bagaimana si Ikal berkeliling Eropa hanya bermodal jadi Still Stand. Still stand ini termasuk performance jalanan, yang kalau tidak salah, ada jurusan sekolahnya juga di Amsterdam.

Kalau Ikal bermodalkan baju ikan heboh dan mewah buatan teman Belandanya, lain lagi dengan Lala. Jauh-jauh hari aku dan suamiku sudah bertanya pada Lala, mau tampil jadi apakah Lala nanti saat koningen dag. Dan jauh-jauh hari pula Lala menjawab mau jadi Flaminggo!

Kebetulan, Lala punya baju warna pink dan stocking pink. Katanya Lala akan memakai baju itu nanti."Tinggal nambahin sayap Bun," kata Lala.

Oke deh...akhirnya hari H tanggal 30 April pun tiba. Ternyata gara-gara melihat adiknya dan ayahnya membuat kostum robot dari dus, Lala langsung berubah pikiran. "Ik wil niet een flaminggo zijn. Ik wil een pizza berzorger," kata Lala yakin. Halaaah bunda nih yang pusing, karena ndak ada persiapan sama sekali. Tapi lala dengan yakinnya menyiapkan kostum sendiri. Kostumnya sederhana banget. Lala cuma membuat dasi untuk bajunya, dan beberapa potong pizza dari karton. Aku dan suamiku sudah berburuk sangka, waah pasti ini nanti Lala ga ada yang liat dan kasih apresiasi nih.

Eeh ndilalah..enggak tuh. Sampai di tempat tujuan, Lala langsung diam tak bergerak sambil memegang pizza, badan sedikit membungkuk dan tersenyum manis. Kalau ada orang memberinya uang, pizza di tangannya langsung bergerak-gerak seolah mempersilahkan orang tersebut untuk memilih pizza. Tak lama sang pizza berzorger pun diam tak bergerak lagi. Haduuh bunda jadi terharu ihiks, lala tampil dengan percaya diri sekali.

Begitulah pizza berzorger yang dilakoni Lala. Dan ternyata alhamdulillah, Lala dapat 20 euro hanya dalam waktu sebentar. Jumlahnya memang kalah banyak dibanding Malik, karena Lala lebih banyak jalan-jalan daripada jadi still stand. Setelah merasa uangnya cukup untuk membeli play mobil yang dia inginkan, Lala pun tak mau lagi jadi still stand. Dus, don't under estimate sama apa pun keinginan dan kreatifitas anak kali ya. Karena ternyata walaupun sederhana, orang tetep mengapresiasi. Mungkin karena semua keluar dari dirinya sendiri maka Lala bisa tampil oke, berekspresi sesuai keinginannya dan begitu percaya diri saat jadi still stand. Goed gedaan Lala!

EBG or ABG ??




EBG = Emak Baru Gede
ABG = Anak Baru Gede

Lebih pantas disebut apakah ibu-ibu ini, EBG or ABG? hehe

Ini kerjaan ibu-ibu narsis yang dengan riang gembira mau banget dijadiin model sama ibu fotografer. Duh senangnya punya teman jago motret, hobi narsis selalu tersalurkan hehe. Thanks mba ine, aku copy paste foto-fotonya nih buat kenang-kenangan kelakuanku selama di Groni hihi. Thanks juga buat Nisa, Senaz n Yeni buat acara seru-seruannya :-). Pokoknya udah siap-siap nih buat next destination, ga inget umur dah xixixi.

Sunday, March 30, 2008

Variasi Menu Sarapan + Belajar Food photography


SAMBAL TAHU

Bahan :
Tahu kuning cibuntu kalo di bandung mah J, kalau disini tahu putih 1 kotak potong kecil-kecil lalu goreng.
Kacang tanah kurang lebih segenggam digoreng
Tauge direbus
Bawang putih 1 biji kecil
Garam secukupnya
Cabe rawit 3 biji kalau mau pedesnya sedang
Bawang merah goreng
Kecap manis
Air matang
Kerupuk
Irisan kocai alias bislok kalo di Belanda

Cara membuat :
1. Tahu kuning dicuci lalu dipotong dadu. Kemudian goreng, tata di piring
2. Tauge dibuang ekor, cuci lalu direbus sebentar. Tata diatas potongan tahu
3. Bawang putih, cabe hijau, kacang tanah, garam ditumbuk kasar, kalo aku mah diblender sajah dengan air panas biar cepet.
4. Bahan yang telah ditumbuk tuang ke atas tauge, lalu tambahkan kecap dan air.

Dimakan pake kerupuk uyel hmm luekeer!

Resep asli: Ibuku tercintah



Manusia Cuma berencana, selanjutnya Allah yang punya kuasa. Aku sama sekali nggak mengira kalau fase lain dari hidupku harus mengalami jadi ibu kos. Dari awal datang ke Belanda aku mementingkan banget privacy soalnya. Tapi karena sesuatu dan lain hal, tahun ini aku ga jadi pulang, dan mau ga mau harus jadi ibu kos. Bener deh Allah tuh kalau mau merubah umatNya, ada aja ya jalannya. Aku yang ga bisa bersih-bersih rumah dan ga tau caranya, lalu ‘disuruh’ jadi tukang bersih-bersih di rumah sakit. Sekarang udah ga di rumah sakit lagi sih, tapi bersihin rumah oma-oma dan opa-opa. Lebih asik malah, karena aku jadi makin tahu gimana orang belanda mengatur rumahnya sehingga jadi rapi jali begitu. Sekarang lumayan deh aku praktekin dikit-dikit di rumahku, walopun rumah masih berantakan karena bingung naro barang segitu banyak (ngeles mode on hehe), tapi at least dapurku rada kinclong lah di banding dulu yang sama sekali tidak terawat hehe.

Naa semenjak jadi ibu kos, aku yang tadinya males pisan masak, paling masak dua hari sekali. Sekarang aku kudu masak pagi sore, dan ga bisa dong cuma satu menu. Berikut yang tadinya aku sarapan ga pernah ala Indo, sekarang jadi kudu belajar masak sarapan cara Indo. Anak-anakku sih tetap bertahan dengan sarapan cococrunchnya, tapi suamiku senang dong karena sekarang sarapannya bervariasi. Walaupun resikonya, dia jadi tambah endut :(.

Sebelum anak kos masuk, aku sempet hunting menu-menu sarapan. Konsul sama nisa ibu ketring van Groningen, sama intan juga tetangga senasib hehe, sama Echa, yang dengan baik hatinya terus posting di MP + ngerangkumnya, dan tentu aja ngumpulin file-file dari milis NCC dan googling-googling. Makasih yaa teman-temanku tercintah :-).

Oiya, habis itu karena sering masak, sayang kan kalo tidak diabadikan, jadilah aku penasaran belajar food photography. Sempet cari-cari arsip diskusi food photography di milis NCC dan tentu aja konsul sama pakar, ibu Ine Hardjanto. Thanks a lot ya mba, ditunggu kritik dan sarannya yaa :-).

Hasilnya yaa buat pemula not bad kali ya hehe menghibur diri dah. Lagian aku jepretnya ga pake kamar SLR, jadi hasilnya kurang tajam biarpun udah dipoles pake photoshop juga. Oiya ternyata cahaya memang penting banget ya, jadi kalo ada yang surem-surem gambarnya, udah dijamin itu pasti fotonya pas lagi mendung atau udah malem. Terus foto-foto yang paling bawah, itu pas sama sekali ga pake elmu food photography, hasilnya beda banget kan.
Berikut ini foto-fotonya dan resep-resepnya, buatnarsis-narissan dan biar gampang dicontek kalo lupa :-). Ada yang mau kasih ide tambahan menu sarapan? Sangat ditunggu loo...

Friday, March 21, 2008

Barbie cake dariku untukku

Kalo ultah, lala ga pernah mau dibikinin kue barbie, padahal sejak lama daku kepengeen banget bikin si barbie ini, ya sud akhirnya aku menghadiahkan diriku sendiri cake barbie ini. Jauh-jauh hari aku udah ngincer pengen beli si loyang barbie, sebab setelah googling-googling cara bikin rok barbie manual, tetep aja ribet karena kudu pake loyang berbagai ukuran, terus dipotong pinggirnya. Bisa juga pake mangkok yang bentuk rok gitu, tapi diriku pun tak punya. Akhirnya nemu loyang ini via jualan di internet, harganya ternyata klo lewat internet miring bener, lumayan jauh sama di toko, ya sud beli saja lah.

Dan menjelang hari H, aku bikin acara menghias cake bersama, sama intan, nisa dan juga Yeni. Tapi kueku hari itu blom jadi karena rieweuh harus anter jemput sekolah dan les berenang anak-anak. Tadinya pengen ngelanjutin menghias malemnya, tapi aku tepar banget. Besoknya pun aku harus ke Zwolle ambil verblijf. Alhasil aku baru lanjutin ngehias kue ini malem tanggal 19. Karena ngerjainnya sambil ngantuk dan capek, jadi beginilah hasilnya sungguh mengecewakan, jelex banget, teu pararuguh. Ya tak apalah yang penting barbie pertama ini bener-bener jadi kubikin. 

Seperti biasa, cake yang aku pake adalah devil's, si coklat cake kegemaranku. Rok nya tadinya ingin kuhias model 2 warna itu loh, pake tip untuk bikin bunga, awalnya sih pas bagian bawah seneng karena lumayan berhasil. Eeeh makin ke atas makin ga keruan bentuk roknya. Butter cream nya habis, aku kudu mencampur warna lagi supaya dapetin warna yang pas, ternyata hasilnya bergerindil pulak, ulang lagi dah. Duuh padahal mata dah sepet. Setelah jadi, aku mulai menghias lagi, lah ko warnanya nyampur-nyampur ga keruan, ga bisa dua warna lagi. Lah ko butter cream nya cepet bener meleleh di tangan ampuun deh (mesti ini karena gula bubuknya kurang, karena emang sengaja dikurangin soalnya kalo engga muanisnya mblengeri). Akhirnya ya sudahlah karena udah ga kuat, udah lewat jam 12 malem, kubikin bener-bener sebisanya aja. Baju atas nya aku bikin pake marzipan. Kesulitan selanjutnya pas masang marzipan di bagian ketek, duuh ampe desperado deh, jadi kututup disana sini deh biar ga keliatan cacatnya. Wah pokoknya ini bener-bener menghias cake tersulit dan ter-complicated dalam hidupku nih (hiyaa hiperbol banget yak :-)).

Yang penting, biarpun hasilnya ga keruan, aku cukup hepilah karena ga pernah-pernahnya aku ultah bikin kue buat diriku sendiri. Berikut, pas ke Zwolle, suamiku kasih hadiah alas buat muterin kue punya si wilton itu loh, yippii...